
"Uaakh ... akhirnya kita mendarat juga, aku tidak mau naik pesawat lagi!" keluh Lynn mengambil oksigen sebanyak mungkin kedalam paru-parunya.
"Apa begitu buruknya?" gumam Alfred pelan, berjalan melewati Lynn.
Lynn tidak menghiraukan Alfred, mengikuti dalam diam. Suasana hatinya sangat bagus hari pagi ini jadi dia tidak mau merusak aura positifnya cuma gara-gara ucapan Alfred.
"Aku akan pergi mengambil mobil dulu." Krisan berjalan pergi meninggalkan Lynn dan Alfred berduaan.
Alfred menyodorkan paper bag warna putih pada Lynn, Lynn mengedipkan matanya menatap Alfred, Alfred memalingkan wajahnya melihat ketempat lain.
"Ambillah, aku memungutnya ditengah perjalanan," tutur Alfred.
"Ditengah perjalanan?" Lynn terkekeh pelan menangapi Alfred.
Mereka berada didalam pesawat, jadi bagaimana Alfred bisa memungutnya. Lynn mengambil paper bag itu, mengigit bibir bawahnya menahan tawa keluar supaya tidak mengalir keluar dari mulutnya.
"Bukalah."
"Sekarang?" tanya Lynn, membuat Alfred mengerutkan keningnya.
Lynn mengharga pemberian Alfred, dia sedikit bingung, apa ada alasan kecil dari hadiah. Ini tidak mungkin sogokan atau hadiah ini murni dari hati tulus?
"Suka banget ngerutin kening, mau cepat tua?" ledek Lynn membuka paper.
"Aku tidak akan cepat tua, karena aku itu tampan." Alfred menjawab cuek, mengusap rambutnya kebelakang.
Narsisme cukup menakutkan, tapi Lynn akui Alfred sangat tampan. Wajah simetris, hidung mancung, mata tajam dan alis hitam tebal meninggalkan kesan misterius apalagi bola mata Alfred berwarna hitam obsidian membuat wajahnya terlihat seperti karya luar biasa.
Bibir Alfred terlihat lembut dan berwarna cerah, Lynn mengerucutkan bibirnya cemburu dengan warna bibir Alfred, dia penasaran apa Alfred mengoleskan lipstik pada bibirnya.
Lynn mau menyentuh dan menghapus warna pink dibibir Alfred, tatapan Lynn terus tertuju pada bibir tebal Alfred. Lynn mengelengkan kepalanya, memukul pipinya dua kali, menyadarkan dirinya.
Tidak peduli bagaimana pandangan Alfred melihatnya sekarang. Dia harus menghilangkan pikiran buruknya tentang bibir Alfred, sebelum dirinya di cap sebagai wanita mesum.
"Mari, kita melihat isi paper bag ini," batin Lynn.
"Ini adalah hadiah ulang tahun dariku, jadi selamat ulang tahun," ucap Alfred.
Lynn menatap Alfred, mendorong paper bag itu kembali ke pelukkan Alfred. Alfred tidak mengerti kenapa Lynn menolak hadiahnya, wajah Lynn mengerikan seperti baru menginjak kotoran.
Lynn melambaikan tangannya pada taksi, dan pergi tanpa menoleh kebelakang begitu barang-barangnya sudah dimasukkan kedalam bagasi mobil.
Alfred tertawa aneh, dia tidak sempat menghentikan Lynn. Mau melemparkan paper bag namun tidak jadi, Alfred masih ingat dia memasukkan ponsel Lynn didalam sana.
__ADS_1
"Apa susah mengucapkan terima kasih?!" Alfred membuka paper bag, belum satu menit Alfred menutupnya secepat kilat.
Alfred melirik ke kiri dan ke kanan memastikan tidak ada siapa pun di samping mau pun dibelakangnya. Alfred mengintip lagi kedalam tas, wajah Alfred berubah menjadi serius.
Sekarang dia mengerti apa penyebab perubahan wajah Lynn, isi paper bag ini cukup untuk menjadi alasannya.
"Tuan Alfred, dimana sekertaris Lynn?" panggil Krisan.
"Dia sudah pergi." Alfred melemparkan paper bag pada Krisan, masuk kedalam mobil.
Krisan mengaruk kepalanya bingung, memasukkan koper ke dalam bagasi. Krisan duduk di tempat supir, menaruh paper bag di tempat samping, melirik Alfred dari kaca depan.
"Kita akan langsung ke perusahaan?" tanya Krisan menyalakan mobil.
"Tidak, pergi ke apartemen Lynn." Alfred duduk bersandar menatap keluar.
...🍒🍒🍒...
Di Apartemen Lynn
Lynn duduk ditepi kasur, membiarkan tubuhnya turun kebawah menyentuh kasur empuk miliknya.
"Arghh," Jerit Lynn, menghentakan kakinya ke karpet bulu, yang tidak akan meninggalkan rasa sakit pada jari kakinya.
Lynn membenamkan wajahnya kedalam bantal, tidak mau memikirkan apapun. Suasana hatinya benar-benar berantakan sekarang, Lynn mau menutup mata dan telinganya untuk hari ini, hanya hari ini.
"Aku mau memukulnya!" geram Lynn.
"Kamu mau memukul siapa?"
Lynn terkikik pelan, memukul bantal guling disebelahnya, memikirkan betapa gilanya dia sampai-sampai berhalusinasi mendengar suara Alfred di apartemen miliknya.
"Haha ... sekarang aku bahkan berimajinasi mendengar suaranya." Lynn mengejek dirinya sendiri.
"Apa, kau berimajinasi tentang siapa?"
Lynn membuka matanya lebar-lebar, kali ini telinganya tidak salah dengar. Lynn bangun, melihat Alfred bersandar pada pintu.
Lynn mengambil selimut menutupi dirinya, mengambil bantal dan melemparkannya sekuat tenaga agar mengenai wajah Alfred.
"Kenapa kamu bisa berada dirumahku?" bentak Lynn menatap Alfred penuh kewaspadaan.
"Aku mampir untuk memberikan hadiah. Tetapi pintu masukmu itu terlalu mudah untuk dibobol, kenapa kamu memasang kuncinya menggunakan tanggal lahirmu?" Alfred mengangkat paper bunga ditangan kanannya.
__ADS_1
"Itu bukan urusanmu, dan aku tidak mau hadiahmu. Dasar pria mesum!" pekik Lynn mengeluarkan tangannya mengusir Alfred.
"Siapa yang kau sebut pria mesum?! Aku cuma membeli ini." Alfred mengeluarkan barang dari paper bag.
"Tidak jangan rusak kesucian mataku," Lynn menutup tubuh dan matanya menggunakan selimut besarnya.
Lynn tidak tau apa yang dikeluarkan Alfred dari paper bag, mengingat isi paper bag membuat tubuh Lynn merinding.
"A-apa yang kamu lakukan? jangan tarik selimutku!" teriak Lynn menahan selimutnya sekuat mungkin.
Selimut Lynn berhasil ditarik, Lynn menutup matanya menggunakan kedua tangannya. telinganya bisa mendengar suara sesuatu meluncur jatuh kebawah, Lynn berdiri membelakangi Alfred.
"Ti-tidak, keluat dari kamarku sekarang!!"
Lynn diam tidak bergerak, bunyi lonceng merdu. Lynn memutarkan badannya. Membuka sedikit cela di jarinya, Lynn melepaskan seluruh tangannya dari wajahnya mendekati Alfred.
"Apa ini?" tanya Lynn penasaran, mendorongnya pelan.
"Ini furin atau lonceng angin."
Mulut Lynn berbentuk huruf o, Lynn mengangkat kepalanya matanya bertemu dengan mata obsidian Alfred.
Sementara itu ...
Krisan berdiri di tempat pembuangan sampah, menatap paper bag putih di tangan kanannya. Alfred menyuruhnya membuangnya ditempat sampah dan Alfred langsung pergi begitu saja tanpa menjelaskan apapun lagi.
"Apa sih isinya?" Krisan membuka sedikit cela paper bag, mengintip kedalam.
"Astaga, Tuan Alfred!!" Krisan menutup paper bag secepat mungkin.
"Krisan?"
Panggilan mengejutkan itu membuat Krisan menjatuhkan paper bag, dan barang-barang didalamnya terlempar keluar. Seolah paper bag itu memuntahkan semua isinya, borgol, cambuk, stoking hitam, pisau dan boneka kayu, bertaburan.
Krisan memungutnya dan memasukkan kedalam paper bag lagi, dia seharusnya mendengarkan nasihat Alfred untuk membuangnya tanpa melihat isinya, sekarang dia malah tertimpa kemalangan.
"Ini yang terakhir," gumam Krisan memungut boneka kayu, kepala boneka kayu tiba-tiba putus dari tali penahannya.
Kepala itu bergelinding pergi, berhenti didepan sepatu cream. Krisan mengangkat kepalanya melihat siapa pemilik dari sepatu cream itu, wajah Krisan berubah pucat.
"Ya-Yasmin!"
Krisan berhenti bergerak, jika Yasmin berdiri didepannya maka otomatis Yasmin sudah melihat semuanya dari awal.
__ADS_1
"Aah ... aku ingin menghilang saja," lirih Krisan dalam hatinya.