
Anna yang mencoba memberanikan dirinya untuk keluar mencari sesuatu untuk dimakan. karena sejak Anna pulang tidak memakan apa pun, begitu sampai di dapur dan melihat masih ada makanan yang tersisa setelah seluruh anggota keluarga Edward makan. Anna pun dengan lahap memakan nya sampai tidak sadar jika ada yang datang.
"kamu.... sedang apa kamu disini... bukankah kamu sedang dipenjara." teriak Liora yang belum tau kepulangan Anna.
"aku..." Anna hendak menjawab namun Liora tak memberinya kesempatan.
"diam kamu... kamu pembunuhan ayahku.. jangan makan itu... kamu pantas mati...." ucap Liora sambil menumpahkan semua makanan tanpa sisa.
"non..." ucap kepala pelayan itu yang langsung sigap datang begitu mendengar suara piring pecah juga suara Liora teriak.
"dia... kenapa dia bisa ada dirumah.... bukankah dia sedang dipenjara." Liora.
"non... aku juga tidak tau... tapi Nyonya besar yang membawa nya pulang." ucap kepala pelayan.
"bunda...." ucap Liora lalu pergi untuk menemui Nyonya Edward.
"Nyonya tidak apa apa.. ada yang terluka..." ucap kepala pelayan itu.
"tidak bi... aku baik baik saja." ucap Anna
"aku akan memasak sesuatu untuk Nyonya makan.. Nyonya tunggu sebentar ya." ucap kepala pelayan yang tau jika Anna sedang makan namun diganggu oleh Liora.
"tidak perlu bi... aku sudah kenyang..." ucap Anna
"Nyonya ini hanya sebentar" kepala pelayan
"tidak bi.... aku akan langsung kekamar saja." ucap Anna.
"bunda....." ucap Liora yang langsung masuk saja kekamar ibunya.
"ada apa... kenapa membuat bunda terkejut." ucap Nyonya Edward yang sedang duduk di depan cermin sambil mengoleskan beberapa produk kecantikan yang sudah rutin dia lakukan sebelum tidur.
"kenapa dia bisa pulang kesini.." ucap Liora dengan kecepatan tinggi.
"apa yang kamu bicarakan... pelan pelan bunda tidak mendengar nya." Nyonya Edward.
"wanita itu... kenapa dia bisa pulang kesini." Liora.
"maksud kamu Anna..." Nyonya Edward berbicara dengan santai.
"bunda... kenapa bunda bisa sesantai ini... dia sudah membunuh ayah... kedepannya siapa lagi.." ucap Liora.
"bahkan sekarang aset warisan harus jatuh pada keturunan nya... bun... apa bunda tidak berfikir itu sangat aneh... dia bahkan tidak siapa siapa dikeluarga ini." Liora
"bunda tau nak... pengacara ayahmu besok ingin bertemu langsung dengan nya.. kita harus segera membebaskan nya. bunda juga tidak tau kenapa ayahmu melakukan hal seperti itu." ucap Nyonya Edward.
"pokoknya aku tidak mau melihatnya... dia harus diasingkan dari kita... bila perlu dia tinggal dikamar pelayan yang masih kosong." ucap Liora
"tenang sayang... bunda sudah mengatur semuanya..." ucap Nyonya Edward
__ADS_1
"lihatlah kakak juga tidak pulang... mungkin karena dia ada dirumah ini... sungguh pembawa sial." ucap Liora lalu meninggalkan kamar ibunya.
"pembawa sial..." ucap nyonya Edward mengulangi ucapan Liora.
"Selena... apa kamu sengaja meninggalkan nya.. atau karena dia pembawa sial... aku tidak ingin membenci anakmu... karena kebaikan mu dulu. tapi setelah kehadiran nya dikeluarga ku. bahkan suamiku sudah meninggal." ucap Nyonya Edward sambil melihat dirinya dikaca.
Anna kini termenung meratapi nasipnya, namun tiba tiba Anna teringat dengan ucapan seseorang.
"nak... jika kamu tidak tahan... kamu bisa meninggalkan nya." ucapan itu terngiang ngiang dipikiran Anna
"kamu bisa meninggalkan nya." ucapan Tuan Edward.
"apa aku memutuskan untuk bercerai saja... tapi... pada siapa aku akan mengatakan itu. semua orang tidak menyukai ku... bahkan melihatku saja mereka tidak sudi... mengatakan sepatah dua kata pun aku tidak ada kesempatan." ucap Anna yang kini mendapatkan sebuah ide.
"astaga... Tuhan kali ini saja tolong berpihak padaku..." ucap Anna
perutnya masih belum terisi sepenuhnya tapi Anna sudah tidak nafsu lagi. setelah melihat Liora membuang semua makanan dihadapan nya, syurkurnya Anna sudah memakan setengah dari yang Anna senduk di piring nya.
pagi hari itu saat sarapan pagi sudah tersedia di meja makan, satu persatu anggota Edward sudah duduk untuk menikmati sarapan itu.
"kakak mu belum pulang juga??" tanya Nyonya Edward pada Liora.
"tidak bun... selagi wanita itu disini kakak tidak akan pulang." ucap Liora.
"sudah.. sudah... habiskan saja sarapan mu.." ucap nyonya Edward yang tidak ingin ada perdebatan pagi ini.
setelah semua selesai sarapan, Liora langsung pergi ke kampus nya. Inez dan Viana pergi ke sekolah sedangkan Nyonya Edward berdiam diri di dalam kamar nya. namun tiba tiba Nyonya Edward teringat ucapan Liora yang mengatakan Anna pindah kamar di bawah.
"iya Nyonya..." dengan sigap kepala pelayan langsung menghampiri.
"bersihkan kamar tamu yang ada dibawah... dan katakan pada Anna untuk pindah disana." Nyonya Edward.
"baik Nyonya.." kepala pelayan langsung bergegas melakukan perintah itu.
"satu lagi...." ucap Nyonya Edward menghentikan langkah kepala pelayan.
"katakan padanya. saat semua orang sudah tertidur. dia baru boleh keluar dari kamarnya. stok makanan nya akan disediakan dia boleh mengambilnya sesudah semua tidur." Nyonya Edward.
"baik Nyonya." ucap kepala pelayan dan sudah langsung bergegas pergi.
setelah itu Nyonya Edward berniat untuk menghubungi Putra sulung nya itu.
"halo bunda." jawab Adryan
"kenapa tidak pulang nak.." Nyonya Edward
"aku sedang banyak kerjaan bun.. sampai ketiduran di kantor. bunda tenang saja nanti malam aku akan pulang" ucap Adryan
"baiklah nak..." Nyonya Edward.
__ADS_1
"siapa baby... bunda??" tanya Ziva yang baru keluar dari kamar mandi.
"iya..." Adryan
"kenapa??? apa bunda marah sama kamu... kenapa wajahmu murung by." Ziva
"Ziv... aku minta maaf!" Adryan
"astaga... kamu minta maaf untuk apa by... emang kamu ada salah" Ziva
"aku tidak berhasil membujuk ayahku untuk menikahimu." Adryan
"hahaha....(tertawa kecil)" Ziva
"kenapa tertawa... aku serius Ziv." Adryan
"kan sekarang kita bisa menikah... kamu bisa menceraikan dia... paman sudah tenang di sana." Ziva
"tidak semudah itu... semua para anggota di perusahaan sudah tau jika aku menikah dengan wanita itu." Adryan
Ziva yang mendengar itu sangat terkejut.
"bagaimana bisa???" Ziva
"pengacara ayah... dia mengungkapkan semua di rapat pengesahan ahli waris." ucap Adryan
"lalu aku bagaimana???" Ziva
"aku... baby.... aku bagaimana??" ucap Ziva
"Ziv tenang lah.. aku tidak akan meninggalkanmu... aku akan selalu ada buat kamu..." Adryan
"kamu bohong Adryan.... katamu aku yang akan jadi istri satu satumu..." Ziva
"aku tidak bisa berbuat apa... bahkan setelah ayahku mati. aku masih belum bisa mengendalikan apapun" Adryan
"lalu apa gunanya kamu sebagai pewaris..." ucap Ziva
"aku bukan pewarisnya..." Adryan
"tapi anakku dari Anna yang menjadi pewarisnya." lanjut Adryan.
"apa??? anak??? dari Anna dan kamu??? hahaha....." Ziva
"apa kaku sedang bergurau dengan ku... adryan ini bukan saat nya bercanda." Ziva
"aku bersungguh sungguh.... ayahku berpesan pada pengacaranya. dan sudah menuliskan surat itu diatas tanda tangan ayah... aku bisa apa Ziva... aku ingin memberontak tapi bagaimana???" Adryan
"tinggalkan aku sendirian... biarkan aku sendiri dulu.." Ziva
__ADS_1
"Ziv... jangan seperti ini aku hanya mencintai mu...' Adryan
"yah... aku tau.. tapi biarkan aku menyendiri dulu Adryan." ucap Ziva.