Aku Menikahi Tuan Es?!

Aku Menikahi Tuan Es?!
Chapter 42


__ADS_3

"Dasar tidak sopan." Jerit pria itu menurunkan tangan Lynn, matanya melotot melalui kacamata.


Ceklek...


Krisan mengangkat kotak berisi kopi tinggi, tangannya menurun secara perlahan. Dia tidak tau apa-apa yang terjadi hingga membuat suasana didalam ruangan ini terasa sangat aneh.


"Oh... Tuan Krisan." Panggil pria berkacamata itu.


Pria berkacamata itu melepaskan tangannya dari tangan Lynn karena tatapan Krisan tidak terahlikan hanya tertuju pada tangannya yang memegang tangan Lynn.


"Terima kasih atas bantuannya asisten Viky, kamu bisa kembali ketempatmu sekarang." Usir Alfred bangun dari kursinya berjalan menghadap kaca.


"Baiklah Direktur, semoga hari anda menyenangkan." Kata pria berkacamata itu yang tidak lain adalah Viky, berbalik dan pergi.


Ceklek...


Pintu tertutup begitu saja, Lynn bisa mendengar suara helaan nafas yang panjang datang dari depannya. Lynn mengangkat kepalanya, tetapi tatapan matanya malah bertemu dengan mata gelap Alfred.


"Nona Lynn, maafkan aku karena tadi tidak menjemputmu." Jelas Krisan, Lynn tersenyum canggung.

__ADS_1


"Krisan." Panggil Alfred tajam, Lynn menciut takut padahal dirinya tidak melakukan kesalahan apa pun.


Krisan berjalan menghampiri Alfred, dan berdiri disampingnya. Alfred memasukkan tangannya kedalam saku celana, berjalan dan duduk kembali dikursi putarnya.


"Siapa yang mengizinkanmu untuk merekrut sekertaris baru?" Kening Alfred berkerut tidak suka.


"Kan waktu itu aku sudah bertanya padamu, aku belum menyelesaikan perkataanku dan kamu langsung memotongnya dengan jawaban terserah." Krisan mencoba mengingatkan Alfred.


Alfred terdiam sesaat-sesaat, kursinya memutar dan menghadap kearah Lynn, Lynn merasakan perasaan tidak enak menyelimuti dirinya.


"Lalu kenapa harus gadis ini yang menjadi sekretarisku?" Jari telunjuk Alfred menunjuk Lynn.


"Yah... Karena hanya Nona Lynn yang tau situasi anda sebenarnya dan juga berita tidak akan mudah menyebar. Kalian bisa saling menjaga syarat-syarat yang ada dalam kontrak." Krisan tersenyum tidak bersalah.


Alfred berpikir sejenak, pendapat nya mengatakan kalau apa yang dikatakan Krisan padanya sangat masuk akal tetapi rasa egonya mengalahkan dirinya sendiri.


"Tentu saja tidak harus dia." Tegas Alfred, menarik dasinya agar melongar.


"Kenapa? Apa anda akan memecatnya sekarang?"

__ADS_1


"Permisi." Cicit Lynn pelan, tatapan tajam Alfred lngsung berpindah ke dirinya.


"Rasanya menyesal aku berbicara." Gumam Lynn dalam hatinya.


"Apa anda akan memeberikan saya kesempatan untuk bekerja dulu dan jika saya melakukan kesalahan yang tidak bisa ditoleransi maka saya akan ikhlas dipecat." Jelas Lynn, memainkan jari kecilnya yang sedikit gemetar takut akan keputusannya.


"Baiklah kalau begitu, kamu harus menunjukkan sikapmu itu." Alfred memutar kursinya menghadap kaca. Krisan tersenyum senang, berjalan mendekati Lynn.


"Baiklah Nona Lynn, ayo kita keluar aku akan menunjukkan tempatmu." Krisan membukakan pintu untuk Lynn, Lynn keluar dengan ruangan Alfred dan mengambil nafas sebanyak mungkin.


Dia tidak tau kalau dia bakal satu perusahan dengan Alfred, Lynn melirik Krisan dengan tatapan curiga. Lynn sangat ingat waktu hari wawancara dia mengambil bagian manajemen dan kenapa sekarang dirinya sesat menjadi sekertaris Alfred.


"Nona Lynn ini tempat kita berdua akan bekerja, anda bisa mengambil bagian kiri atau pun kanan sesuai tempat yang anda suka." Krisan menunjuk satu meja lebar yang ada dihadapaannya.


"Oh... Maafkan aku, aku lupa untuk memperkenalkan diri secara resmi. Ehem.. Hem... Nama saya Krisan Xifiro." Kata Krisan sambil membetulkan kacamatanya.


"Evelynn Cornelius, Tuan Krisan." Lynn mengulurkan tangannya mau berjabat dengan Krisan.


Tangan Lynn hampir menyentuh tangan Krisan tapi tiba-tiba datang suara dehemen dari belakang membuat mereka berdua kaget dan bertingkah aneh.

__ADS_1


Ahem...


__ADS_2