
"Ada apa?"
Alfred berbalik berjalan menjauh, Rayhan berdecak kesal melihat Alfred berjalan keluar dari pintu.
"Bagaimana bisa kamu terikat dengan pria seperti itu?" Keluh Rayhan, mengalihkan pandangannya ke jendela.
Lynn memiringkan kepalanya tidak mengerti apa yang di keluhkan Rayhan, Lynn melirik kearah pintu dimana dibalik pintu itu ada Alfred.
"Pria seperti itu?" Ulang Lynn dalam hatinya.
Ceklek
"Ayah kami berdua harus kembali ke perusahaan dulu, ada pekerjaan yang harus diselesaikan." Kata Alfred sambil mematikan ponselnya.
"Kamu bisa pergi sendiri, putri-ku akan tetap bersamaku disini." Usir Rayhan.
"Ayah, bagaimana mungkin aku tega meninggalkan istri-ku disini."
"Itu bukan hakmu untuk menentukan. Eve, kamu mau tetap disini atau pergi bersama pria gila itu?" Rayhan menatap Lynn.
"Ayah mertua kamu sangat tega menyebut menantu-mu ini dengan sebutan pria gila. Jadi Lynn apa keputusanmu?" Sarkas Alfred.
Lynn terdiam, dia tidak tau harus menjawab apa. Tatapan dari ayahnya sudah membuat dirinya bingung di sisi lain Lynn bisa merasakan tatapan menyengat datang dari belakangnya.
"Eumm... Papa aku pergi kerja dulu, nanti Eve bakal datang lagi kok." Lynn menepuk tangan Ayahnya pelan.
"Haish... Sudahlah. Papa yang sudah tua ini tidak bisa menahan anak muda. Pergilah." Kata Rayhan melambaikan tangannya.
__ADS_1
"Kalau begitu kami pergi dulu Ayah mertua." Alfred tersenyum tampan.
Tangan Alfred merangkul Lynn dengan mesra, Lynn merasa risih ingin sekali dia menyingkirkan tangan Alfred dari pundaknya.
"Aku akan datang lagi, Dah... Pa." Lynn melambaikan tangannya.
Rayhan membalas lambaian tangan Lynn, senyuman dibibir Rayhan perlahan-lahan menghilang dari wajahnya setelah Lynn sudah berjalan meninggalkan ruangan.
"Lihat Eli, putri kita sudah tumbuh sangat dewasa dan cantik seperti dirimu." Gumam Rayhan menatap keluar jendela.
...🍒🍒🍒...
Didalam mobil Alfred, Lynn tidak tau harus memulai topik apa agar suasana canggung dan penuh kehening ini bisa berkurang walau sedikit.
Lynn memutar otaknya memikirkan apa yang bisa dirinya bahas dan bincangkan.
"Tuan Alfred, apa rapatnya berjalan lancar?" Basa-basi Lynn.
"Dia udah pergi dari sanakan?" Gumam Lynn, menyentuh kaca mobil.
Air hujan mengalir turun dari kaca mobil, Lynn menghela napas panjang. Tangan kanan Alfred memegang setir mobir dan tangan kirinya menyangga wajahnya, Alfred melirik Lynn sebentar lalu memfokuskan tatapannya kedepan lagi.
Drett... Drett...
Bunyi ponsel Alfred memecahkan keheningan yang ada, Alfred mengangkat ponselnya.
"Hallo, sayang kamu lagi dimana?" Suara sensual wanita mengalir masuk kedalam telinga Lynn.
__ADS_1
Lynn tau siapa pemilik suara itu, dia pernah bertemu dengannya dirumah Alfred dan didepan perusahaan tempat dirinya bekerja.
"Aku dijalanan." Jawab Alfred pendek.
"Eumm... Apa kamu sibuk? Kalau kamu tidak sibuk maukan temenin aku pergi ke pameran besok?"
"Pameran? Pameran apa Lydia?"
Lynn tersenyum kecut, ternyata tebakkannya tidak salah, Lynn menutup matanya pura-pura tidak mendengar atau melihat apa pun.
"Apa kamu lupa? Kan waktu itu kamu memberikan aku tiket. Masa udah lupa?"
"Oh.. Tiket itu." Seru Alfred, dia melupakan kejadian dimana Lydia mengambil tiket pameran milik Lynn.
"Iya... Jadi bagaimana?"
"Maaf Lydia, Tapi aku tidak bisa. Kau tau aku masih punya banyak pekerjaan yang belum selesai." Jawab Alfred.
"Tapikan kamu punya Krisan, dia bisa menggantikan kamu selama satu hari. Ayolah..."
"Aku tidak bisa terus melemparkan pekerjaan pada Krisan. Pekerjaannya akan menumpuk."
"... Baiklah." Lydia terdiam beberapa saat baru membuka mulutnya.
"Aku mencintaimu, Muach."
Panggilan terhenti, Lynn mengangkat kelopak matanya. Disaat yang sama mobil Alfred sudah berhenti diparkiran perusahaan.
__ADS_1
Lynn bergegas turun dari mobil, berjalan lebih duluan meninggalkan Alfred dibelakangnya.
"Kenapa dadaku terasa sesak? Ingat Eve dia itu Tuan Es, kamu tidak boleh berharap apa pun." Gumam Lynn mencuci otaknya sendiri.