Aku Menikahi Tuan Es?!

Aku Menikahi Tuan Es?!
Chapter 109


__ADS_3

"Kenapa?" batin Alfred, suaranya tertahan diujung lidah.


Marah dan sakit tertusuk pisau bercampur menjadi satu, Alfred tidak bisa menggambarkan bagaimana perasaan dihatinya. Alfred tidak suka cairan bening turun dari mata Lynn, rasanya dia ingin menghapusnya dari wajah Lynn.


Amarah meletup-melutup, bara api menyala tajam di mata Alfred, dia bahkan belum pernah membuat Lynn menangis. Rasanya dirinya kalah, tertinggal jauh dari pria yang berdiri di depan Lynn. Langkah lebar mendekati Lynn, Alfred mendorong pria yang ada didepan Lyn.


Kemunculan Alfred yang tiba-tiba mengejutkan Lynn, Lynn tambah kaget, Alfred menyembunyikan Lynn dibelakang tubuh Alfred, Lynn tidak bisa melihat kedepan.


"Apa kamu tidak malu, membuat seorang wanita menangis?" Alfred menatap pria didepannya dingin.


Pria itu mundur tiga langkah, tidak tau dimana letak kesalahannya, menatap Alfred. Memperhatikan Lynn bersembunyi dibelakang punggung Alfred membuatnya tambah jengkel bercampur kesal.


"Kamu siapa? Jangan mengangguku, b******!" maki pria itu.


"Siapa yang kau panggil dengan sebutan itu?!" tegas Alfred menyentuh pelipisnya.


"Kau." Pria itu menunjuk wajah Alfred.


"Tunggu!" teriak Lynn, menengahi keduanya.


Menatap Alfred tajam, mendorong Alfred menggunakan jari telunjuknya. Tubuh Alfred tidak bergerak sama sekali, bahkan dia masih berdiri ditempat tadi.


"Kau itu muncul dari mana? Lalu kenapa kamu menanggu pembicaraanku dengan Kak Dav," protes Lynn, menunjuk Alfred lalu menunjuk Dav.


"Aku cuma mau membantu-"


"Membantu apanya? kamu bahkan tidak tau situasinya!" Lynn memotong perkataan Alfred dengan galak.


Alfred tersenyum dingin, dia lupa siapa wanita didepannya. Wanita yang tidak mau mengaku kalah dan tidak suka kalau orang lain mencampuri urusannya. Otak dari keras kepala dan tidak ada yang bisa menghentikan dirinya jika dia sudah mulai keras kepala.


"Aku adalah bosmu, jadi sebagai atasan yang baik jawab pertanyaan yang aku ajukan!"

__ADS_1


"Sejak kapan kamu menjadi atasan yang baik?" cetus Lynn menyipitkan matanya mempertanyakan ucapan Alfred.


"Apa?"


"Sudahlah, aku ada urusan. Aku akan pergi bersama Kak Dav dan kembali ke hotel sendiri nantinya," Lynn merangkul Dav berjalan pergi.


Dav menoleh kebelakang, menertawakan Alfred berdiri seorang diri dibelakang. Alfred mengeraskan rahangnya, ingin sekali melayangkan tinju di wajah pria itu dan meninggalkan beberapa bekas lebam diwajahnya.


...🍒🍒🍒...


Alfred berdiri di dekat jendela, kaca memantulkan bayangan jam menunjukkan pukul 9 malam, lantas jalanan masih belum kehilangan cahaya dan kebisingannya.


Alfred keluar dari kamarnya, berjalan-jalan ditaman hotel, rasa kantuk belum menyerang dan Alfred sudah mencoba membaringkan tubuhnya namun otaknya menolak untuk istirahat.


"Makasih Kak, untuk makan malamnya, hati-hati di jalan." Lynn tersenyum antusias melambaikan tangannya.


Dav melambaikan tangannya, memasukkan tangannya kedalam saku celana, begitu melihat Lynn sudah tidak terlihat lagi di dalam penglihatannya.


Alfred berdiri dibelakang Davan, mengakui kecepatan Dav dalam menangapi keberadaan dirinya padahal Alfred berjalan tanpa mengeluarkan suara apa pun.


"Kamu itu siapa?" tanya Alfred.


"Aku adalah Dav dan aku adalah cinta pertama Eve-ku," bangga Dav, membalikkan tubuhnya.


Kening Alfred berkerut, kata cinta pertama seperti duri dan racun lama di masa lalu, namun tidak semua orang bisa lepas atau mau melepaskan dirinya dari cengkraman masa lalu, orang selalu bilang cinta pertama sangat sulit untuk dilupakan.


"Bagaimana kamu bisa bertemu Eve-ku?" Dav memiringkan kepalanya, menatap Alfred dari atas hingga kebawah.


"Eve-mu?" ulang Alfred, suhu malam tidak lagi terasa dingin di kulit Alfred.


"Yah, dia adalah Eve-ku. Aku sudah bersama saat dia baru tingginya segini, aku baru bertemu dengannya lagi setelah sekian lamanya dandia sudah bertambah tinggi lagi." Dav mengangkat tangannya setinggi pinggangnya lalu menaikannya setinggi dadanya, menunjuk perbedaan tinggi badan Lynn.

__ADS_1


Alfred mengertakkan giginya kesal, dia tidak mau mendengarkan cerita tentang Lynn dari mulut pria lain, dan Alfred mau memperbaiki tata bicara Dav. Hanya saja dia masih mengingat dengan jelas ketentuaan yang berlaku diatas kertas.


"Aku ingin mengucap terima kasih karena sudah bersamanya selama ini, walaupun kamu itu atasan Eve. Kamu tidak berhak mencampuri kehidupan Eve-ku" Dav tersenyum halus tanpa noda, matanya juga tampak melengkung indah.


"Berhenti memanggil Lynn dengan sebutan milikku ...," Alfred terhenti melanjutkan perkataannya dalam hatinya.


"Karena sebenarnya dia adalah istriku!" batin Alfred.


"Kenapa, Eve kecil tidak pernah menceritakan apa pun? Aku akan mengajaknya bertemu ayah ... sampai jumpa!" Dav berbalik, melambaikan tangannya pada Alfred.


"Bertemu ayah? Kamu pikir aku akan membiarkannya? Itu tidak akan pernah terjadi!" gumam Alfred, berjalan berlawanan arah menuju hotel.


Sekarang Lynn sudah mempunyai kamar sendiri, letak kamar Lynn berada disamping kamar Alfred, seperti awalnya, hanya saja Krisan berpindah kekamar lain.


Alfred berdiri didepan pintu kamar Lynn, mengangkat tangannya mau mengetuk pintu, namun ketukan pintu tidak pernah terdengar. Alfred menarik kembali tangannya, bersandar pada pintu.


Alfred mau mendobrak masuk, menahan Lynn dan menanyai dengan berbagai macam pertanyaan dipikirannya. Menguraikan tali rumit di kepalanya, tetapi ego dan harga dirinya terlalu tinggi untuk membuatnya mau menunduk kebawah. Manik-manik bening berkumpul ditelapak tangan Alfred, perkataan Pieter melintas dibenak Alfred.


"Kamu itu sedang jatuh cinta."


"Tidak! ini bukan cinta ini hanya empatiku padanya!" Alfred tersenyum sinis, melayangkan tinju ke udara kosong.


Alfred meninggalkan pintu kamar Lynn, pergi kekamar tidurnya. Alfred baring terlentang menatap langit-langit kamar, dia baru ingat untuk mengembalikkan ponsel Lynn, masih bersama dengan dirinya.


Alfred mengeluarkan ponsel Lynn, menatap layar kacanya. Pesan singkat masuk, Alfred tidak terlalu tertarik membaca pesan orang, menaruh ponsel Lynn diatas meja, Alfred menghela napas panjang.


Cahaya merah terpantul di dinding putih, sebuah drone pengintai berada di jendela. Alfred mengambil langkah santai mendekati drone, tidak ada yang aneh hanya ada sepucuk surat terselip diatas drone.


Alfred menarik surat dari atas kepala drone dan tidak lupa untuk mematikan dayanya. Senyuman gelap tersungging dibibir Alfred, bagaimana mengembalikan surat ancaman ini ke pemiliknya.


[Hei, apa kamu tau dimana letak kelemahanmu?! Aku akan menghancurkanmu dengan menghancurkannya terlebih dahulu, jadi jauhi bisnisku.]

__ADS_1


__ADS_2