Aku Menikahi Tuan Es?!

Aku Menikahi Tuan Es?!
Chapter 66


__ADS_3

"Begitukah? Kalau begitu aku akan membeli yang baru. Terima kasih atas bantuannya." Kata Lynn tersenyum dan berjalan menuju perusahaan.


"Haah! Seorang pembantu? Mana Mungkin seorang pembantu mampu membeli ponsel mahal? Paling-paling itu pasti ponsel bekas." Sarkas Lydia.


Mengibaskan rambut panjangnya dan berjalan pergi. Lynn melirik Lydia yang berjalan di tepi jalan sambil melambaikan tangannya menghentikan taksi. Lynn hanya tersenyum dia tidak terlalu peduli dengan apa yang dikatakan Lydia.


Lynn berjalan memasuki perusahaan, langkah kakinya langsung menuju lift. Didalam lift hanya ada Lynn seorang, Lynn memencet angka 35.


Nomor mulai bertukar dari 1 menuju 2, Lynn menyandarkan tubuhnya didinding. Padahal ini masih pagi tapi rasanya tubuhnya sangatlah berat seolah dia sudah bekerja seharian penuh.


Lynn memasukkan ponselnya yang retak kedalam tas, pintu lift terbuka dan didepannya sudah berdiri 3 wanita yang menghalangi jalan Lynn.


"Astaga sekertaris Lynn kamu terlambat! Sebagai seorang sekertaris seharusnya kamu datang tepat waktu." Oceh Ana memutar matanya, memberikan kode ke dua temannya.


Sinta duduk manis dimejanya memantau perbuataan manis teman-temannya untuk dirinya.


"Benar aku datang terlambat, jadi bisakah kalian membiarkan aku lewat?" Tanya Lynn tersenyum tipis.


Ana melototkan matanya, tidak terima perkataan Lynn, Pina yang merasakan firasat buruk menarik tangan Lita dan menyuruhnya duduk ditempatnya lagi.


"Ana." Panggil Pina, memegang tangan Ana.

__ADS_1


Ana melirik Pina kesal, wanita didepannya ini sangat pengecut dan tidak berguna selalu saja bergerak mundur, Ana menghempaskan tangan Pina.


"Kamu bisa pergi sendiri. Aku ada urusan dengan sekertaris Lynn." Ana menatap Lynn penuh kesinisan.


Ana menatap Lynn dari atas sampai kebawah layaknya seorang manager berpengalaman, Pina menghela napas berbalik pergi meninggalkan Ana.


Sekarang hanya ada Ana dihadapan Lynn, Lynn menatap Ana. Tinggi badan dirinya dan Ana sedikit berbeda. Lynn lebih tinggi dan Ana lebih rendah dari Lynn, Lynn menurunkan tinggi badannya, Mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi badan Ana.


"Apa kamu ingin dimarahin sekertaris Krisan? atau dipecat?" Bisik Lynn ditelinga Ana.


Lynn tersenyum tipis, Ana mengertakkan giginya kesal. Berbalik dan duduk manis ditempat duduknya, walaupun begitu tatapan tajam masih dilontarkan Ana sampai Lynn berjalan menuju ruangan terpisah.


Lynn mendaratkan tubuhnya dikursi empuk miliknya, tumpukan kertas masih menggunung di meja, Lynn mengambil laporan dan tabloid jadwal hari ini.


Mengambil langkah berat menuju ruangan Alphard, tangan Lynn terangkat ingin mengetuk pintu tetapi dirinya ragu dan menurunkan tangannya kembali ke posisi semula. Lynn menghilangkan nafas pelan dan mengetuk pintu kaca, menampilkan bayangan Alfred sedang duduk di mejanya.


Tok... Tok... Tok


Mendengar suara ketukan Alfred sibuk dengan komputer, mengangkat kepalanya melirik Lynn sebentar lalu menurunkan pandangannya lagi memeriksa berkas.


"Hari saat ini anda hanya mempunyai janji makan siang dengan Tuan Alqitorio, dan rapat mengenai acara tahunan untuk merayakan ulang tahun perusahaan." Lynn membacakan jadwal Alfred dan menaruh tabloid diatas meja.

__ADS_1


"Dan ini laporan yang anda minta waktu itu, laporan ini sudah saya rapikan. Oh... Dan ini berkas yang memerlukan tanda tangan anda." Jelas Lynn menaruh laporan dan map biru diatas meja.


"Bagaimana caranya merapikan berkas sementara kamu juga bekerja saat malam hari?" Gumam Alfred pelan melirik laporan Lynn bosan.


"Ya?" Lynn memiringkan kepalanya bingung.


"Tidak! Pergilah." Usir Alfred.


Lynn membungkuk sebentar memalingkan wajahnya berjalan pergi, tetapi baru dua langkah Alfred memanggil dirinya lagi.


"Urus dokumen penting yang ada didalam map hitam itu, karena Krisan tidak masuk hari ini." Titah Alfred menggunakan jari telunjuk nya menunjuk rak biru tersusun dengan map hitam.


Dibawah rak terdapat kertas berserakan dan juga kardus terisi penuh dengan berbagai macam buku dan barang.


"Baiklah." Lynn mengigit bibirnya, dari tadi dia tidak berani menatap mata Alfred.


Lynn berjongkok mulai memungut kertas satu persatu, mengumpulkan kertas menjadi satu tumpukan.


Selesai menumpuk kertas Lynn mengangkat kertas itu, Lynn baru memutar tubuhnya dikejutkan dengan Alfred yang tiba-tiba berdiri didepannya.


Srak... Srak...

__ADS_1


__ADS_2