Aku Menikahi Tuan Es?!

Aku Menikahi Tuan Es?!
Chapter 60


__ADS_3

Alfred Pov


Aku berjalan menuju ruang tamu dan duduk disofa tunggal, menyandarkan tubuh lelah pada sofa. Tiba-tiba penglihatanku berubah menjadi gelap karena sepasang tangan menutupi mataku.


Aku mengerutkan kening bingung, mendengar suara seorang wanita yang terkekeh pelan, aku langsung menydari siapa pemilik suara itu.


"Lidya, kapan kamu tiba disini?" Tanyaku melepaskan tangannya dari wajahku.


Lidya tersenyum lembut menanggapi pertanyaanku, dia adalah kekasihku. Aku sama sekali tidak tau kalau Lidya sudah kembali dari Prancis.


Aku sibuk dengan pikiranku sendiri, aku tersadar saat mendengar seruan Lidya yang penuh semangat.


"Aku baru saja ti- Wow... Apa kamu mempersiapkan buket bunga ini untukku?"


Aku kaget karena pelukkan Lidya yang tiba-tiba, aku meluapkan fakta penting kalau buket bunga ditangan Lidya sudah memiliki pemiliknya.


Tapi aku juga tidak sanggup menghancurkan senyuman manis itu, aku sudah berbohong dengan mengirim Lidya ke Prancis saat acara pernikahan sudah dekat.


"Aku sangat menyukai kejutaanya." Lidya tersenyum bahagia.


Wajahku semakin kaku, Aku tidak bisa menjawab perkataan Lidya. Aku tidak mungkin berkata kalau itu bukan untuk Lidya, maka Aku akan menyakiti perasaan Lidya tapi disisi lain ada Lynn.


"Lidya, itu b-"


Lidya tiba-tiba memelukku, menyisipkan wajahnya di dadaku. Aku membalas pelukkan Lidya, menepuk pundaknya. Di satu sisi mataku menangkap Lynn berjalan menuruni tangga.


"Aku sangat-sangat menyukainya, Alfred." Ungkap Lidya.


"Mama Hana gak ad-"


Aku ingin menghentikan pertemuan antara Lidya dan Lynn, Aku bisa melihat perubahan ekspresi di wajah kecil Lynn


"Dia siapa?" Lidya mengaitkan tangannya ditanganku.

__ADS_1


Seketika otakku berubah menjadi kertas polos, aku memutar otak sekeras mungkin tapi tidak jawaban yang keluar.


"Oh... Aku tau dia pembantu baru di Vila, kan?" Seru Lidya, tersenyum lembut.


"Iya, dia pembantu baru disini." Jawabku tanpa berpikir panjang.


"Kalau begitu kenapa dia bisa disini? Seharusnya kan dia sudah pulang?" Tanya Lidya, meminta penjelasan.


"Mungkin ada barangnya yang tertinggal." Jawabku lembut sambil mengelus kepala Lidya.


"Kenapa dia masih berdiri disana bukannya pulang?" Tatapan mataku mengikuti jari telunjuk Lidya menunjuk Lynn sambil tersenyum polos.


"Sa-saya pamit dulu."


Aku menatap punggung Lynn berbalik dan berjalan pergi, tanpa berbalik meminta barangnnya.


"Kamu bilang dia ambil barang tapi kok gak bawa apa-apa? Buket bunga ini bukan punya dia'kan?"


"Bukan, tentu saja itu milikmu." Aku menatap Lydia, tersenyum tipis, Aku akan menggantinya saja dan menjelaskan semuanya dikantor besok.


...🍒🍒🍒...


Jam pulang kerja tiba-tiba, Aku membereskan barang-barangku berjalan keluar. Di meja Lynn sudah kosong tidak ada orang mau pun barang-barangnya, Aku berjalan pergi mengabaikan semuanya.


Satu hari, dua hari, tiga hari berlalu Lynn masih menghindar. Aku juga tidak perduli, tapi sekarang Aku sangat jengkel dengan Pieter yang terus menempel setiap hari.


Pieter bahkan mengajak dua orang ke kantor agar aku mau mengikuti mereka pergi ke bar yang akhir-akhir ini sangat terkenal akan minumannya.


"Ayo-lah, Alfred kita sudah lama tidak berkumpul bareng." Bujuk Keanu, dia adalah sahabat sekaligus rekan seperjuangan kuliah dulu.


Keanu memiliki wajah tampan, rahang tegas, mata tajam, dan hidung mancung. Nama lengkapnya adalah Keanu Alqitorio, CEO perusahan KA.


Aku melirik Pieter tajam, Pieter mengedipkan sebelah matanya padaku. Ingin sekali aku meninju wajahnya.

__ADS_1


Aku menghela nafas panjang, mereka akan terus membujuk-ku sampai aku mengiyakan ajakan mereka.


Aku menatap Aaron memandang keluar, dia. sama sekali tidak tertarik, dari tadi dia hanya diam tanpa mengucapkan sepatah katapun.


"Ayo-lah pergi Alfred, aku ingin bertemu lagi dengan bidadari yang membuat minuman untukku." Bujuk Keanu.


"Baiklah, setelah ini kalian tidak boleh mengganggu pekerjaanku." Ancamku, Keanu dan Pieter berhore ria senang.


"Kami akan menunggu di Blue Charming bar. Sampai jumpa sobat." Keanu melambaikan tangannya merangkul Pieter dan pergi.


Aku mengambil nafas dalam-dalam, akhirnya ketenangan dunia menghampiri diriku. Aku memfokuskan diri pada komputerku.


Haa...


Aku mengangkat tatapanku, ternyata Aaron masih duduk nyaman disofa. Aron membalas tatapan mataku, dia tiba-tiba berdiri.


"Aku pergi dulu." Aaron melambaikan tangannya dan berjalan keluar.


Aku berdecak kesal, diantara sahabatku. Aaron Anston adalah paling aneh, dia terkadang menjadi sangat pendiam lalu berubah menjadi paling logika diantara kami.


Tok... tok...


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunanku, aku mempersilahkan masuk. Krisan membawa dokumen yang perlu ditanda tangani.


...🍒🍒🍒...


Keanu melambaikan tangannya, memberikan sinyal padaku dimana lokasi mereka. Keanu, Pieter, dan Aaron sudah menunggu didepan pintu bar.


Kami berempat masuk kedalam bar, pencahayaan minim, musik-musik sendu dan orang-orang yang ramai menempati setiap ruangan.


Aku mengabaikan tatapan orang-orang, menuju meja bar, Aaron memesan minumannya, aku memperhatikan sekeliling.


"Anda ingin memesan minuman apa tuan?"

__ADS_1


Suara tidak asing memenuhi pendengaran-ku, aku mengalihkan tatapanku ke arah suara. Seseorang yang tidak asing berdiri dibalik meja bar dan dia memakai seragam barista.


__ADS_2