Aku Menikahi Tuan Es?!

Aku Menikahi Tuan Es?!
Chapter 23


__ADS_3

Alfred turun dari mobil, mengulurkan tangan kanannya pada Lynn sementara tangan kirinya memegang payung. Lynn menghela nafas turun dari mobil, berjalan berdampingan dengan Alfred.


Hana yang memangku seorang anak kecil, melihat Lynn dan Alfred, menggendong anak kecil itu menghampiri mereka berdua.


"Astaga, sayang apa kamu kehujanan? Kenapa pakaianmu basah begini?" Tanya Hana cemas, Lynn menyelipkan anak rambutnya bingung.


"Matamu kenapa bengkak begini? Apa dia membuatmu menangis?" Hana melemparkan tatapan tajam pada Alfred.


"Sudahlah, nanti baru penjelasannya. Lynn, sayang harus ganti baju dulu supaya nanti gak demam." Hana membawa Lynn pergi berganti baju, menitipkan anak kecil yang dia gendong pada Alfred.


"Paman Al, Siapa kakak itu?" Tanya anak kecil yang berumur 5 tahun, jarinya tangannya kecil dan pendek menunjuk ke arah Lynn, namanya adalah Bastian Kernes.


"Manusia." Jawab Alfred cuek, membawa Sebastian duduk disofa, memberikan robot berwarna hitam.


Bastian mengembungkan pipinya yang berisi, melipat tangannya kesal pada perkataan Alfred.


Alfred menyandarkan badannya ke sofa, menutup matanya, tidak sadar kalau Bastian sudah turun dari sofa dan berjalan pergi.


Lynn berdiri membelakangi Hana yang sibuk mengobrak-abrik lemari pakaiannya, Lynn memperhatikan air hujan yang mengembun di jendela yang tertutup.


"Lynn, kamu bisa memakai baju ini, mama rasa itu akan pas ditubuh Lynn." Hana tersenyum penuh keibuan, Lynn mengambil baju itu tersenyum lembut.


"Kamu bisa mengantinya disini, Mama akan menunggu diluar." Hana berjalan kerah pintu, menarik gangang pintu mau keluar, tangan Hana berhenti karena panggilan Lynn.


"Mama bisa memanggil aku Eve." Ucap Lynn malu-malu, menutup setengah dari wajahnya menunggunakan baju yang tadi.


Hana melongo sebentar, senyuman lebar terbit menghiasi wajah Hana yang sudah mulai keriput.


"Baiklah Eve, Mama akan menunggu diruang tamu." Hana menutup pintu membiarkan Lynn berganti pakaian dengan nyaman.

__ADS_1


Hana bersenandung senang, akhirnya dirinya berhasil membuat Lynn membuka hatinya untuk dirinya. Hana tertawa pelan mengingat kembali wajah Lynn yang malu-malu.


"Loh... Freddy, mana Bastian kecil?" Tanya Hana, Alfred membuka matanya melihat ke samping.


"Astaga, apa kamu membiarkannya sendirian?" wajah Hana langsung berubah menjadi panik, Alfred mengacak rambut, inilah alasannya kenapa dia tidak terlalu suka dengan anak kecil.


"Merepotkan." Gumam Alfred, berjalan pergi menuju kamarnya, Hana menghela nafas melihat sikap putranya yang tidak berubah sama sekali.


"Nenek."


Hana memalingkan pandangannya kearah suara, bernapas lega karena sekarang Bastian berada digendong Lynn.


"Bastian, kemana saja kamu? Nenek sangat khawatir tau.." Hana mencubit pipi Bastian, gemas.


"Aku pergi mencari kakak cantik ini." Bastian memeluk Lynn, mebenamkan wajahnya dileher Lynn.


Bastian yang berada digendongan Lynn meminta turun, berlari memeluk kaki Hana. Memasang wajah paling imutnya.


"Nenek, Kakak ini sangat cantik, Apa Tian boleh menikah dengan Kakak ini?"


Hana melongo menatap Bastian, Lynn berjongkok agar dia bisa meratakan tinggi badannya antara Bastian, mengelus kepala Bastian.


"Siapa yang menga-"


"Oh.. Paman Wendy." Saut Bastian, berlari memeluk Wendy yang baru pulang entah dari mana.


"Hei... Bas, siapa yang membawamu kemari?" mengacak rambut Bastian, mengecup pipi Bastian.


"Paman-paman, Tian bakal menikah." Bastian menarik-narik ujung baju Wendy, Wendy terkekeh pelan mendengar ocehan Bastian.

__ADS_1


"Benarkah? Siapa dia?" Tanya Wendy tidak sadar akan tatapan tajam dari Hana, Bastian mengangkat jari tunjuknya kearah Lynn.


"Kenapa leher belakangku terasa menyengat." Kata Wendy dalam hatinya, menyentuh leher belakangnya, melihat kearah dimana Bastian menunjuk.


Kini dia baru sadar kalau Lynn tengah berdiri di hadapannya memperhatikan interaksi dirinya antara Bastian.


Bastian melirik Lynn, "Kakak apa kamu mau bermain dengan Tian?"


Meraih tangan Lynn, memasang mata berbinar-binar. Lynn yang mendadak diserang, menggendong Bastian pindah ke sofa dimana banyak sekali mainan Bastian yang bertaburan.


Wendy tersenyum bentar, dikejutkan dengan tepukan keras yang datang dari belakang bahunya. Wendy meringis kesakitan melihat siapa orang yang berani memukulnya ini.


"Jadi kamu biang keroknya." Hana tersenyum jahat menatap Wendy dengan tatapan seram, Wendy yang tidak tau apa-apa menelan salivanya dengan kasar.


Ditempat lain


Arga membuka pintu kamarnya dengan keras, dikepalanya masih terngiang-ngiang dimana Lynn tengah bersama seorang pria lain entah pergi kemana menggunakan mobil pria itu.


Dirinya yang berlari pulang mau mengecek kebenaran dari perkataan Lynn, berhenti berlari karena hujan mendadak turun. Arga berbalik menuju supermarket membeli payung dan menyusul Lynn.


Arga memukul meja belajarnya, seandainya dia mengejar Lynn lebih cepat atau dia maju lebih dulu menghentikan Lynn naik ke mobil pria asing itu.


"Argh.. Sialan." Arga mengeram kesal, melirik keluar jendela, diluar masih hujan deras.


Arga mendudukkan dirinya di kursi, memijat keningnya. Matanya tertuju pada laptop yang ada disamping tangan kanannya, Arga membuka laptobnya tangannya bergerak menggerakkan mouse membuka e-mailnya


Deg... Deg...


Jantung Arga berdetak sangat kencang, menunggu tampilan dari layar laptobnya.

__ADS_1


__ADS_2