
"Astaga, putri Mama sudah datang." Hana melebarkan tangannya tersenyum hangat menyambut kedatangan Lynn.
Lynn memeluk Hana, mata Lynn tidak sengaja melakukan kontak mata dengan Wendy yang memantau dari lantai atas.
"Dimana Alfred?" Tanya Hana melirik ke kiri dan ke kanan, melepaskan pelukkannya.
"Aku disini." Jawab Alfred, Hana menganggukkan kepalanya paham.
"Sayang, kamu pasti belum sarapankan? Yuk makan bareng sama Mama." Hana tersenyum, menuju dapur, meninggalkan Alfred dan Lynn berdua.
"Aku mau kedapur." Kata Lynn, dia masih malu dengan kejadian tadi.
"Dapurnya disana, bukan kearah sini." Jelas Alfred menarik kopernya berjalan melewati Lynn, mau ke lantai atas.
Lynn memeremkan matanya, menghalangi wajahnya dengan tangan kirinya, Berputar kearah yang sebaliknya.
"Mama mau buat masakan apa?" Lynn mendekati Hana yang sedang mencampurkan bumbu pada ayam.
"Mama, mau buat masakan kesukaan Alfred, ayam kecap ." Jelas Hana, Lynn mengintip penasaran.
"Kalau begitu Eve, bantu mengupas wortel." Lynn mengambil wortel, mau mengupas tapi dihentikan Hana.
"Gak usah Sayang, Mama bisa sendiri kok." Hana melirik Lynn, Lynn menaruh pisau dapur.
__ADS_1
"Emm... Eve bantu susun piring aja, gak ada penolakan."
Lynn tersenyum manis, Hana menganggukkan kepalanya mengiyakan perkataan Lynn.
"Piringnya ada disana." Hana menunjuk rak yang berada tidak jauh dari tempat Lynn berdiri.
Lynn mengambil piring yang tersusun dirak dan menaruhnya di meja makan. Lynn yang sudah menyusun piring bingung apa yang harus dia kerjakan lagi.
"Mama, Eve panggilan semuanya buat turun makan yah." Lynn berjalan menaiki anak tangga, Lynn mengaruk kepala yang tidak gatal, bingung.
Dia tidak tau dimana kamar setiap orang, dan hanya satu kamar yang sangat mencolok dimata Lynn karena pintu kamar itu berwarna lain dari pintu kamar yang lain.
"Coba dari pintu itu dulu deh.." Gumam Lynn, melangkah mendekati kamar dengan pintu yang berbeda itu.
Tangan Lynn terbuka mau mengetuk pintu tapi pintu kamar tidak tertutup rapat, sedikit terbuka. Lynn menyelipkan kepalanya mengintip apa ada orang didalam kamar itu.
Lynn langsung tau siapa pemilik kamar itu saat ada sebuah potret ukuran sedang yang menggantung di atas kasur yang berwarna abu- putih.
Lynn masuk kedalam kamar, kakinya yang tidak terlalu panjang mengitari kamar yang berukuran besar itu, Lynn berhenti didepan meja belajar matanya sibuk memandangi foto yang bergelantungan didinding.
Foto itu tersusun secara bertahap-tahap dari anak-anak hingga remaja, Lynn menyentuh foto seorang anak remaja berwajah datar dan dingin tanpa senyuman dibibirnya tengah memegang piala dan sertifikat penghargaan.
"Saat kecil pun dia tampan." Puji Lynn tulus dari dalam hatinya, tersenyum-senyum.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan didalam kamarku?" Suara berat datang dari belakang.
Lynn kaget, foto yang ada ditanganinya terjatuh, berusaha menangkap foto itu. Lynn bernafas lega saat foto itu dalam masih keadaan utuh seperti awalnya.
"Aku sudah bilang jangan menyentuh barang-barangku." Suara Alfred naik lebih tinggi, merebut foto itu dari tangan Lynn dan menaruhnya kembali ke tempat semula.
Lynn mengintip foto itu dari balik punggung Alfred, Lynn mengalihkan tatapannya dengan cepat, mengosok tangannya begitu Alfred berbalik menghadapnya.
"Apa?" Kata Lynn galak memasang wajah jutek, membalas tatapan Alfred.
Alfred berjalan maju mendekati Lynn, Lynn spontan mundur kebelakang, Alfred maju selangkah maka Lynn akan mundur kebelakang dua langkah.
Punggung Lynn sudah menyentuh dinding dan Alfred semakin dekat, Lynn mau kabur tetapi tangan kanan Alfred menghalanginya. Berbalik kekiri tetapi tangan kekar Alfred lebih cepat menghalanginya.
Lynn melirik Alfred yang menatapnya tajam seolah akan menerkamnya kapan pun, Lynn tertawa kikuk, menggatupkan kedua tangan seperti berdoa.
"T-terlalu dekat." Teriak Lynn dalam hatinya, Alfred mendekatkan wajahnya, membuat Lynn menjerit dalam diam.
"Kenapa kamu ada disini?"
Hanya tinggal jarak saja bibir Lynn dan Alfred bertemu, Lynn bingung jarak ini terlalu dekat dan berbahaya bagi dirinya, memutar matanya ke tempat lain.
"Mama... Iya, Mama bilang kalau makanannya udah siap, meminta aku buat memanggil semuanya turun buat makan." Kata Lynn gugup, berharap Alfred mempercayai perkataannya.
__ADS_1
Kening Alfred berkerut tidak percaya, Lynn yang masih ditahan Alfred mau mencoba kabur dari bawah tangan Alfred tapi tangan Alfred turun menahannya lagi.
Alfred menatapnya tajam, makin mendekatkan wajahnya, Lynn menutup matanya rapat-rapat.