Aku Menikahi Tuan Es?!

Aku Menikahi Tuan Es?!
Chapter 10


__ADS_3

"Astaga.. Bagaimana ini?." Gumam Lynn pelan, berjongkok berharap Krisan mau pun Alfred tidak melihat dirinya, lupa kalau tadi Krisan menatap dirinya.


"Emang apa? Cepat turun sebelum aku naik kesana!." Suara Alfred menyadarkan Lynn akan kenyataan, dirinya belum mematikan panggilan suaraa itu sehingga Alfred bahkan bisa mendengar gumamannya.


"Be-berikan aku waktu buat ganti baju dulu!." Sanggah Lynn mengulur waktu sebisa mungkin.


"Tidak perlu, cepat turun sekarang juga. Ku tunggu dalam 5 menit." Alfred mematikan teleponannya secara sepihak, menatap tepat ke teras Lynn.


Lynn ingin sekali berteriak, berdiri dari jongkokannya berlari kedalam, Lynn melepaskan celemek yang dipakai dan menaruhnya di kursi. Yasmin dan Mina bergosip sambil melihat kearah Lynn.


"Kamu tau gak tadi aku dengar suara cowok." Ledek Yasmin mengedipkan sebelah matanya pada Mina.


"Aahh.. begitu toh..." Mina tersenyum mengejek tapi tidak digubris Lynn.


"Min, Sup-nya udah masak, kan? Nanti dihabisin, aku mau keluar dulu. Gak usah di tunggu." Kata Lynn memasang sepatunya dan berlari keluar.


Mina dan Yasmin tertawa terbahak-bahak, ini pertama kalinya mereka melihat Lynn terburu-buru sampai-sampai rambutnya disanggul pun lupa Lynn turunkan.


Melihat pintu lift hampir tertutup, Lynn mempercepat langkahnya tapi pintu keburu tertutup bahkan sebelum tangan Lynn menjangkau pintu lift.


"Jahat, dasar jahat." Gerutu Lynn, berahli ke pintu darurat dan menuruni anak tangga. Lynn berlari secepat yang dia bisa.


"Hosh.. hosh..."


Lynn menarik napas dalam begitu dia sampai didepan mobil milik Alfred, mata bulat Lynn menatap Alfred kesal.


"Hosh.. Ini gak- Hosh.. adil." Kata Lynn, Krisan membukakan pintu samping untuk Lynn, tapi tidak dihiraukan Lynn.

__ADS_1


Lynn membuka pintu depan dan langsung duduk di kursi depan, Lynn lelah berlari tidak menyadari kalau Alfred menatapnya tajam.


"Krisan." Panggil Alfred.


Mata Alfred berwarna gelap dan tajam melirik Krisan, Krisan tidak mengerti dimana letak kesalahannya malah terbengong membiarkan pintu terbuka.


Krisan tersadar berlari memutari mobil dan mengambil tempat duduknya, mobil berjalan meninggalkan tempat parkiran. Lynn tidak suka akan kesunyian mencoba menghentikan keheningan berkelanjutan ini, mata Lynn melirik kaca depan, memantulkan bayangan Alfred sibuk berkutik di tablet hitam tangan kanannya.


Alfred  merasa mendapat tatapan matanya berahli ke depan, Lynn mengalihkan matanya takut ketahuan sedang mengintip.


"Tuan Krisan, kita bakal langsung pergi ke rumah Mama Hana?." Lynn membuka percakapan berniat mengalihkan perhatian, agar Alfred tidak menatap dirinya lagi dengan tatapan curiga.


"Tidak, Nona Lynn. Kita bakal pergi ke butik dulu baru ke rumah Tante Hana." Jawab Krisan tanpa mengalihkan tatapan matanya fokus pada jalan raya.


"Oh.. Untuk apa kita ke butik?" Lynn yang penasaran menatap Krisan, mata Lynn berbinar ingin tau.


Menurut Alfred, dirinya kesal  itu hanya ada satu alasan itu karena Krisan melupakan pekerjaan utamanya, mata Alfred menatap tajam Krisan.


"Tentu saja memberikan hadiah untuk Tante dan menganti pakaian." Jawab Krisan, kening Krisan mengkerut, dia merasa lehernya terasa panas dan menusuk.


Krisan memegang lehernya, matanya berputar ke kaca, mata Krisan dan mata hitam milik Alfred saling melakukan kontak mata. Krisan bisa melihat kalau Alfred menatapnya tajam, Krisan sudah paham arti tatapan Alfred menelan salivanya dengan kasar.


"Hebat sekali Krisan, kau baru bertemu dua kali dengannya tapi sudah sangat akrab?" Terjemahan dari tatapan Alfred, mulut Krisan tertutup rapat.


" Tuan Krisan, ap-"


"Ki-kita sudah sampai." Krisan memotong perkataan Lynn, dia tidak mau masalahnya menjadi lebih rumit lagi nanti hanya karena jawaban yang dirinya sendiri berikan.

__ADS_1


Lynn melihat keluar, didepannya terdapat butik berbagai macam model pakaian boneka manekin tersusun rapi dikaca depan butik.


Alfred keluar dari mobil, Lynn juga ikut turun. kepala Lynn celinguk kekiri kekanan mengamati setiap pakaian yang dipajang mau pun di gantung. Lynn menepuk pipinya agar tidak terpesona terlalu lama karena itu bisa mengakibatkan uangnya pergi sia-sia. Lynn melihat Alfred yang masuk, mengekorinya dari belakang sambil melihat-lihat.


"Selamat datang." Sapa pelayan, Alfred sama sekali tidak peduli berjalan melewati pelayan itu dan mengambil tempat duduk.


"Ambilkan satu set pakaian dan sepatu untuk dia." Jari telunjuk Alfred menunjuk Lynn, Lynn mengedipkan matanya berkali-kali bingung, tangannya menunjuk dirinya sendiri bingung.


Pelayan itu tersenyum profesional, dua orang pelayan berdiri disampingnya. Dua pelayan itu mengantarkan Lynn berganti pakaian di ruang fitting.


Alfred menyanga wajahnya dengan tangan kirinya, bola matanya berputar malas mengamati sekelilingnya, apakah ada barang yang cocok dan bagus untuk diberikan pada Mamanya.


"Sudah selesai, Tuan." Kata Pelayan, Alfred mengalihkan matanya kearah suara pelayan itu.


Lynn berjalan keluar, melangkah pelan-pelan lalu berhenti sebentar dan melangkah lagi karena sepatu hak tinggi yang dipakainya membuat tubuhnya tidak seimbang, Lynn berdiri canggung mempertahankan posisinya tetap seimbang sebab dia belum pernah memakai sepatu hak tinggi sebelumnya.


Lynn menggunakan mini dress, atasnya berwarna hitam dan bawahnya berwarna putih, dress yang memperlihatkan seluruh bagian bahu Lynn berpadu dengan sepatu hak tinggi berwarna hitam.


"Bagaimana? Dia sangat cantik bukan? Walaupun wajah aslinya sudah cantik tapi kami hanya memberikan sedikit polesan, Nona ini langsung berubah menjadi seperti bidadari!. Anda benar-benar sangat beruntung Tuan." Puji pelayan itu penuh kesungguhan.


"Kenapa aku merasa itu, bahkan lebih jelek dari yang tadi dia pakai?." sarkastik Alfred tersenyum dingin.


Drett...


Alfred mengeluarkan benda pipih yang berbunyi nyaring itu dari saku celananya dan berjalan pergi menjawab telepon.


"Apa sih mau orang itu?" Gumam Lynn pelan, pelayan tadi terdiam membatu tidak tau harus berekspresi seperti apa.

__ADS_1


__ADS_2