
Jari tangan Lynn bergerak dengan lincah diatas keyboard komputer, Lynn meluapkan rasa sesak dengan cara sibuk bekerja.
"Sekertaris Lynn, apa kamu bisa membantuku menyerahkan jadwal ini pada Tuan Alfred." Krisan menyodorkan beberapa lembar kertas.
"Aku akan membawakannya untukmu, sekertaris Krisan." Jawab Lynn mengambil lembaran kertas itu.
Lynn berjalan menuju pintu kaca yang menampilkan bayangan Alfred yang sibuk berkutik didepan komputer.
Haa...
Lynn mengambil napas dan menghembuskannya secara perlahan-lahan, mengetuk pintu kaca, mengambil langkah lebar masuk kedalam ruangan.
"Apa?" Tanya Alfred tanpa menatap lawan bicaranya.
"Sekertaris Krisan menyuruh saya membawakan kertas ini untuk anda."
Lynn menaruh lembaran kertas di atas meja, lalu mundur tiga langkah menjauhi meja. Alfred meraih lembaran kertas, mulai membacanya dengan seksama.
Lynn memiringkan kepalanya, mencoba mengintip sedikit. Dia tidak tau apa isi lembaran kertas itu hingga menyebabkan kening Alfred berkerut sementara.
Begitu Alfred menurunkan kertas yang ada ditangannya, Lynn secara otomatis melihat kearah lain dan menyembunyikan tangannya kebelakang.
"Berikan pada Krisan kalau aku menyetujui semuanya." Alfred memberikan tanda tangannya dikertas.
"Baik." Jawab Lynn sambil tersenyum.
__ADS_1
Lynn mengulurkan tangannya mengambil lembaran kertas dan memutar tubuhnya membelakangi Alfred, berjalan menuju pintu keluar.
"Akhirnya pintu keluar!" Ucap Lynn dalam hatinya senang.
"Sekalian buatkan aku kopi seperti biasanya." Tambah Alfred.
Lynn menarik ujung bibirnya agar tercipta sebuah senyuman dan menganggukkan kepalanya. Lynn mengambil langkah besar agar dia bisa secepat mungkin keluar dari ruangan.
"Dasar, gadis aneh." Gumam Alfred, memfokuskan tatapannya kedepan layar komputer.
"Sekertaris Krisan, Tuan Alfred bilang kalau dia menyetujui semua yang ada didalam kertas."
Lynn berhenti tepat didepan meja Krisan dan menaruh kertas di sisi kosong meja.
"Terima kasih, sekertaris Lynn." Kata Krisan melirik Lynn sebentar.
Lynn berjalan menuju ruang istirahat, Lynn menghentikan langkah kakinya, didalam ruangan terdapat beberapa suara orang sedang berbicara.
"Apa kamu tau Pina? Pria gendut nan mesum itu sudah meninggal!!" Bisik Lita.
"Benarkah? Wow... Akhirnya ketenangan datang juga pada kita, hahahaha." Seru Ana tertawa bahagia.
"Aku dengar dari berita kalau tangannya terpisah dari tubuhnya dan tangan kanannya itu hilang. Keberadaan tangannya masih dicari. Mayatnya aja ditemukan dibawa kolong jembatan." Tambah Lita.
"Pantas saja dari tadi pagi aku tidak melihat batang hidung pria gendut itu, ckck." Cibir Pina.
__ADS_1
"Akhirnya ketenangan datang juga pada kita." Kata Ana mengucap syukur.
"Maksudmu pak Agus?" Tanya Sinta.
"Tentu saja! Siapa lagi kalau bukan pria gendut itu!" Geram Ana.
Lynn menyandarkan punggungnya pada dinding, nama orang yang baru saja disebutkan tadi terasa tidak asing. Lynn memutar otaknya meninggat bagaimana wajah dari pria yang baru saja disebut mereka tadi.
"Emm... Acara ulang tahun perusahaan tahun ini bakal kayak gimana yah?"
"Aku rasa pasti seperti tahun lalu." Jawab Pina acuh tak acuh.
"Aku tidak sabar melihat bagaimana penampilan Tuan Alfred nanti. Kyaa.." Jerit Ana heboh sendiri.
Sinta menatap teman-teman, mengukir senyuman manis dibibirnya.
"Haa... Bukankah ini kesempatan bagus untuk kita." Desah Sinta pelan melemparkan tatapan mata pada Ana.
Ana yang paham mulai membuka mulutnya lebar-lebar.
"Sini aku kasih tau." Ana melambaikan tangannya, menyuruh mereka mendekati dirinya.
Ana berbisik pelan ditelinga mereka, senyuman jahat langsung terbesit diwajah setiap orang.
Lynn tidak tau apa yang mereka bicarakan, Lynn tidak bisa menunggu mereka lebih lama lagi untuk keluar dari ruangan, walaupun dia meresa tidak nyaman dengan anggota Sinta. Tetapi disisi lain dirinya harus membuat kopi yang dipesan Alfred.
__ADS_1
..."Ehem.." ...