
"Ho ho ho... Santai kawan.. santai. Aku tidak akan membuat masalah kok." Ungkap Pieter melangkah mundur satu langkah.
"Kalau begitu katakan sejujurnya apa mau mu?"
Pieter tersenyum malu, melirik Lynn yang sibuk memeriksa dokumen yang harus diberikan ke Alfred nanti setelah jam makan siang selesai.
"Aku hanya ingin mendekati Nona Lynn." Pieter berdehem sebentar, mencoba untuk tetap keren.
Tangan Alfred yang menulis langsung terhenti, mengangkat kepalanya menatap Pieter.
"Apa?" Tanya Alfred mencoba memastikan pendengarannya.
"Apa?" Pieter menaikan salah satu alisnya bertanya balik pada Alfred, Alfred menatap Pieter kesal.
"Pergilah dari sini." Alfred menaikan intonasi suaranya, menunjuk pintu keluar.
"Tapi... Aku ba-"
"Iya.. Iya aku pergi." Pieter berbalik dengan cepat takut dengan amukan Alfred.
Alfred memutar kursinya melihat ke luar, ada perasaan aneh menyelimuti dadanya. Alfred memejamkan matanya sebentar, bersandar pada kursi itu.
Pieter menggerutu kesal, berjalan menghampiri tempat duduk Lynn, kening Lynn berkerut bingung entah datang dari mana bayangan besar yang ada didepannya.
"Tuan Pieter." Lynn langsung berdiri, tubuhnya mendadak jadi tegang takut melakukan kesalahan.
Lynn tidak akan tau kalau Alfred memperingatinya untuk tidak terlalu dekat dan menyinggung Pieter atau dirinya akan dipecat.
"Dasar Tuan Es, apa pun selalu bilang kalau kamu melakukan kesalahan kamu akan dipecat." Gumam Lynn pelan menatap tajam ke pintu ruangan Alfred.
__ADS_1
Pieter menatap Lynn penuh tanda tanya, dia tidak tau apa yang menyebabkan perubahan suanasa ini.
"Nona Lynn apa ka-"
"Sekertaris Lynn, bagaimana kabarmu?"
Lynn dan Pieter melihat kearah suara, Lynn tersenyum lega, melihat kedatangan Krisan. Akhirnya sekarang dia tidak akan terlalu tersiksa lagi, setidaknya Krisan dapat menjelaskan dimana letak kesalahannya.
"Apa tidak sulit selama tiga hari penuh?" Tanya Krisan, Lynn menangguk kepalanya penuh semangat.
"Sangat sulit." Kata Lynn dengan jujur, Krisan tersenyum menanggapi perkataan Lynn.
"Oh... Tuan Pieter, maaf saya tidak melihat anda disana tadi." Krisan membungkuk hormat, Lynn melirik mereka berdua.
"Tidak ma-"
"Sekertaris Lynn, aku lupa untuk memperkenalkanmu secara resmi kepada yang lain. Ayo kita pergi menyapa yang lainnya." Krisan memotong perkataan Pieter, tersenyum profesional.
"Aku sudah bertemu Alfred, ad-"
"Oh... Kalau begitu anda sudah tidak ada urusan lagi disini, jadi anda bisa kembali ke perusahan anda." Krisan lagi-lagi memotong perkataan Pieter.
Pieter tersenyum kesal, Lynn yang berada ditengah peperangan mereka berdua tidak tau harus melakukan apa. Pieter dan Krisan saling beradu tatapan seakan tatapan itu akan mengeluarkan sengatan listrik.
"Krisan apa ke-"
"Sekertaris Lynn apa kita bisa pergi sekarang, saya takut yang lain akan pergi keluar jika kita lebih lama lagi."
Pieter mengepalkan tangan erat-erat, mengambil nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya.
__ADS_1
"Kalau begitu sampai jumpa lagi Nona Lynn." Pieter melambaikan tangannya berbalik pergi.
"Dasar, tidak berubah sama sekali padahal sudah bertahun-tahun tidak ketemu." Gumam Pieter, menggelengkan kepalanya.
"T-tuan Krisan, apa tidak apa-apa membiarkan Tuan Pieter pergi seperti itu?" Lynn tergagap-gagap, dia tidak mau ditarik kedalam masalah mereka berdua.
"Tenang saja sekertaris Lynn, saya bersahabat dengan Tuan Pieter jadi jangan perdulikan dia." Jelas Krisan, Lynn bernafas lega.
"Baiklah, mari kita bertemu dengan mereka." Krisan tersenyum penuh kemenangan, Lynn menangguk ikut.
Ruangan yang dipenuhi dengan 20 orang dengan kegiatan masing-masing, suara itu sangat hening hanya ada suara ketikan keyboard atau suara mesin fotocopy.
Salah satu karyawan pria menyadari kehadiran Krisan, bangkit dari tempat duduknya menghampiri Krisan.
"Sekertaris Krisan, apa yang membawa anda kesini?" Tanya karyawan itu.
"Aku disini ingin memperkenalkan kalian pada sekertaris baru kita." Krisan memperkenalkan Lynn yang berdiri disamping.
Semua orang langsung menghentikan pekerjaan mereka, berdiri dan menatap ke depan, Lynn tersenyum canggung, merasa tidak nyaman dengan tatapan semua orang.
"Silahkan sekertaris Lynn." Perintah Krisan, Lynn mengambil nafas maju satu langkah kedepan.
"Selamat pagi semuanya, perkenalkan nama saya Evelynn Cornelius yang akan bekerja sama dengan kalian. Mohon bantuannya semua." Lynn membungkuk hormat lalu mengangkat kepala, semua orang yang menatapnya.
Lynn meremas jarinya, semua orang diam tidak memberikan respon sama sekali.
"Selamat datang Sekertaris Evelynn, mohon bantuannya." Kata seorang pria yang duduk di pojok.
"Selamat datang." Semua orang mulai menyapa Lynn dengan hangat, hanya satu wanita yang duduk paling depan tidak menyapa.
__ADS_1
Matanya menatap Lynn dengan tatapan penuh dengan kebencian, tangan wanita itu terkepal erat-erat, mengigit bibir bawahnya.