
Malam Harinya
"Eve, Apa kamu yakin mau pergi mendaki? Bahkan setelah kejadian kemarin?"
Yasmin berbaring telengkup sambil mengunyah permen karetnya, menatap Lynn sibuk mengemasi baju dan perlengkapannya.
"Tentu saja aku akan pergi! Kapan lagi aku bisa pergi mendaki gunung?" Lynn tertawa memamerkan gigi putihnya.
"Tapi aku takut nanti mereka malah mengganggu mu, apa kamu tidak takut?" Gumam Yasmin pelan.
Perkataan Yasmin membuat gerakkan tangan Lynn terhenti sejenak lalu kembali bergerak menyusun barangnya.
"Untuk apa aku takut? Kamu lupa siapa aku?" Kata Lynn dengan bangga.
"Haishh... Sudah aku tidak akan menang jika berdebat denganmu." Yasmin mengeluh memilih menutup matanya.
"Yas... Kamu gak bisa tidur kalau ada permen karet dimulutmu." Lynn menarik retselting tasnya, mendekati Yasmin.
"Yasmin!" Lynn memanggil namanya tapi Yasmin tidak mau membuka matanya.
Lynn baru mau menepuk bahu Yasmin, tapi Yasmin tiba-tiba bangun hingga kening mereka tidak sengaja saling bertabrakan.
"Aduh!"
"Aauu."
Rintih Lynn dan Yasmin kesakitan, menyentuh kening masing.
"Kenapa kamu tiba-tiba bangun??"
"Itu permen karetnya ketelan!" Kata Yasmin panik.
__ADS_1
"Haa? Be-beneran?" Lynn tergagap-gagap ikut panik.
Brak
Mina membuka pintu dengan keras, Lynn mengedipkan matanya bingung, baru beberapa detik Mina yang berdiri dipintu sudah memeluk Yasmin.
"Beneran Yas? Kamu telen permen karet?" Tanya Mina heboh.
"Ponselku mana? Kita harus cari mbah Google! Lynn ambilin ponselku!"
Lynn menuruti permintaan Mina walaupun dia tidak mengerti apa yang di katakan Mina. Mina bergumam aneh, jari tangannya sibuk menari-nari diatas layar.
"Eve... Aku rasa kita harus membawa Mina kerumah sakit." Bisik Yasmin pelan.
Lynn menganggukkan kepalanya setuju dengan pendapat Yasmin.
"Ketemu!" Teriak Mina, membuat Yasmin dan Lynn tersentak kaget.
"Buat apa?"
"Karena kamu telan permen karet jadi harus minum minyak." Bantah Mina menarik tangannya dari cengkraman Yasmi.
"Gak! Gak usah aku cuma mau nakutin Lynn! Kenapa kamu yang malah nakutin aku sih?" Sarkas Yasmin.
Mina tidak percaya kalau dirinya baru saja ditipu. Yasmin tersenyum canggung dia tidak terlalu biasa akan sikap Mina yang pendiam.
"Dasar kamu!" Teriak Mina mengambil bantal dan melemparkannya kearah Yasmin.
Yasmin yang dipukul dengan bantal tidak terima membalas pukulan Mina, dan akhirnya terjadilah perang bantal antara Mina dan Yasmin.
Lynn mengelengkan kepalanya, dia tidak mau ikut campur atau pun menengahi mereka, memilih menutup matanya dan tidur saja dikasur sebelah.
__ADS_1
...🍒🍒🍒...
Hembusan angin menyapu helaian rambut panjang Lynn, udara segar mengalir masuk kedalam paru-paru. Didalam bus semua orang sibuk merencanakan apa yang akan dilakukan saat tiba dipuncak gunung.
Bus terus bergerak menuju kedalam hutan, perkotaan yang sibuk dan berisik berubah menjadi hutan lebat dimana hanya ada suara jangkrik dan suara dedaunan yang saling bergesekkan akibat angin.
Crett...
Bus berhenti, para penumpang mulai berturunan dari bus memandangi pemandangan alam yang ada dihapan mereka.
Lynn turun paling terakhir, menatap hutan belantara didepannya. Lynn melirik kejalanan dimana ada lagi satu bus baru tiba.
Setiap orang mulai berkumpul membentuk regu, Lynn tidak tau harus bergabung ke regu yang mana sementara dirinya masih belum akrab.
"Sekertaris Lynn! Ayo kesini." Panggil Krisan.
Lynn tersenyum senang, mengambil langkah maju mendekati Krisan. Setidaknya dirinya tidak akan tersesat atau mengalami masalah sulit jika bersama Krisan.
"Apa kamu tidak bisa berjalan lebih cepat sedikit? Kita sudah tertinggal cukup jauh!" Cibir Alfred menatap Lynn dari atas.
"Haaa...Ba-baiklah aku akan mempercepat langkahku." Lynn ngos-ngosan memperkecil jarak antara dirinya dan Alfred.
"Kurasa siput lebih cepat."
Lynn menatap Alfred tidak percaya kalau sekarang dirinya tengah dibandingkan dengan siput.
"Oh... Ternyata kamu lumayan cepat juga. Kalau begitu kita lanjut mendaki lagi." Ucap Alfred memunggungi Lynn mulai mendaki lagi.
"A-aku ingin istirahat sebentar." Keluh Lynn mengatur pernapasaannya.
Kini Lynn menarik kembali pemikiran kalau dirinya tidak akan mengalami kesulitan, kenyataannya dia dalam masalah karena satu orang dan itu adalah Alfred.
__ADS_1