
Di tempat Ayah Lynn
Rayhan melipat tangannya merenung, menatap keluar jendela kaca memperlihatkan seluruh bangunan menjulang tinggi.
"Itu tidak terlihat seperti dirimu, Sobat." Kata Robert duduk santai disofa panjang.
"Haa... Aku tau kalau kebiasan burukmu itu tidak akan pernah hilang." Rayhan mengalihkan pandangannya, berjalan mendekati Robert.
"Aku sudah mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban sama sekali, jadi aku langsung masuk saja." Jelas Robert mengangkat kedua tangan enteng.
"Ray, ini untukmu. Aku harap kamu datang di acara pernikahan putra sulungku ini. Hari minggu." Tambah Robert mengeluarkan undangan yang dibawanya dan menaruhnya diatas meja.
"Maksudmu Alfred?" Tanya Rayhan tidak percaya, Robert menganggukkan kepalanya.
"Aku sangat kasihan dengan pengantin wanitanya. Dia harus bersama dengan orang seperti Alfred yang selalu berwajah dingin dan datar." Keluh Rayhan menggelengkan kepalanya prihatin.
"Iya.. Mau gimana lagi yang tersisa hanya wajah tampannya saja. Omong-omong Ray, aku penasaran. Putrimu dulunya tinggi cuma segini. Apa sekarang sudah tumbuh tinggi dan cantik?" Robert mengunakan tangannya menunjuk berapa tinggi tubuh Lynn waktu masih kecil.
"Putriku sudah dewasa, dua bulan lagi dia akan berumur genap 20 tahun." Rayhan tersenyum mengingat perbedaan Lynn saat masih kecil dan sekarang.
"Wah.. Kalau begitu aku bisa menjodohkannya dengan putraku, Wendy." Gumam Robert pelan, tapi masih bisa didengar oleh Rayhan karena pendengarannya tajam.
"Jangan mimpi." Bantah Rayhan keras, memikirkan putrinya keluar negeri saja Rayhan tidak sanggup dan berani apa lagi menikahkannya.
Walau pun suatu saat putrinya akan menikah maka saat itu Rayhan pasti sudah siap menerimanya tapi untuk sekarang Rayhan belum siap menerima faktanya kalau putri kecilnya bukan lagi tanggung jawabnya.
"Aku pamit dulu, Sobat. Jangan lupa bawa putrimu nanti saat acara pernikahan." Kata Robert, kabur secepat mungkin sebelum Rayhan melampiaskan amukannya.
"Tidak akan pernah." Kata Rayhan pelan, menghela napas pelan. Ini sudah tiga hari dia tidak bisa tidur nyenyak, mencemaskan keberadaan Lynn.
__ADS_1
Rayhan tau dimana Lynn berada, dia tidak mempunyai keberanian untuk menemui putrinya. Rayhan akan tetap cemas karena putri kecilnya tidak berada di hadapannya.
***
Lynn dan Mina saat ini tengah berjalan-jalan mencari makanan untuk makan siang mereka, langkah kaki Mina dan berhenti didepan toko kue, Mina menggenggam tangan Lynn.
"Kita beli ku-"
Drett.. drett..
Lynn mengangkat teleponnya, Mina mengerucutkan bibirnya kesal. Entah sudah berapa kali perkataannya terpotong begitu saja.
"Hallo, ini siapa?" Sapa Lynn.
"Apa kamu tidak menyimpan nomor teleponku? Ini Alfred jadi simpan nomorku." Tegas Alfred cuek.
Panggilan langsung terputus tanpa jawaban dari Lynn. Lynn menatap ponselnya, meniru gaya bicara Alfred dan memasukkan ponselnya kedalam tas.
"Min, kayaknya kamu harus pulang dulu. Soalnya aku mau pergi ke butik X&x." Lynn mengaruk keningnya bingung.
Mina menatap Lynn, bibirnya terbuka melongo tidak percaya. Lynn menutup bibir Mina terbuka dengan tangannya.
"Nanti kemasukan lalat." Lynn terkekeh pelan, berjalan pergi, Mina yang sadar.
Menarik tangan Lynn menahannya untuk tidak pergi, Lynn yang ditahan menatap Mina.
"Eve, buat apa pergi ke butik X&x? Butik itu kan isinya cuma gaun pernikahan." Kata Mina, mata Mina menatap Lynn curiga.
"Jangan bilang kamu mau nikah?" Tebak Mina, jari tangannya terangkat menunjuk Lynn.
__ADS_1
"Kata siapa?" Elak Lynn melihat ke tempat lain, tidak berani melakukan kontak mata.
Mina sudah sangat mengenal Lynn, tersenyum mengejek, tangan Mina terangkat mencolok pipi Lynn gemas.
"Kalau begitu ayo kita pergi." Mina berjalan lebih dulu menggenggam tangan Lynn mulai berjalan meminta Lynn untuk mengikutinya.
"Gak.. Gak.. Tempatnya pasti jauh. Aku bisa pergi sendiri kok." Lynn melepaskan genggaman Mina.
"Pftt... Kamu bilang apa sih, Eve? Butiknya gak jauh kok, itu dia didepan kita." Mina menunjuk butik yang terletak diseberang jalan, Lynn tertunduk seketika mengangkat kepalanya.
Lynn baru sadar kalau ada sebuah butik diseberang jalan, Mereka berdua menyeberangi jalanan dan masuk kedalam butik.
"Maaf Nona, butik kami tidak dibuka untuk umum khusus untuk hari ini, karena sudah disewa oleh orang lain." Kata pelayan wanita yang rambutnya disanggul tinggi.
Lynn dan Mina bahkan belum melewati pintu, Lynn mengeratkan genggamannya, berharap Mina bisa menahan emosinya.
"Maaf... Maafkan kami Nona Lynn, dia pegawai baru jadi tidak tau apa pun." Kata manager itu, menghampiri Lynn dan Mina menyuruh merak berdua masuk melihat lihat.
Lynn dan Mina duduk diruang tunggu sambil membaca sampel baju yang sudah ada.Mina mengetuk meja, bosan sudah lima menit berlalu begitu saja.
"Eve, kamu bakal menikah dengan Arga?" Tanya Mina spontan, disaat yang bersamaan Lynn mendapatkan telepon tidak mendengarnya perkataan Mina, bangun dari tempat duduknya meninggalkan Mina.
"Tunggu sebentar, Min." Lynn tersenyum, mengangkat teleponnya berjalan pergi.
Mina memperhatikan Lynn berbincang-bincang dengan manager setelah menutup panggilan teleponnya, helaan napas panjang keluar dari mulut Mina.
"Aku sangat tidak sadaran." Gumam Mina, mengangkat kepala, menyisir rambutnya kebelakang. Melihat sekeliling, Mina mulai panik, dia tidak melihat Lynn dimana-mana padahal tadi Lynn berdiri disana bersama manager.
Srak...
__ADS_1