Aku Menikahi Tuan Es?!

Aku Menikahi Tuan Es?!
Chapter 46


__ADS_3

Jam Makan siang


"Sekertaris Lynn bagaimana menurutmu?" Tanya Krisan, Lynn mengerutkan keningnya bingung tidak paham ucapan Krisan.


"Menurutmu apa bekerja disini menyenangkan?" Krisan menatap Lynn dengan tatapan penasaran.


"Disini menyenangkan karena semua orang sangat ramah dan baik."Lynn tersenyum malu-malu.


"Syukurlah, saya kira anda bakal berhenti bekerja." Gumam Krisan bernafas lega untuk sesat.


Lynn mengedipkan kedua matanya, dia tidak tahu apa yang Krisan bicarakan.


"Saya permisi sebentar mau ke toilet." Lynn bangkit dari tempat duduknya, berjalan menelusuri koridor.


Lynn memperhatikan sekelilingnya mencari toilet, sebuah tanda menggantung tinggi diatas pintu yang bertuliskan toilet wanita.


Lynn masuk kedalam toilet, duduk disana dan mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan.


Lynn menutupi wajahnya menggunakan tangannya, wajahnya merona merah karena malu bercampur senang, ini pertama kalinya dia disapa dengan hangat.


Ceklek...


Lynn mendengar suara pintu yang dibuka, ada suara berisik diluar sana, Lynn yang penasaran mencoba mendekatkan telinganya di pintu mau menguping.


"... Aku tidak percaya kalau wanita tadi itu sekertaris baru, siapa tadi namanya?" Kata seorang wanita mengoleskan lipstick merah dibibirnya, namanya adalah Ana.


"Epe apa tadi? kasih tau padaku aku benar-benar lupa." Kata seorang wanita yang berambut pendek, bibirnya mengkerut jijik, namanya adalah Lita.


"Evelynn, sayangku." Jawab wanita yang bersandar pada pintu, wanita ini adalah Pina.


"Sudahlah teman-teman." Wanita itu memperbaiki maskaranya yang luntur, dia adalah Sinta.

__ADS_1


"Aku sangat kesal pada wanita sialan itu, kenapa juga dia yang menjadi sekertaris padahal Sinta kita bekerja lebih lama dari pada dia." Kata Ana membuang kertas tisu bekas bibirnya.


"Aku setuju denganmu, Ana. Teman kita sudah berusaha sangat keras untuk dipromosikan tapi hasilnya malah ada lalat tak tau diri yang hinggap." Maki Pina, menendang pintu yang ada dibelakangnya.


Lynn yang berada dibalik pintu itu kaget karena tendangan itu, menutup mulutnya rapat-rapat.


"Teman-teman." Panggil Sinta, membuat ketiga itu terdiam.


"Ingat kita tidak boleh berbicara sembarangan." Kata Sinta dengan tampang malaikatnya.


"Haa... Lihat betapa baiknya Sinta." Lita menghela nafas, menutupi wajahnya menggunakan tangan kirinya.


"Sinta apa kamu sudah selesai? Kita mau kembali ke ruangan sekarang." Pina membuka pintu mau pergi.


"Iya." Sinta membuang maskaranya kedalam tong sampah dan pergi.


Lynn yang mendengar suara pintu ditutup, bernafas lega, segera keluar dari toilet dan perut Lynn terasa mulas, kenangan lama mulai menghantui pikirannya.


"Sekertaris Lynn, apa yang terjadi denganmu kenapa wajahmu pucat sekali?" Tanya Krisan, bingung.


"Ah... Saya tidak apa-apa kok." Lynn tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa.


Lynn membaringkan kepalanya diatas meja, Krisan mengaruk kepalanya yang tidak gatal tidak tau harus melakukan apa.


"Seharusnya aku langsung keluar tadi..." Gumam Lynn pelan, mengangkat kepalanya dan memukul pipinya agar tetap semangat.


"Tuan Krisan, apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya Lynn, suaranya berubah menjadi semakin kecil.


Lynn mengedipkan matanya melirik ke kiri dan ke kanan, Krisan tidak ada disana. Lynn bersandar pada kursi empuk nya.


Ting... ting...

__ADS_1


"Kyaa..." Lynn berteriak kaget, melihat telepon yang berdering, Lynn bernafas lega, Lynn mengangkat telepon itu.


"Hei... Ke ruanganku sebentar, Tut..."


Telepon terputus begitu saja tanpa jawaban dari Lynn, Lynn menaruh telepon itu ketempatnya semula. Membawa laporan yang sudah dirinya selesai kan tadi kedalam ruangan.


Tok... Tok...


"Masuk."


Lynn masuk kedalam menaruh dokumen yang dibawanya, Alfred bukannya membaca dokumen itu dia malah memperhatikan wajah Lynn.


Lynn yang diperhatikan seperti itu, mendadak menjadi salah tingkah. Lynn mengalihkan tatapan matanya ketempat lain pura-pura tidak tau.


"Hei... Sekertaris." Panggil Alfred


"Iya pak!" Lynn menjawab dengan cepat dan tegas.


"Apa kamu tidak bisa menghilangkan kata 'pak' itu?" Alfred menekankan pengucapan katanya.


"Tidak bisa pak." Bantah Lynn, Alfred memutar kursinya kesamping, bangkit dari tempat duduknya.


Lynn menjadi was-was dengan Alfred yang berjalan mendekati dirinya. Alfred maju selangkah, maka Lynn akan mundur dua langkah kebelakang.


Tubuh Lynn mendadak jadi kaku dan tegang karena sekarang punggungnya sudah bertemu dengan dinding dan kini Alfred berdiri didepannya dengan tangan berada didalam saku celana.


Lynn menundukkan kepalanya, kaki berbelok ke kiri tetapi segera dihadang dengan tangan Alfred, Lynn kaget berbalik ke arah kanan tetap saja ada tangan Alfred yang menghalangi.


Lynn merasa dejavu, mengangkat kepalanya menatap tepat kedalam bola mata Alfred yang berwarna gelap.


"T-tuan Alfred, apa yang anda lakukan?" Cicit Lynn pelan, memainkan jari-jarinya gugup.

__ADS_1


Alfred tiba-tiba mendekatkan wajahnya, membuat Lynn menjerit dalam diam.


__ADS_2