
Lynn menatap Arga dengan tatapan galak, Arga mengalihkan pandangan kesamping tidak berani menatap atau menoleh kearah Lynn.
Pftt...
Suara tawa bocor dari bibir Arga, Lynn yang melihat ke samping melototkan matanya pada Arga.
"Ka-kamu berani tertawa?" Lynn tergagap-gagap, kini dia merasa amarahhya sudah mencapai batasnya.
"Ha ha ha... Maafkan aku wajahmu terlalu lucu." Ungkap Arga, menggunakan tangannya menahan tawanya.
"Apa? Lucu?" Ulang Lynn, kening Lynn berkerut tidak setuju.
"Sejak kapan orang marah itu berubah menjadi lucu? Haa?" Geram Lynn memukul lengan Arga.
"Ha ha... Aku minta maaf. Baiklah Aku akan berhenti tertawa." Arga menahan napas dan menghembuskannya.
"Sudahkan?" Arga tersenyum tipis, mendorong kening Lynn yang berkerut.
"Apa yang kau lakukan?" Protes Lynn tidak suka.
"Jangan terlalu sering mengerutkan kening, nanti cepat tua." Ledek Arga.
"Terserah aku tidak peduli." Lynn memalingkan wajahnya.
__ADS_1
Arga terkekeh pelan, dia bisa yakin Lynn sedang mengembungkan pipinya. Arga sudah sangat hapal semua kebiasaan kecil Lynn, disaat dia sedang gugup, berbohong, kesal dan marah.
Pintu ruangan ICU terbuka, Lynn dan Arga otomatis langsung berdiri dan berlari menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruangan.
"Dokter, Apa yang terjadi dengan Ayahku?" Tanya Lynn.
Dokter itu membetulkan letak kacamatanya, melemparkan tatapannya pada Lynn dan Arga secara bergantian.
"Oh... Saya temannya." Kata Arga tersenyum pahit.
Dokter itu menganggukkan kepalanya paham.
"Nona, ayah anda tidak mengalami kecelakan serius. Dia hanya mengalami luka dikeningnya, selebihnya beliau baik-baik saja." Jelas Dokter itu.
"Haa.. Syukurlah." Lynn menghela napas, mengelus dadanya lega.
Lynn mengikuti petunjuk yang diberikan Dokter lalu menganggukkan kepalanya paham.
"Permisi." Dokter itu berbalik dan berjalan pergi.
"Terima kasih banyak Dok." Ucap Lynn.
Arga menatap Lynn yang lebih rendah dari dirinya, dia bisa melihat ada kelegaan dan juga kebahagian diwajah Lynn.
__ADS_1
"Pergi, temui paman biar aku yang mengurus bagian administrasinya." Arga mengelus kepala Lynn.
Lynn menyipitkan matanya, menatap Arga tidak percaya. Arga terkekeh pelan menatap Lynn, wajah Arga mengeras, senyuman yang ada dibibirnya hilang entah ditelan apa.
Lynn yang hendak menoleh ke belakang dihentikan tangan Arga, Arga menggunakan kedua tangannya menahan wajahnya Arga Lynn tetap menatap dirinya.
"Aku akan menjelaskan kesalahan pahaman kita nanti. Aku akan mengurus administrasinya paman." Bisik Arga ditelinga Lynn.
"Dan Eve jangan melihat kebelakang, teruslah melangkah ke depan, Ayo pergilah. Paman pasti menunggumu." Tambah Arga tersenyum tipis.
Lynn tidak paham apa yang dikatakan Arga, dia melangkah ke depan menuju ruangan ayahnya.
Arga menatap punggung Lynn yang terus berjalan kedepan, senyuman yang ada diwajahnya langsung hilang. Arga memasang wajah dingin melirik pria yang berjalan menuju kearahnya.
"Wow... Siapa ini? Kenapa kamu bisa bersama Lynn? Arga!" Tanya pria itu, memasukkan tangannya kedalam saku celana.
Arga tersenyum sinis, menatap pria yang ada dihadapannya dingin. Arga mengambil beberapa langkah berjalan mendekati pria itu.
"Kedatanganku disini tidak ada hubungannya dengan dirimu Tuan muda. Lagi pula... Terserah Eve dia mau bersama siapa." Kata Arga memasang wajah datar.
"Sejak kapan aku bertanya tentang dirimu?" Kata pria itu, berjalan mendekat lalu membungkukkan badannya berbisik ditelinga Arga.
"Dan juga jaga mulut-mu untuk tidak sembarangan menyebut nama wanita yang sudah menikah." Bisik Pria itu, memprovokasi Arga.
__ADS_1
"Alfred Kernes!!" Teriak Arga.
"Kenapa?" Tanya pria itu yang tidak lain adalah Alfred, Alfred menyeringai senang.