
Alfred berdiri didepan pintu kamar hotel, tangannya terangkat hendak mengetuk pintu tetapi berhenti sebentar, menatap tangannya yang sudah terangkat.
Kening Alfred berkerut, menyimpan tangan kanannya kedalam saku celana dan membuka pintu menggunakan tangan kiri.
Ceklek...
Alfred berjalan masuk, tidak lupa menutupi pintu pelan-pelan agar tidak membangun Lynn yang tertidur sambil membelakangi Alfred. Melangkahkan kakinya yang panjang mencoba tidak membuat suara sama sekali.
Kening Alfred berkerut lagi, mengacak rambutnya.
"Kenapa aku melakukan hal aneh terus dari tadi?" Geram Alfred, menatap tajam Lynn yang tertidur nyenyak.
"Hei kenapa kau tidur disini?" Bentak Alfred berdecak pinggang menatap Lynn yang sudah terbangun mengerjapkan matanya berkali-kali.
Lynn menatap Alfred dengan tatapan linglung, nyawanya masih belum terkumpul semua. Wajah Alfred berubah menjadi kesal, menarik selimut dan membuangnya ke lantai.
"Kenapa kamu memakai pakaianku?" Kening Alfred berkerut tidak suka, Alfred membuang wajahnya memilih melihat ketempat lain.
__ADS_1
"K-karena didalam lemari tidak ada pakaian yang bagus hanya ada jaring ikan didalam sana, aku juga tidak tau dimana Mama meletakkan tas kecil yang aku bawa." Jelas Lynn.
"Kenapa aku harus memakai pakaian yang tidak nyaman seperti jaring ikan sementara ada kemeja yang nyaman." Tambah Lynn,
"Jaring ikan?" Tanya Alfred bingung, melangkah mendekati lemari dan membukanya. Alfred mengeluarkan satu set pakaian yang Lynn kata jaring ikan, tertawa dingin.
Melemparkan sepuluh set jaring ikan bermacam-macam warna kedalam tong sampah yang terletak tidak jauh dari sana, Alfred mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan menelepon seseorang.
Alfred berdecak kesal, panggilannya tidak dijawab sama sekali. Melirik Lynn dengan tatapan tajam, Lynn tidak tau apa kesalahannya memasang wajah polos.
"Buang kemeja itu kedalam tong sampah karena aku tidak ingin melihat atau pun memakainya lagi." Alfred menunjuk kemeja yang dipakai Lynn dengan jari telunjuk dan mengarahkannya lagi kearah tong sampah.
Pintu kamar langsung tertutup begitu Alfred selesai berbicara, Lynn melongo tidak percaya dengan pendengarannya.
"Kamu pikir aku memiliki sebuah penyakit yang menular apa?" Teriak Lynn tidak terima, mengambil bantal mau menempatkannya kearah pintu, berhenti karena pintu kamar terbuka lagi memperlihatkan Alfred.
Alfred masuk kedalam kamar, wajahnya datar dan dingin seolah-olah tadi yang masuk kedalam kamar bukan dirinya.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Alfred.
"T-tidak, aku hanya mau mengambil bantal dan pindah kesofa." Alasan Lynn menurunkan bantal dan menepuknya pelan, Lynn tertawa canggung.
"Baguslah kalau begitu." Alfred berjalan menghampiri kasur, Lynn menelan saliva kasar otaknya mulai berpikiran buruk, menutup matanya rapat-rapat.
"Dia gak bakal pukul orang kan? Tapi kok gak sakit yah?" Tanya Lynn dalam hatinya, membuka matanya perlahan-lahan.
"Apa sih yang kau lakukan?" Alfred menatap Lynn bingung, Lynn segera bangkit dari tempat tidur menuju sofa, telinga Lynn memerah karena rasa malu yang meledak dalam dirinya.
Lynn menaruh bantalnya, membaringkan tubuhnya. Lynn yang berbaring terlentang menatap langit-langit kamar merasa risih akan tatapan menusuk yang berasal dari kasur.
"Kenapa juga harus hadapan? Kasurku yang empuk." Tangis Lynn dalam hatinya, menarik selimut sampai menutup seluruh tubuhnya.
Alfred menghela nafas, membelakangi Lynn menutup matanya rapat-rapat. Lynn memunculkan kepalanya, melirik Alfred yang mungkin sudah tertidur.
"Selamat malam,Tuan es." Gumam Lynn pelan, ikut menutup matanya, menyusul ke alam mimpi.
__ADS_1