
Lynn membuka mata kanannya pelan-pelan, Alfred tidak ada di depannya, Alfred tengah melepaskan kemejanya berganti ke kaos. Lynn berbalik ke dinding, wajahnya marina malu.
Mata Lynn melebar tidak percaya dengan penglihatan yang hanya beberapa detik, Lynn memukul pipinya pelan.
"Sadar Eve." Gumam Lynn mengipasi dirinya.
"Gak apa kali?" Tanya Lynn dalam hatinya, melirik pelan-pelan dan Alfred sudah memakai kaosnya dan menatapnya dingin.
Lynn langsung melihat kedepan, berusaha setenang mungkin, mengambil nafas dan membuangnya perlahan-lahan.
"Kenapa kamu tidak keluar ?"
"Iya, iya aku keluar." Lynn tersenyum kesel, berjalan keluar.
Alfred berjalan ke kasurnya, mengeluarkan laptop. Lynn menonggolkan kepalanya dibalik pintu, Alfred yang sadar menutup laptopnya dan berjalan menghampiri Lynn.
"Apa lagi?" Tanya Alfred tidak sabaran, Lynn mengaruk pipinya tersenyum kecil.
"Om..."
"Aku bukan Om-mu." Potong Alfred tegas, Lynn mengedipkan matanya berkali-kali.
"Kakak..."
"Aku bukan saudaramu." Potong Alfred lagi.
"Paman..."
"Aku tidak pernah menikah dengan bibimu." Sarkah Alfred memasukkan tangannya kedalam saku celananya.
__ADS_1
"Alfred.." Cicit Lynn pelan melirik Alfred, matanya melihat kebawah saat bertemu dengan tatapan tajam Alfred.
"Aku tidak pernah mengizinkanmu memanggil namaku." Alfred berkata dingin.
"Maunya apa sih orang ini." Ingin sekali Lynn berteriak di depan Alfred sekarang juga, tapi dia hanya bisa menahannya dalam hati.
"Kalau begitu aku harus memanggil apa Tuan Alfred?" Lynn tersenyum ramah tapi kerutan yang ada di wajahnya sesekali tidak bisa disembunyikan.
"Panggil aku Tuan." Kata Alfred puas, Lynn mengangguk paham.
"Baiklah Tu-"
Lynn melotot, Alfred tiba-tiba menariknya kedalam pelukkannya. Lynn yang tidak tau apa-apa mencoba keluar dari pelukan Alfred, Lynn lepas dari pelukan Alfred tanpa hambatan.
"Ada sesuatu dirambutmu." Tangan Alfred terangkat menyentuh rambut Lynn, membersihkan rambut Lynn.
Lynn merapikan rambutnya, Alfred mendekat berbisik pelan ditelinga Lynn.
Lynn bisa mendengar kalau ada suara langkah kaki yang mendekati mereka, suara langkah kaki itu perlahan-lahan menjauh dan menghilang. Alfred mundur beberapa langkah.
"Jangan sampai ada yang mengetahuinya, kamu boleh memanggil namaku jika didepan umum dan kalau kita hanya berdua kamu harus memanggil aku Tuan, ingat itu." Tegas Alfred berjalan pergi, tidak peduli dengan protes Lynn.
"Tapi... Kenapa Wendy bisa disini?" Tanya Lynn mengikuti Alfred, Alfred berhenti berjalan membuat Lynn menabrak punggung Alfred.
"Karena ini rumah dan dia adalah adikku, jadi jangan banyak tanya lagi." Alfred berbalik pergi, menuruni anak tangga meninggalkan Lynn sendirian.
"Bicara baik-baik napa." Gerutu Lynn, menuruni tangga sambil memikirkan kejadian aneh yang tidak dia dapatkan jawabannya kini terjawab.
"Eve Sayang, ayo sini duduk disamping Mama." Hana menepuk bangku kosong yang ada disampingnya.
__ADS_1
Lynn tersenyum, menarik bangku dan duduk, dia baru sadar kalau sekarang dirinya duduk senghadapan dengan Wendy. Hana mengambilkan banyak sekali lauk pauk untuk Lynn.
"Makan yang banyak, kamu itu terlalu kurus." Oceh Hana, Lynn tidak bisa menolak meminta bantuan pada Alfred tapi Alfred malah mengabaikannya seolah dia tidak melihat apapun.
"Sayang, biarkan Lynn yang mengambilnya sendiri." Robert tersenyum pada Lynn lalu kembali fokus dengan makanannya.
"Iya, iya. Dimakan sayang." Hana mengelus kepala Lynn, Lynn tersenyum senang memakan makanan yang sudah diambilkan Hana untuknya.
"Alfred, bagaimana pekerjaanmu." Basa-basi Robert.
"Semuanya baik." Jawab Alfred singkat, Lynn menatap keduanya bingung.
Ruang makan menjadi hening seketika karena percakapan singkat itu, Hana mencoba mencairkan suasana.
"Eve Sayang, kalian akan menginapkan malam ini." Kata Hana, Wendy yang sedang minum tersedak air.
"Astaga Wendy, pelan-pelan." Hana mencabut beberapa helai tisu dan memberikannya pada Wendy.
"Kayaknya gak bisa deh Ma.. Aku besok masuk kerja jadi harus pulang ke apartement."
"Apartement?" Ulang Hana, "Kalian gak tinggal satu atap?" Tanya Hana, Lynn panik tidak tau harus mengatakan apa otaknya mendadak menjadi kosong.
"Kami tinggal satu rumah, cuma Lynn mau mengambil barangnya yang lain." Jelas Alfred melirik Lynn tajam.
"Aku tidak sengaja." Kata Lynn dalam hatinya, Hana dan Robert menatap Lynn.
"Iya, Ma.. Pa.. Aku kan gak bisa langsung membawa semua." Lynn tersenyum kikuk, Robert menghela nafas.
"Ehem... Alfred ikut Papa sebentar ada yang mau Papa bicarakan." Robert bangkit dari tempat duduknya diikuti semua orang ikut berdiri.
__ADS_1
Alfred mengikuti Robert pergi ke ruang kerja Robert, Lynn membantu Hana membereskan piring lalu mereka berdua pindah ke ruang tamu.
"Eve Sayang, Apa Alfred membuatmu kesulitan?" Tanya Hana, menggenggam tangan Lynn yang duduk disampingnya.