
"Woah... Tenang Sekertaris Lynn ini, saya Krisan." Krisan mengangkat kedua tangannya berjalan mundur beberapa langkah dari Lynn.
Lynn menurunkan tangannya, tetapi tatapan matanya penuh dengan kewaspadaan pada Krisan.
Krisan tertawa canggung, menggaruk bagian belakang kepalanya. Disaat suara langkah kaki semakin mendekat, tubuh Lynn mendadak di tarik kebelakang.
Lynn hanya bisa menahan nafasnya karena dia bersembunyi di sebalik dinding-dinding dan tubuhnya sangat dekat antara orang yang berada dibalik punggungnya itu.
Beberapa menit kemudian Lynn menghela nafas lega, kakinya terasa lemas akibat ketegangan tadi, tapi Lynn tidak bisa berjongkok dia harus bertahan.
"Omong-omong Sekertaris Lynn, apa yang kamu lakukan disini?"
Lynn mengedipkan kedua matanya, menatap dokumen tebal ditangan kanannya.
"Tuan Alfred menyuruhku membawa dokumen ini ke ruangan rapat. Jadi, aku membawanya kesini." Jawab Lynn tersenyum tipis.
"Tapi rapatnya dibatalkan dan ruangan ini sudah lama tidak digunakan lagi. Bagaimana kamu bisa sampai disini?" Selidik Krisan.
Mulut Lynn terbuka, menatap sembari menunjuk ruangan itu, Lynn kebingungan. Dia tidak tau kalau ini adalah ruangan tidak terpakai, Lynn hanya bertanya pada Karyawan lain dan itulah alasan kenapa dirinya bisa berada disini.
"Kalau begitu kenapa Sekertaris Krisan bisa ada di sini?"
Pertanyaan Lynn sontak membuat Krisan kehilangan kata-katanya, Krisan tersenyum menyembunyikan kepanikannya.
"Oh... Bukannya itu dokumen yang diminta? Kamu tidak mau membawanya?"
__ADS_1
Krisan menunjuk dokumen ditangan Lynn, Lynn ikut melirik ke tempat dimana tangan Krisan menunjuk.
"Astaga." Jerit Lynn mengangkat berkas, mata Lynn terbuka lebar, dia baru teringat dengan perkataan Alfred.
'Bawa dalam 5 menit'
Lynn memukul kepalanya melupakan tujuan awalnya, Lynn tersenyum canggung mengambil langkah mundur.
"Sekertaris Krisan aku akan pergi." Lynn melambaikan tangannya berlari secepat mungkin agar pertanyaan baru terlontar dari bibir Krisan.
Krisan tertawa pelan, berjalan lurus menuju ruangan yang baru saja mereka bicarakan tadi.
...🍒🍒🍒 ...
Lynn mengambil oksigen sebanyak mungkin ditampung paru-parunya, merasa sudah cukup Lynn mengambil nafas dalam-dalam dan menstabilkan pernapasannya.
"Masuk."
Mendengat izin sudah diberikan Lynn mendorong pintu kaca dan berjalan masuk, menaruh dokumen diatas meja.
"Kamu telat, ini sudah lewat lima belas menit." Alfred memutar kursi putarnya, menyangga wajah tampannya dengan ke dua tangannya.
"Maaf." Cicit Lynn pelan, menundukkan kepalanya.
Lynn mengangkat kepalanya pelan-pelan, tatapan mata Lynn dan Alfred bertemu. Lynn menurunkan kepalanya dalam cepat, memutuskan kontak mata.
__ADS_1
"Kenapa kamu bisa ada di 'sana'?" Kening Alfred berkerut.
"Ya?" Tanya Lynn balik, Lynn melihat kedalam mata gelap Alfred yang memperhatikan gerak-geriknya.
"Saya mau mengantarkan dokumen yang anda suruh bawa."
"Kamu... Sudahlah, kembali ke tempatmu sebelum aku memanggilmu." Usir Alfred membolak-balikkan setiap lembar kertas.
"Jadi, saya tidak dipecatkan, pak?" Tanya Lynn penasaran, Alfred mengangkat kepalanya tatapan matanya berubah tajam.
"Apa kamu ma-"
"Saya akan kembali ketempat saya."
Lynn memotong perkataan Alfred, kabur secepat mungkin. Alfred tersenyum tipis melihat pintu kaca tertutup pelan.
Sadar akan senyuman dibibirnya, wajah Alfred di penuh kerutan kekesalan. Akhir-akhir ini dia banyak tersenyum untuk hal-hal sepele.
Lynn duduk manis ditempat duduknya, bersandar pada bangku dan menghela nafas lelah. Lynn mengerucutkan bibirnya, kumpulan dokumen menumpuk dimejanya mau pun meja Krisan.
"Baru juga beberapa jam tapi sudah terasa seperti satu abad." Gumam Lynn mengangkat selembar kertas.
"Permisi, Sekretaris Lynn ada titipan untuk anda."
Lynn mengangkat kepalanya menatap pak Satpam berdiri di depan meja, tangan pak Satpam penuh akan lima boneka kelinci kecil, satu kotak coklat dan buket bunga.
__ADS_1
"Pa-Pak Satpam? itu beneran punya saya?" Lynn menunjuk dirinya sendiri, Pak Satpam menganggukkan kepalanya.
"Dari siapa Pak?"