
Anna yang menyembunyikan kehamilannya dari semua orang, dan satu pun yang tinggal disana juga tidak ada yang mencurigainya. Liora yang sudah membukakan hatinya untuk Anna, dan selalu mensupport Liora juga selalu membawakan Anna buah buahan untuk kebutuhan nutrisi nya.
"kamu tidak perlu repot repot membawakan itu semua." Anna
"tidak ada yang melarang ku..." Liora.
"lalu apa rencana mu kedepannya... masih tetap ingin menyembunyikan nya..." Liora
"emmm.." Anna
"katakan alasannya... baru aku akan merahasiakannya juga.." Liora
"aku akan tetap bercerai..." Anna
"lalu bagaimana dengan janin mu... apa kamu akan membiarkan nya lahir tanpa ayah... sedangkan Ziva melahirkan anak yang bukan anaknya kak Ryan." Liora keceplosan
"aku tidak akan membiarkan itu." Liora
"apa yang barusan kamu bicarakan..." Anna terkejut mendengar nya
"apa maksud nya anak itu bukan anaknya Adryan." Anna
"iya... tapi kamu diam... jangan ada yang mengetahuinya dulu... karena aku belum cukup bukti.." Liora
"kamu sungguh..." Anna
"iya... aku mencurigai nya sudah sejak lama.. tapi aku belum juga menemukan bukti apa pun." Liora
Anna berpikir sejenak.
"jika yang Liora katakan benar... lalu aku harus apa.. ini memang sungguh anak nya... dan bayi yang Ziva kandung bukan anaknya..." Anna
"makanya... rencana ku untuk sementara... kita tetap merahasiakan janin mu dulu... sampai aku menemukan bukti nya baru aku akan mengatakan yang sebenarnya." Liora
"dan kamu tidak boleh mengelak... paham" Liora
siang itu Liora mengajak Bima untuk bertemu di cafe tempat biasa mereka sambil mengerjakan tugas. sebenarnya Liora tidak ada tugas hanya saja Liora ingin segera menemukan bukti supaya tidak berjalan lebih dalam atas kebohongan Ziva.
"kak ini... sumpah aku pusing memikirkan tugas ini" Ziva
"ck... kenapa kamu jauh berbeda dengan Ryan.. dia sungguh jenius tapi kamu..." Bima
"kak bimm..." Liora sedikit berteriak
"hahaha.... aku hanya bercanda... aishhh... " Bima
Bima pun dengan serius membantu menjelaskan dan mengajari Liora, namun Liora juga berpura pura mengerti. saat itu Liora sudah tau jika ibunya dan Ziva sedang belanja kebutuhan popok untuk calon anaknya Ziva. dan Liora mencari alasan untuk mereka bisa berpura pura berpapasan disana.
"kak sudah selesai..." Liora
__ADS_1
"wahh... tumben kali ini cepat." Bima memuji Liora padahal tugas itu sudah selesai seminggu yang lalu bersama Anna
"emm... " Liora
"kak aku ingin belanja sesuatu... kakak temani aku ya" Liora
"hemm...(melihat jamnya) seperti masih ada waktu.. ya sudah kakak temani.." Bima
"gooo!!!" Liora dengan semangatnya
mereka tiba cepat di mall yang biasanya ibunya suka belanja, dan Liora mengajak Bima berkeliling dan ketoko kebutuhan bayi.
"astaga... kamu mau belikan apa sih Lio.." Bima yang kelelahan.
"sebentar kak... aku mau... (melihat Ziva)" Liora
"ketemu... aku mau membeli itu.." ucap Liora menunjukkan boneka
"ya sudah ayo..." Bima
Liora perlahan lahan mendekat kearah ibunya, sementara Bima tidak menyadari nya.
"kak bagaimana yang ini." ucap Liora dengan suara keras supaya terdengar oleh ibunya dan Ziva
"bagus... tapi untuk seusia mu tidak cocok... itu untuk anak anak.." Bima
"emm... yang itu.." menunjukkan yang lebih besar.." Liora
"baiklah pak... silahkan tunggu sebentar ya" ucap SPG itu dengan lembut.
"kak.. yang ini bagus..." lagi lagi Liora bicara seperti teriak.
"suaranya..." Bima
"Lio..." ucap Nyonya Edward yang sedari tadi mencari sosok suara Liora dan menemukan nya.
"yesss... berhasil." batin Liora
"bunda... kak Ziva..." Liora akting.
"ehh... ada nak Bima juga.." Nyonya Edward
"tante..." sapa Bima dan melihat kearah Ziva dengan penuh kerinduan.
"kalian sedang apa..." Nyonya Edward
"aku sedang mencari sesuatu bun... bunda bagaimana sudah menemukan keperluan itu." Liora
"ya sudah kalau begitu kalian lanjutkan saja... bunda dan Ziva masih mencari keperluan itu." Nyonya Edward.
__ADS_1
"kita ikut saja bun.. boleh.." Liora
"tidak masalah.." Nyonya Edward
"Ziva saat sedang hamil semakin cantik" batin Ziva
"Bima kenapa kamu mendekati Liora... bukankah kamu berjanji untuk tidak mengganggu ku lagi. dengan kamu mendekati Liora itu sudah mengganggu ku" batin Ziva
"selamat datang..." ucap SPG menyambut mereka
"sedang mencari apa Tuan dan Nyonya... biar kami bantu mencari nya." SPG
"kami mencari popok untuk calon cucuku ini (mengelus perut Ziva)" Nyonya Edward
"baiklah... silahkan tunggu disini" SPG
"cari yang paling bagus dan kualitas yang bagus juga." ucap Bima
"ahhh iya benar... yang paling bagus.." ucap Nyonya Edward
"kamu pintar sekali nak... untuk kamu mengingatkan nya" Nyonya Edward
lalu setelah beberapa waktu para SPG itu membawa beberapa set popok bayi dengan kualitas bagus. dan mereka pun sedang bingung memilih.
"yang ini bagus... ini juga... ini... sepertinya cocok untuk anak laki laki... nah ini juga" ucap Bima yang memilihkan.
"tidak... aku tidak suka" Ziva tiba tiba memasang muka mesem
"tapi ini bagus nak... Bima memilihkan yang pas.. bunda juga setuju." Nyonya Edward
"iya.. aku juga suka.. lagian kan yang mengenakan nya sibayi bukan kak Ziva." Liora
"aku ikut bunda saja.." jawab Ziva
"ya sudah... bungkus yang tadi di tunjuk ya" Nyonya Edward
setelah lama mereka pun akhirnya sudah menemukan semua kebutuhan itu, dan memutuskan untuk pulang karena Ziva kelihatan kelelahan.
"tante... biar aku saja yang mengantar pulang..." Bima menawarkan diri
"ya sudahh... nak bim terimakasih ya... untung hari ini kamu ada..." Nyonya Edward
"hehe... tante berlebihan.." Bima
mereka pun kini tengah perjalanan pulang namun Liora yang melihat reaksi Ziva saat awal mereka bertemu di mall sangat bete. berbeda dengan sebelum mereka bertemu Ziva tampak senang dan gembira memilih milih pakaian bayi itu.
mereka pun tiba di mansion dan para pelayan segera datang membantu membawakan barang barang itu dari bagasi mobil. sedangkan Ziva yang kesulitan keluar karena kelelahan, dengan sigap Bima datang ingin membantu nya. namun tangan Bima langsung ditepis oleh Ziva hal itu pun terlihat oleh Liora.
"kenapa kak Ziv... kak Bima hanya ingin membantu tapi malah ditolak." ucap Liora yang semakin hari semakin kesal dengan wanita yang tengah hamil tua itu.
__ADS_1
"bukan bermaksud seperti itu Lio..." ucap Ziva yang akhirnya mau dibantu oleh Bima.
"dasar wanita licik... jelas jelas itu ayah dari bayimu... kamu jahat Ziva... Bima begitu peduli dan perhatian padamu... semua orang bisa kamu tipu... tapi tidak dengan aku..." batin Liora.