Aku Menikahi Tuan Es?!

Aku Menikahi Tuan Es?!
Chapter 53


__ADS_3

Lynn seakan akan terhisap oleh bola mata gelap Alfred, didalam mata itu menunjukkan kegelapan dan bahaya terdalam paling menakutkan orang seolah tidak akan pernah bertemu dengan setitik cahaya.


"Ehem... Pagi-pagi sudah pamer kemesraan apalagi malamnya nanti."


Mendengar deheman Hana Lynn mengalihkan wajahnya sementara Alfred menarik tangannya dari pipi Lynn.


"Astaga." Gumam Lynn menyentuh pipinya, "Apa kamu tadi baru saja terpesona?" Tanya Lynn dalam hatinya.


Lynn mengelengkang kepalanya, mengusir pikiran buruknya. Lynn melemparkan tatapan tajam pada Alfred yang lagi menatap makanan yang sudah dilahap.


"Kau pasti sengaja melakukannya kan?" Kata Lynn melalui tatapan matanya, Alfred melirik Lynn seakan telepati Lynn tersampaikan ke telinga Alfred.


Lynn dan Alfred saling melemparkan tatapan tajam seperti akan keluar percikan listrik, mereka berdua tidak sadar kalau Hana tersenyum-senyum memperhatikan mereka berdua.


Dalam pandangan mata Hana Alfred menatap Lynn lembut dan Lynn menatap Alfred mesra seperti cerita roman picisan yang ditontonnya semalam.


"Aduh... Kalian ini suka sekali pamer kemesraan didepan Mama." Kata Hana datar tapi dalam lubuk hatinya senang berbunga-bunga.


"Mama... Kalau kami tidak mesra nanti Mama juga yang susah gak bisa gendong cucu." Sarkah Alfred merangkul bahu Lynn.


"Idih amit-amit siapa bilang kita bakal punya anak." Teriak Lynn dalam hatinya, ingin sekali dia menepis tangan Alfred yang ada dibahunya.

__ADS_1


Alfred melirik jam tangannya, bangun dari tempat duduk, Hana dan Lynn langsung melihat Alfred.


"Mama... Aku berangkat dulu." Kata Alfred pamit, Lynn mendengar ucapan Alfred mengambil gelas kopinya dan menyeruputnya sampai habis.


"Mama aku juga pergi dulu." Kata Lynn merangkul tangan Alfred mesra, Alfred tersentak kaget karena tindakan Lynn yang tidak terduga.


"Kamu pikir cuma kamu yang bisa?" Lynn menjulurkan lidahnya pada Alfred yang menatapnya dengan mata gelap.


Lynn melepaskan tangannya begitu mereka keluar dari rumah dan berdiri didepan mobil. Lynn berjalan sambil melompat kecil kegirangan mengabaikan tatapan Alfred.


"Haish..." Hela Alfred kesal, mengacak rambutnya yang sudah tertata rapi.


Alfred masuk kedalam mobil, melihat Alfred sudah duduk ditempatnya Pak supir mengerakan mobil meninggalkan garasi memasuki jalan raya berbaur dengan mobil yang berlalu lalang.


"Pak, bisa hentikan mobilnya sebelum kita berbelok disimpang pohon sana gak?"


Pak Tono melihat Lynn melalui pantulan cermin, lalu tatapan matanya berahli ke arah Alfred. Tapi Alfred tidak memberikan respon atau pun perintah lain membuat Pak Tono menggaruk kepalanya yang tidak gatal bingung.


"Pak-pak... Berhenti nanti kelewatan." Titah Lynn.


Pak Tono menghentikan mobil, kali ini dia hanya bisa pasrah pada keadaan yang akan menimpanya nanti. Lynn turun dari mobil, dia tidak lupa menutup pintu kembali.

__ADS_1


"Terimakasih atas tumpangan." Kata Lynn tersenyum tipis, berbalik dan berjalan pergi.


Mobil langsung melaju pergi meninggalkan Lynn, Lynn mengangkat kepalanya menatap bangunan yang menjulang tinggi dimana dirinya bekerja sekarang.


Drett...


Lynn mengeluarkan ponsel dari tasnya, mata Lynn melebar tidak percaya dirinya melupakan pekerjaannya dan waktu liburnya sudah habis.


"Halo, Daniel."


"...."


"Benarkah? Kamu tidak sedang bercanda, kan?"


"...."


"Baiklah, serahkan pekerjaan itu padaku." Jawab Lynn dengan percaya diri lalu menutup teleponnya, Lynn mengepalkan tangannya wajahnya berseri-seri senang.


"Aku tidak sadar menantinya." Kata Lynn penuh semangat mengebu-ngebu, berlari pergi ke perusahan.


Brush...

__ADS_1


Suara es teh tumpah mengenai baju Lynn, wanita yang menabrak tubuh Lynn menutup bibirnya.


"Ah... Maafkan aku sekertaris Lynn, aku tidak sengaja menumpahkannya, tanganku licin." Kata wanita itu dengan wajah bersalah.


__ADS_2