
Lynn duduk menghadap jendela, air hujan membasahi jendela mengalir turun ketika tumpukan air mencapai batasnya.
"Haa..." Lynn menghela napas panjang, mungkin karena urusannya dengan Arga sudah terselesaikan Lynn merasa hatinya terasa tenteram.
"Ugh..."
Lynn mengalihkan tatapannya dari jendela menuju kasur pasien, dimana ayahnya sedang berbaring diatasnya.
Ayah Lynn membuka matanya, Lynn menggenggam tangan Rayhan erat-erat, senyuman mengalir begitu saja dari bibirnya.
"Papa... Akhirnya kamu sadar juga!"
"Eem... Maaf Papa sudah membuatmu khawatir." Rayhan tersenyum mengangkat tangannya mengelus kepala Lynn.
"Huk..."
Lynn menahan tangisnya, padahal dia tidak cengeng tapi kenapa saat dia merasakan kehangatan kecil ini hatinya terasa meleleh dan menghangat.
"Maaf yah sayang."
Lynn mengerucutkan bibirnya kesal pada Ayhanya, menatap Rayhan dengan tatapan kesal.
"Kenapa Papa melakukan itu? Seharusnya Papa biarkan saja. Bagaimana kalau sesuaatu yang buruk terjadi pada Papa?"
"Tentu saja Papa harus menghindar, Seorang Ayah tidak akan tega melihat putrinya terluka apalagi menyakitimu." Kata Rayhan tersenyum seolah tidak ada yang terjadi.
"Tapi aku.. Huk..." Lynn mengigit bibirnya agar suara tangisnya tidak bocor.
__ADS_1
"Sudahlah Papa tidak apa-apa. Jangan menangis sejak kapan putri Papa menjadi begitu cengeng?" Goda Rayhan.
Lynn terkikik pelan, menghapus bekas air mata yang ada dipipinya. Senyuman mengembang diwajah Lynn, Rayhan menepuk tangan putri kecilnya yang entah sejak kapan tumbuh menjadi seorang wanita yang begitu mirip dengan ibunya.
Uhuk... Uhuk...
"Papa minumanlah air ini sejak tadi Papa belum minum." Lynn menyodorkan segelas air putih pada Rayhan.
Rayhan mencoba bangun dari rebahannya, Lynn menaruh gelas ditangannya ditempat semula dan mengulurkan tangannya membantu Rayhan untuk duduk dengan nyaman, menggunakan bantal sebagai tempat sandaran.
Rayhan mengambil posisi yang nyaman duduk bersandar pada sandaran, Lynn memberikan air minum pada Rayhan. Rayhan mengambil gelas dari tangan Lynn mulai meneguknya sedikit.
Selesai minum Lynn mengambil gelas yang ada ditangan Rayhan, dan menaruhnya dimeja samping.
"Papa maaf." Cicit Lynn pelan, menundukkan kepalanya tidak berani menatap mata Rayhan.
"Maaf, karena Eve udah keras kepala dan menghindari Papa. Papa udah larang Eve jangan nikah tapi Eve tetap nekat." Lynn menundukkan kepalanya.
"Sudahlah, Papa tidak mempermasalahkan hal itu." Rayhan tersenyum pelan, mengangkat tangannya mengelus kepala Lynn.
Ehem...
Alfred berdehem memberikan kode pada ayah anak itu kalau saat ini ada seseorang yang sedang berdiri disini. Alfred menyilangkan tangannya bersandar pada pintu masuk, dari tadi dia sudah memperhatikan suasana Lynn dan Rayhan.
Alfred hanya diam memantau, dia tidak mau suasana nyaman yang sudah tercipta tadi menjadi rusak hanya dengan kemunculan dirinya.
"Oh... Alfred apa yang kau lakukan disini?" Tanya Rayhan.
__ADS_1
"Tentu saja aku datang untuk menjenguk ayah mertua."
Alfred tersenyum berjalan masuk menghampiri Rayhan, Lynn menoleh ke samping melototkan matanya pada Alfred.
Alfred tiba-tiba merangkul Lynn penuh dengan kemesraan, seketika tubuh Lynn merinding. Lynn bisa mendengar suara napas Alfred, jarak wajah Alfred terbilang sangat dekat dengan pipi Lynn.
"Aku tidak bisa membiarkan 'istri-ku' sendirian menjaga ayah." Alfred melontarkan kata-kata manis.
"Jauhkan tanganmu dari putri-ku." Rayhan melirik Alfred tajam.
"Ayah mertua, 'putri-mu' ini adalah 'istri-ku'." Alfred tersenyum menatang Rayhan.
"Sejak kapan dia menjadi 'istri pria asing'. Aku tidak merestui." Bantah Rayhan.
"Hoho... Walaupun begitu kami berdua sudah 'sah' ayah." Alfred menakankan kata-katanya.
"Kalian hanya memerlukan selembar kertas." Rayhan tersenyum mengangkat bendera kemenangan.
"Kami ini masih pengantin baru, apa ayah tega melakukan itu?" Alfred tidak mau mengalah.
Lynn merasakan telinga sudah cukup panas mendengar debat kanak-kanakan yang dilakukan dua pria dewasa didepannya ini.
"Ay-"
Drett... Drett...
Suara panggilan masuk memotong perkataan Lynn, Alfred yang membungkuk didekat Lynn. Berdiri dengan benar, Alfred mengeluarkan ponselnya dari saku jasnya.
__ADS_1
"..."