Aku Menikahi Tuan Es?!

Aku Menikahi Tuan Es?!
Chapter 105


__ADS_3

Lynn mengira kalau pemilik hotel itu pasti seorang paman atau orang yang sudah hampir berumur berabad-abad layaknya kakek-kakek, namun sekarang dihadapan Lynn tadi hanya ada dua pria muda dan sekarang didepan mejanya ada seorang pria berkacamata, yang selalu setia berdiri disamping Tuan Akio, sementara Krisan duduk disamping Lynn.


Lynn duduk manis, memainkan jari tangannya dibawah meja, menatap makanan mewah tersaji rapi dan indah dimeja. Alfred dan Tuan Akio berada diruangan sebelah menikmati makanan mereka.


Lynn memperhatikan pria didepannya dengan serius dan teliti, dia baru menyadari kalau rambutnya sedikit berwarna coklat jika terkena cahaya matahari, seolah sadar akan tatapan Lynn pria itu mengangkat kepalanya menatap Lynn.


Lynn tersenyum canggung menoleh kekiri, melupakan perbuatannya. Lynn mengangkat daging panggang dan menggitnya, meratapi kebiasaan buruknya yang sulit diubah.


"Sekertaris Krisan, kamu tidak memperkenalkan wanita yang duduk disebelahmu?"


Pertanyaan yang diajukannya, sontak membuat Lynn dan Krisan mengangkat kepalanya secara bersamaan, Lynn menatap Krisan bingung, dia tidak tau bahasa inggris akan mengalir keluar dari bibir pria didepannya.


"Ah ... aku sekertaris Lynn, sekertaris baru," jawab Lynn tersenyum.


"Lynn? Nama yang cantik, selamat datang di Jepang. Aku sekertaris Tuan Akio, Haruki," Haruki berdiri mengulurkan tangannya pada Lynn.


Lynn berdiri menjabat tangan Haruki, duduk kembali ketempatnya. Krisan menatap Haruki dan Lynn secara bergantian, berpikir sejenak.


"Sepertinya kamu baru pertama kali datang ke Jepang?" tanya Haruki, meletakkan peralatan makan di atas meja, mengakhiri sarapannya


"Iya! Ini pertama kalinya aku kesini." Lynn tersenyum antusias, Haruki tersenyum tampan menanggapi jawaban Lynn.


Lynn yang awalnya merasa canggung kini mulai sedikit santai. Krisan menaruh peralatan makanannya disamping, padahal dia belum menyentuh makanannya sama sekali, menatap Haruki tajam.

__ADS_1


"Saya tidak mengerti, kenapa anda sangat penasaran dengan rekan saya?" Krisan melipat tangannya diatas dada, tidak suka dengan Haruki.


"Karena sekedar penasaran saja."


"Sekertaris Lynn, bisakah kamu tinggalkan kami berdua disini? Ada yang mau aku bicarakan secara dua mata dengannya," bisik Krisan pelan.


Lynn berkedip pelan, menatap keduanya. Haruki tersenyum tipis sedangkan Krisan memasang wajah datar, perang dingin terjadi antara keduanya.


"Saya permisi sebentar," tutur Lynn, berpindah secepat mungkin.


...🍒🍒🍒...


Lynn turun ke lantai paling bawah hotel, sarapan berlangsung diruangan sebelah milik Tuan Akio. Mengingat betapa lumernya dan lembutnya daging meleleh dalam mulut, Lynn rasanya ingin memakan beberapa potong lagi.


Jalanan penuh akan keramaian pejalan kaki dan beberapa orang mengayuh sepedanya, Lynn berjalan sambil memperhatikan kesibukan orang lain.


Lynn menatap sekeliling tidak tau dimana lokasinya, niatnya berkeliling disekitar hotel, berakhir tersesat dijalan tidak dikenal.


Duduk dikursi taman, mengangkat kepalanya menatap langit yang terhalang dahan dan daun pohon. Hidupnya selalu berhenti disatu titik, dan kembali berputar setelah melewati titik itu.


Lynn menutup wajahnya, duduk bersandar. Pandangan kedepan Lynn gelap, tidak ada apa pun, kebisingan dunia luar selalu menghampiri ujung pendengaran Lynn.


"Aku pengen ketemu Kak Devan, aku rindu Kak Dava," lirih Lynn dengan nada rindu.

__ADS_1


Lynn menurunkan tangannya, menatap kedepan, mata Lynn bergetar pelan, bayangan pejalan kaki diseberang jalan sangat mirip dengan kakaknya.


"Kak Dava?" panggil Lynn, mengejar pejalan kaki itu, meninggalkan ponselnya diatas kursi.


"Kakak, tunggu!" teriak Lynn, mengambil langkah lebar turun ke jalan aspal dimana mobil melaju.


Lynn menatap kedepan memperhatikan pejalan kaki itu, mobil hitam melaju dengan kecepatan penuh hampir menyerempet tubuh Lynn.


"Hei! Apa kamu gila?" maki pengemudi muda, Lynn membungkukkan badannya beberapa kali meminta maaf lalu berbalik pergi berlari.


"Tunggu!" Lynn mengambil napas ngos-ngosan, memperhatikan pejalan kaki yang tingginya sekitar 180 meter dengan topi merah dan baju kaos putih.


Lynn cukup mengenal topi merah yang dipakai pejalan kaki, topi yang dirinya berikan untuk kakaknya di hari spesialnya. Topi merah bersulam nama Lynn, Lynn mengentakkan kakinya kesal.


Lynn berlari lagi, dia tidak peduli lagi dimana dirinya bakal tersesat selama Lynn bisa bertemu kakaknya, Lynn melantumkan doa dalam hati kecilnya, berharap itu bukanlah harapan kosong.


"Haah ... tidak-tidak mungkin, itu pasti Kak Dava!" Lynn menoleh kekiri dan kekanan, mengatur napasnya.


Sekeliling Lynn di penuhi lautan orang, setiap orang berjalan melewati Lynn, pemakai topi merah sudah tidak terlihat lagi, bahkan orang yang lewat tidak peduli padanya.


"Aku yakin itu, Kak Dava," gumam Lynn sendu.


Lynn menatap jalanan, terdapat noda bulat membahasahi jalanan setitik demi setitik. Lynn menggosok ujung matanya yang panas, mengangkat wajahnya menatap langit biru cerah, tidak seperti hatinya yang mendung.

__ADS_1


__ADS_2