
sudah enam bulan Anna tinggal bersama dengan Merry juga istri kedua Tuan Edward. sedangkan Tuan Edward hanya sebulan sekali saja datang menemui mereka. Anna sangat senang karena mereka semua peduli padanya dan juga menyayangi nya. hingga saat Tuan Edward datang dan ingin menyampaikan sesuatu pada Anna.
"sayang... bukan kah minggu kemarin sudah datang." ucap istri keduanya.
"apakah kalian tidak senang dengan kehadiran ku. baiklah aku akan langsung pulang saja." Tuan Edward
"bukan begitu sayang... aku hanya bertanya" istri keduanya.
"aku juga bercanda sayang. ini ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan Anna." ucap Edward
"saya paman..." Anna yang mendengar namanya terpanggil.
"iya... ada yang ingin paman katakan padamu. ayo kita disana saja biar suasananya adem" ucap Edward menunjuk taman
"baiklah paman." Anna yang sudah menuntun jalan.
"sayang minta merry untuk membuatkan teh ya" Tuan Edward
Edward langsung mengikuti langkah Anna dan istri keduanya pergi menemui Merry.
"katakan lah paman.." ucap Anna yang penasaran
"ini mungkin mengejutkan mu, tapi paman harap kamu mau menerima nya." Edward
"jika aku sanggup akan aku terima paman" Anna
"paman ingin menikahlah dengan putraku." ucap Tuan Edward.
mendengar itu Anna sangat terkejut sesuai dengan ucapan Tuan Edward, namun Anna masih tetap ingin mendengar kelanjutan dari ucapan Tuan Edward.
"paman tau kamu pasti terkejut tapi paman sungguh. paman ingin kamu menikah dengan putra sulungku. jika kamu masih mengenalnya dulu sewaktu kecil paman selalu datang bersama nya dan kalian akan bermain bersama." Edward
"tapi paman. pernikahan itu bukan sebuah mainan yang baru yang kapan saja bisa kita coba." Anna
__ADS_1
"paman tau. nak.... anggap saja ini sebagai permintaan terakhir paman. ini sebagai amanah paman untukmu. paman percayakan padamu" Edward
"paman... paman tidak boleh berbicara seperti itu. aku tidak bisa melakukan nya. karna kami sungguh tidak saling mengenal paman. jika pun demikian itu sudah lama sekali kami mengenal dan dimungkin sudah melupakan ku." Anna
"nak... paman mohon, paman akan pergi dengan tenang begitu melihat putra sulungku menikah denganmu." Edward
"ada banyak wanita yang mendekati nya namun mereka hanya mencintai hartanya bukan anakku. dan paman yakin kamu akan membawa kebahagiaan untuknya." ucap Edward
"paman... apa yang paman bicarakan. umur paman masih panjang dan paman masih sehat" Anna
"tidak nak.. umur paman tidak akan lama lagi. namun mereka tidak mengetahui ini. paman merahasiakan dari mereka." ucap Edward sambil melihat kearah istrinya dan anaknya.
"paman... aku tetap tidak bisa melakukannya." Anna
"nak... paman mohon pertimbangan kan lah malam ini. paman sungguh hanya berharap padamu sekarang. paman hanya percayakan padamu sekarang nak... besok pagi paman akan tanyakan lagi. dan paman tidak memaksamu tapi paman harap kamu bisa mengabulkan permintaan terakhir paman." ucap Edward lalu meninggalkan Anna
Anna masih tetap tinggal di taman.
"astaga apalagi ini. aku baru saja merasakan ketenangan beberapa bulan ini ada masalah baru lagi. oh Tuhan...." batin Anna
"ahhhh sumpahh rasanya mau gila... bagaimana paman bisa berkata seperti itu... hahhhh..." ucap Anna
"non.... ini ada minuman segar. diminum dulu" ucap merry yang membawakan segelas minuman segar.
"bi... aku ingin bicarakan sesuatu. sungguh paman ingin membuat ku gila" Anna
"saya sudah mendengar pembicaraan kalian non. dan saya rasa Tuan sedikit buru buru mengatakan nya. tapi mengingat umur Tuan mungkin Tuan segera mungkin ingin melihat anak nya menikah." Merry
"maksud bi Merry." Anna
"non... tapi jangan pernah beri tau kepada siapa pun. jika Tuan stadium akhir. tuan mengalami kanker otak saat tuan memeriksakan kedokter sudah didiaknosa stadium tiga. ucap Merry
"bagaimana bisa paman tidak mengetahui nya." Anna
__ADS_1
"Tuan selalu mengalami sakit kepala. setiap malam, tuan merasa itu karena kecapean dan terlalu banyak berfikir dan tuan tidak menganggap itu serius. hingga tuan semakin lama merasakan sakit yang luar biasa tidak seperti biasanya dan tuan meminta aku untuk membawanya ke rumah sakit tahun lalu tuan didiaknosa stadium tiga." ucap Merry
"jadi Tuan berhenti bekerja dan hanya mengontrol nya dari layar saja. dan Tuan ingin putra nya segera menikah. dan tuan percaya dengan non. aku harap non mempertimbangkan nya. dan Tuan tidak akan memaksakan non untuk menerima nya." ucap merry.
Anna pun bingung memikirkan nya. bagaimana bisa dia menikah secepat itu padahal terpikir kan pun tidak pernah. hingga malam itu pun Anna susah tidur hanya karena memikirkan nya.
"astaga..... apa apaan ini... aku tidak bisa tidur. paman membuatku gila." ucap Anna.
"tapi paman sudah sangat baik padaku. dia juga mengatakan itu permintaan terakhir nya."
"ahhhh... paman....... sungguh aku belum ingin menikah dengan siapa pun."
"aish.... sungguh aku tidak bisa menikah tapi menolak paman juga aku tidak bisa. dia bilang ini permintaan terakhir nya."
Anna sungguh tidak bisa berhenti memikirkan nya. tiba tiba seseorang mengetuk pintu kamarnya.
"non... bangun... Tuan dan Nyonya sudah menunggu non sarapan." panggil Merry.
"apa.... sarapan...." Anna terkejut lalu mlihat jendela dan benar sudah terang.
"non..." ucap Merry langsung masuk karena mendengar Anna terkejut.
"bi... ini beneran sudah pagi... bi Merry tidak salah ucap kan. aku bahkan belum tertidur sama sekali." Anna
"non tidak tidur semalaman. apa jangan jangan karena memikirkan ucapan Tuan." Merry
"iya bi... aku sangat bingung..." Anna
"ya sudahhh non mandi dulu dan turun untuk sarapan Tuan sudah menunggu" ucap Merry
Anna pun langsung bergegas mandi dan setelah selesai mandi dan berpakaian. saat berkaca Anna melihat lingkaran matanya sudah menghitam akibat tidak tidur semalaman. Anna pun memakai bedak untuk menutupi nya.
"paman... bibi.... maaf sudah membuat menunggu lama." Anna
__ADS_1
"tidak apaapa sayang... sudah ayo kita mulai sarapan" ucap istri keduanya dengan lembut.
Anna pun makan dengan perasaan yang masih kacau bagaimana jika Tuan Edward bertanya lagi apa yang akan dijawab Anna.