Aku Menikahi Tuan Es?!

Aku Menikahi Tuan Es?!
Chapter 111


__ADS_3

"Hari ini aku sangat sial." Krisan teringat ucapan Alfred. Alfred menyuruhnya membuang tanpa melirik isinya, seharusnya dia mematuhi nasihat Alfred bukan melanggarnya.


Namun rasa penasaran lebih kuat dari pada menaati nasihat Alfred, dan kebanyakan nasihat Alfred tidak pernah membantu dirinya malah menyesatkan diri Krisan.


"Aku tidak tau kau punya hobi yang ... ." Yasmin berhenti berbicara, menahan senyuman dibibirnya.


Krisan tersenyum canggung membuang paper bag kedalam tong sampah, menepuk tangannya yang berdebu, melupakan keberadaan paper bag.


"Kenapa kamu membuangnya?" tanya Yasmin membuat Krisan terdiam.


Yasmin menatap Krisan bingung, Krisan tiba-tiba tertawa nyaring. Berjalan pelan mendekati Yasmin.


"Senyuman apa itu?" batin Yasmin.


"Aku tidak tau kamu ada disini? Haha ... ." Krisan tertawa canggung, menghindari kontak mata dengan Yasmin.


"Aku mengambil laptob yang tertinggal dirumah Eve dan sekarang aku mau pulang kerumah," jawab Yasmin santai mengangkat tas biru ditangan kanannya.


"Oh, aku akan mengantarmu!"


"Tidak, tidak perlu, aku bisa menaiki bus." Yasmin menolak tawaran Krisan, tidak mau merepotkan orang lain.


"Lagi pula rumah kita tidak searah, kamu akan pulang larut jika mengantarku," tambah Yasmin.


"Tidak masalah, lagipula kalau melalui jalur sana tidak akan jauh," tutur Krisan. Yasmin berpikir sejenak, memperhatikan jam tangan.


Melihat jam tangan, membuat Yasmin berpikir sejenak. Jika Yasmin menumpang dengan Krisan, Yasmin tidak perlu cemas ketinggalan bus sekaligus dia bisa sedikit menghemat uang.


"Baiklah kalau begitu."


Krisan mengepalkan tangannya, tersenyum lebar layaknya pria bodoh. Dia tidak akan menyia-nyikan kesempatan, Krisan yakin, dirinya memanh tidak setampan Alfred tapi dia masih bisa merebut hati wanita.


Dia berada diurutan kedua sebagai pria tampan diperusahaan, bahkan banyak karyawan wanita memberikan dirinya coklat saat hari kasih sayang, dan beberapa mencoba menarik perhatian dari Krisan.


Krisan akan meninggalkan kesan yang berbeda tentang dirinya, walau kesan pertama mereka tidak buruk tapi menurut Krisan itu masih cukup kurang menarik.


...🍒🍒🍒...


Lynn bangun lebih awal dari biasanya, padahal hari ini dia tidak masuk kerja. Namun tubuh Lynn sudah tidak betah berbaring lama dikasur, dia ingin mengerakkan tubuhnya.


Lynn membuka pintu kamar, meregangkan tubuh, meluruskan otot-otot malas. Lynn menguap pelan, mengambil air minum dan meneguknya hingga setengah.

__ADS_1


Lynn menyemburkan air yang diminumnya, terbatuk-batuk, mengosok matanya menghilangkan bayangan tidak nyata setelah bangun tidur.


Alfred berjalan keluar dari kamar tidur disebelah Lynn, tanpa menggunakan baju atasan, cuma memakai celana hitam panjang. rambut Alfred acak-acakan seperti singa, kening Alfred yang selalu terlihat kini tertutup dengan rambutnya.


"Waaa!" Lynn menjerit, menutupi matanya dan membelakangi Alfred.


Alfred menutup telinganya, berjalan pelan mendekati Lynn menuangkan air dan meminumnya. Mengambil langkah santai, duduk di kursi empuk, menyalakan televisi.


Lynn menghentakan kakinya berjalan mendekati Alfred, Alfred menatap Lynn. Lynn menutupi matanya menggunakan dua telur, ujung bibir Lynn naik keatas tidak suka tindakan Alfred.


"Kamu pikir ini rumahmu? Seenaknya tidak memakai baju!" protes Lynn tidak suka.


Alfred tertawa pelan, menarik tangan kanan Lynn menyuruhnya melepaskan telur ayam dari area matanya.


"Ini memang rumahku, apa kamu lupa? Semalam aku membeli gedung ini, dan aku membeli semua properti yang ada didalam ruangan ini," jelas Alfred tersenyum tampan, membentuk lingkaran diudara menggunakan jari telunjuknya.


"Termasuk dirimu," tutur Alfred dalam hatinya.


Lynn mengeram kesal, menaruh dua butir telur diatas meja, berjalan ke kamarnya. Pandangan Alfred mengikuti kemana pun Lynn melangkah. Lynn membawa selimut pink, melilitkan selimut ditubuh Alfred.


"Aku sudah membeli ruangan ini, dan barang-barang didalamnya adalah milikku secara pribadi, aku tidak pernah menjualnya," kekuh Lynn bersikap keras.


"Arghh, om gendut itu! Beraninya dia menjual barangku." Lynn menjambak rambutnya kesal.


Alfred menahan wajahnya, memperhatikan penampilan Lynn mengamuk mengeluarkan amarahnya. Alfred tersenyum tipis, Lynn seperti kucing liar.


Dia akan mengeluarkan taring dan cakarnya jika ada objek asing memasuki wilayahnya, dan objek asing itu adalah Alfred sendiri.


Lynn meminum air, meringankan beban dan panas yang menumpuk dikepalanya, Lynn menghela napas pelan, memberikan Alfred lirikkan tajam.


"Aku tidak peduli, rumah ini milikku! Dan kamu sebagai tamu ... tidak orang asing, kamu harus memakai baju, kalau ingin berada disini, ini keputusanku!" Lynn membuang wajahnya, berjalan menuju kamarnya.


"Orang asing?" beo Alfred, Alfred tertawa terbahak-bahak.


Dia tidak terlalu memikirkan perkataan Lynn, hidung Alfred bergerak, wangi manis melewati indra penciuman Alfred.


Mengangkat ujung selimut yang melilit tubuhnya, bau manis berasal dari selimut Lynn. Bau manis terpancar saat Lynn berjalan keluar dari ruangan kerja Alfred, bau manis ini selalu tertinggal diujung hidung Alfred.


Ponsel berbunyi mengalihkan perhatian Alfred, Alfred membiarkan lilitan selimut diatas pundaknya berjalan menuju jendela dan menatap keluar.


"Hallo." Alfred menjawab panggilan, memasukkan

__ADS_1


tangannya kedalam saku celananya.


"Selamat pagi sayangku, hari ini kamu sudah pulang kerumahkan? Aku mau mampir yah?"


"Hari ini aku sedang diluar, jadi tidak ada orang dirumah," jawab Alfred melirik kearah pintu kamar Lynn yang tertutup rapat.


"Ummh, benarkah kalau begitu bagaimana kalau kita ketemu diluar? hari ini aku yang akan menentukan kemana kita akan pergi, Ok?"


"Tentu, mau bertemu dimana?"


"Di kafe yang biasa kita kunjungi, kita bertemu jam 8, bagaimana?"


"Baiklah, sampai ketemu nanti disana,"


"Ok, sampai nanti sayang!"


Alfred memasukkan ponselnya kedalam saku celana, membalikkan punggungnya kebelakang. Lynn berdiri dipintu kamar mandi, menatap Alfred tanpa mengeluarkan suara apa pun masuk kedalam kamar mandi.


Alfred tidak tau apa ekspresi wajah yang ditampilkannya sekarang, menyentuh wajahnya membaca ekspresi wajah sendiri.


...🍒🍒🍒...


Lynn berbaring diatas kasur, menatap langit-langit kamar melamun. Lynn melupakan keberadaan Lydia, hadiah Alfred membuat Lynn melupakan keberadaanya.


Lynn menghela napas panjang, dia terlalu menganggap istimewa dirinya hanya karena hadiah bukan berarti dia istimewa dimata Alfred, mungkin Alfred cuma mau memberikan hadiah agar Lynn sadar akan posisi dirinya.


Lynn memandangi lonceng angin yang bergantung didekat jendela, lonceng mengeluarkan suara ringan menyejukkan telinga.


"Astaga, aku lupa menanyakan kenapa ponselku bisa bersama dengan dirinya," keluh Lynn melirik ponsel diatas meja.


Lynn meraih ponselnya, panggilan masuk tiba-tiba datang. Kening Lynn berkerut bingung, dia tidak mengerti apa alasan kenapa Cici adik tirinya menelepon dirinya.


Lynn menaruh ponselnya disamping, mengabaikan panggilan itu. Dia tidak pernah membenci Cici cuma ...


Panggilan tidak juga kunjung berhenti, seolah di teror panggilan. Lynn mengangkat panggilan Cici saking geramnya mendengar suara dering ponselnya


"Hallo Kakak, ayo bicara!"


Lynn menjauhkan ponselnya dari telinga, memeriksa siapa peneleponnya. Dan itu adalah Cici adik tiri yang tidak pernah memanggil dirinya kakak kecuali situasi khusus.


"Apa...

__ADS_1


__ADS_2