Aku Menikahi Tuan Es?!

Aku Menikahi Tuan Es?!
Chapter 85


__ADS_3

...~Peringatan!!~...


...Pada chapter ini terdapat bagian yang dapat memicu trauma atau emosi tinggi, bagi yang berdarah tinggi harap mundur!!...


Harap bijak dalam memilih bacaan!


... ...


...🍒...


Krak


Suara kering dimana kaki bertabrakan dengan ranting dan daun besar yang jatuh berserakan ditanah.


"Ini sangat keren." Gumam Lynn mengamati sekelilingnya.


Ini pertama kalinya Lynn berjalan didalam hutan sambil menikmati pemandangan asri, sesaat Lynn sedang memikirkan sesuatu, kakinya terus melangkah tanpa menyadari kalau Alfred tengah berhenti.


Bug


"Aduh... Itu tubuh apa batu sih!" Ringis Lynn menutupi hidungnya.


Alfred tidak mengubrish Lynn, memasang wajah datar, dia sama sekali tidak melirik Lynn.


"Krisan, kamu harus ingat jalan pulang berada dimana. Jika tidak akanku pastikan kamu tidak akan tenang." Ancam Alfred menarik garis lurus dilehernya.


"Ki-kita sudah sampai." Krisan terkekeh pelan, menatap Alfred meminta keringanan.


"Kumpulkan kayunya disini, ayo kumpulkan kayunnya!" Titah Krisan.


"Akanku hilangkan acara tidak berguna ini!" Kata Alfred dingin.


"Ha ha ha..." Krisan terkekeh lucu.

__ADS_1


Alfred mengabaikan Krisan, memungut kayu yang menurutnya layak untuk digunakan sebagai kayu bakar, Lynn berjongkok mengumpulkan kayu menjadi satu tumpukan.


"Apa semuanya sudah terkumpul?" Tanya Krisan.


Lynn dan beberapa rekan lainnya menganggukkan kepala, mengiyakan pertanyaan Krisan.


"Baiklah, ayo kita kumpul lagi bersama yang lain." Ujar Krisan mengangkat tumpukan kayu ditangannya.


"Sekertaris Lynn!"


Lynn yang sibuk memandangi pemandangan sekitar sebelum pergi, dikejutkan dengan sebuah rangkuran dipundaknya.


"Sinta?" Kata Lynn tidak percaya.


Sinta memiringkan kepalanya tersenyum tipis tidak mengerti tatapan mata Lynn.


"Kenapa? Apa ada sesuatu diwajahku?" Tanya Sinta menyentuh wajahnya.


Lynn mengelengkan kepalanya, dia tidak tau harus bagaimana mana merespon tindakan Sinta. Sementara Lynn sibuk dengan pikirannya, dia tidak sadar kalau hanya tinggal dirinya dan Sinta berdua.


Lynn tersenyum canggung, dia bingung akan sikap Sinta. Padahal kemarin Sinta melempar dirinya dengan bola dan sekarang Sinta menempel padanya seperti prangko.


"Eem... Sin-"


"Sekertaris Lynn lihat ada burung cantik dipotong itu." Sinta menarik tangan Lynn mendekati pohon besar.


Kayu bakar yang ada ditangan Lynn jatuh berserakan akibat tarikkan Sinta.


"Astaga! Maafkan aku! Aku gak sengaja!" Jerit Sinta membantu Lynn memungut kayu.


"Tidak apa-apa kok." Lynn tersenyum tipis.


Begitu selesai memungut kayu, Lynn memandangi burung yang bertengger diatas dahan pohon.

__ADS_1


"Burung apa itu? Kok baru pertama kalinya aku melihat burung ini." Lynn mengerutkan keningnya.


Lynn berjalan mendekati pohon besar, mengelurkan tangannya menyentuh pohon. Lynn menatap kebawah ditepi pohon ada sebuah jurang dan Lynn tidak tau berapa ketinggian dari jurang itu, Memilih untuk mundur kebelakang.


"Itu namanya... Burung kematian." Jawab Sinta tersenyum lebar.


"Apa?"


Dorongan datang dari belakang dan tubuh Lynn tiba-tiba melayang bersiap jatuh kebawah. Lynn menutup matanya rapat-rapat, dia tidak tau apa dirinya akan selamat atau tidak dari jurang ini.


"Tidak! Aku belum mau mati!" Gejolak hati Lynn memberontak.


Lynn membuka matanya tekad untuk hidup membuat otaknya berpikir kritis, mengulurkan tangannya mencoba meraih apa pun agar tubuhnya tidak terjatuh.


Sebuah akar panjang, Lynn menangkap akar pohon membuat tubuhnya berputar melawan arah.


"Ugh..." Lynn mengertak, tangannya terasa pedas dan perih akibat gesekan.


"Huuuu..." Lynn mengambil napas dalam-dalam beban berat menumpuk ditelapak tangannya.


Lynn menoleh keatas menatap akar pohon yang akan putus kapan pun, Lynn mengigit bibirnya rasa perih cukup menusuk dan itu membuat Lynn ingin melepaskan pegangnnya.


"Tidak! Kamu harus bertahan!" Teriak Lynn menguatkan cengkramanya.


Sekarang hidupnya bergantung pada seutas akar, jika itu patah maka dirinya juga akan patah seperti pohon rusak.


Lynn mengigit bibirnya hingga berdarah, Lynn menutup mulutnya dan bernapas pelan. Walaupun jurang ini kelihatan tidak dalam tapi itu cukup untuk mematahkan beberapa tulang rusuk Lynn.


"Astaga kenapa kamu tidak jatuh?" Keluh Sinta tersenyum kecut.


"Apa kamu perlu bantuan?"


"Tidak-tidak Sekertaris Lynn kan hebat jadi, dia tidak memerlukan bantuan." Sinta berbalik menjawab pertanyaan yang diajukannya sendiri.

__ADS_1


"Aku akan dengan senang hati membantumu." Sinta merogoh saku celananya.


Sebuah pisau lipat, Sinta tersenyum jahat. Berjongkok mengikis akar secara perlahan-lahan.


__ADS_2