
"A-apa?? Tidak, tidak kamu pasti sedang bercandakan?" tanya Lynn, tidak mempercayai ucapan Alfred.
"Apa aku pernah bercanda? Aku selalu serius dengan perkataanku." Alfred menurunkan tangannya menatap Lynn.
"Tidak .... tapi, sebentar lagi aku mau mengundurkan diri," cicit Lynn pelan.
"Apa aku bisa menolak posisi itu? Kalau menjadi sekertaris pribadi berarti aku harus me-"
"Tidak, kamu tidak bisa menolak dan kamu akan bersamaku selama jam kerja dan Krisan akan menjelaskannya padamu sedikit demi sedikit nantinya." Alfred memotong perkataan Lynn, bangkit dari tempat duduknya berjalan mendekati Lynn.
Kepala Lynn tertunduk tidak berani menatap wajah Alfred, dia tidak mau kalau Alfred bakal menyadari perasaan yang sudah lama dia sembunyikan selama ini.
Tak tak tak
Ujung sepatu hitam, berada tidak jauh dari sepatu Lynn, Lynn mengangkat wajahnya dengan bibir cemberut.
"Kamu pikir aku bakal takut ... Hhng," batin Lynn.
"Seorang sekertaris tidak boleh menundukkan kepalanya dalam keadaan apa pun," tutur Alfred, kedua tangannya berada disaku celananya.
"A-aku juga tidak berniat menjadi sekertaris pribadimu!" tegas Lynn mengangkat wajahnya lebih tinggi.
Alfred menatap Lynn penuh arogansi, Lynn tidak mau mengalah menajamkan tatapan mata. Terjadilah acara tatap menatap antara Lynn dan Alfred, Alfred dan Lynn bersikeras tidak mau mengucapkan apa pun dan siapa yang membuka mulutnya, berbicara akan kalah.
Klek
"Tuan Alfred, tiket penerbangan untuk negosiasi dengan Tuan Akio Satana sudah saya pesan," Jelas Krisan.
"Kenapa kalian saling menatap? Apa aku datang diwaktu yang salah lagi?" tanya Krisan, melemparkan tatapan bingung antara Lynn dan Alfred secara bergantian.
__ADS_1
Lynn dan Alfred tidak menghiraukan Krisan, fokus dengan tatapan satu sama lain. Krisan merasa penjahat, selalu saja berada ditengah momen dan merusak suasana, tapi apalah daya Krisan, dia harus mengurus pekerjaan sekaligus jadwal bosnya.
"Maafkan saya, permisi sebentar," kata Krisan, menengahi Lynn dan Alfred.
"Tuan Alfred, kita harus bergegas menuju bandara, walaupun barang-barangmu sudah aku persiapkan," jelas Krisan.
"Bandara?" beo Lynn tanpa sadar.
Alfred baru mau menjawab Krisan, Lynn bergerak mendahului dirinya. Alfred tersenyum menang, berjalan satu langkah mendekati Lynn.
"Karena kamu sudah kalah jadi kamu tidak bisa menolak, bersiaplah kamu akan berangkat bersamaku." Alfred mendorong kening Lynn pelan, lalu berjalan keluar meninggalkan ruangannya.
Senyuman tipis menaikan sudut bibir Alfred, Krisan sangat jarang melihat Alfred tersenyum seperti itu, mulutnya terbuka sedikit. Menatap Lynn dan Alfred secara bergantian, Krisan tersenyum senang menatap Lynn.
Lynn mengelus dahinya, melirik Alfred tajam. Aura kebencian mengkilat sebentar di mata bulat Lynn, bibir Lynn komat-kamit layaknya memaparkan mantra jahat.
"Sekertaris Lynn, kamu harus bergerak karena sebentar lagi kita akan terbang ke negeri matahari terbit," Krisan menepuk-nepuk pundak Lynn.
"Tidak." bantah Krisan tanpa melepaskan kesempatannya untuk menghentikan Lynn menolak.
Lynn berpikir keras, menggigit bibir bawahnya mencari alasan yang masuk akal.
"Ah ... aku tau, aku belum bersiap," Lynn berseru senang, melipat tangannya diatas dada.
Krisan menaikan salah satu alisnya, mempertanyakan pernyataan Lynn. Krisan hendak membuka mulutnya, tetapi Alfred lebih dulu menjawab Lynn.
"Kamu hanya tinggal naik mobil, persiapan apa lagi yang kurang?" Alfred berdecak pinggang, menatap Lynn dari atas karena perbedaan tinggi badan mereka.
Lynn memutar otaknya, sekarang dia harus mencari alasan baru lagi. Alfred memegang keningnya bingung, meraih tangan Lynn dan menariknya keluar dari ruangannya.
__ADS_1
"Eei, aku mau dibawa kemana?" Teriak Lynn melepaskan genggaman tangan Alfred dari tangannya.
Perjuangan Lynn melepaskan tangannya dari gengaman tangan Alfred gagal total, cengkraman Alfred cukup erat.
"Tolong aku! Aku diculik, tolong!" Teriak Lynn, menahan kakinya untuk tidak mengikuti setiap langkah yang diambil Alfred.
Lynn sudah menahan kakinya sekuat tenaga, ahli tidak bergerak justru dirinya ditarik pergi berselancar di lantai marmer, Alfred tidak terganggu sama sekali, berat tubuh Lynn terlalu ringan menurutnya.
Alfred tersenyum tampan, entah kenapa teriakan Lynn tidak membuatnya kesal, di setiap tempat dimana Lynn, Alfred dan Krisan lewati semua karyawan menoleh begitu mendengar teriakan Lynn.
Mereka kembali menundukkan kepala dan pura-pira tidak mendengar teriakan Lynn, saat Krisan melirik mereka tajam. Alfred melepaskan tangan Lynn saat mereka sudah berada di parkiran mobil.
"Aku udah bilang gak mau pergi!" gertak Lynn kesal, mengosok pergelangan tangannya.
"Aku akan membiarkanmu tidak pergi dengan satu alasan yang logis."
Lynn tersenyum senang sambil bertanya, "Benarkah? kamu gak bohongkan?"
Alfred menatap jam tangannya, lalu melemparkan tatapannya pada Lynn.
"Eeem, aku tidak bawa koper ... yah, koperku gak ada!"
Alfred menjentikkan jarinya, Krisan berjalan mendekat sambil menarik dua koper berwarna biru laut dan satunya lagi berwarna hitam mendekat.
"Loh? kok bisa ada disini?" tanya Lynn bingung.
Alfred membuka pintu mobil dan duduk didalam, menunggu Lynn masuk. Bibir Lynn terkulai lemah, dia masih tidak mau mengalah.
"Tasku dan ponsel tertinggal di atas meja."
__ADS_1
Krisan mendorong Lynn masuk dan duduk disebelah Alfred lalu menutup pintu. Krisan tersenyum profesional, mengangkat tas Lynn di tangan kanannya.
"Aish," Lynn mengeluh kecewa.