
"Senang bekerja sama dengan anda, Tuan Akio-san. Saya tidak menyangka Anda akan menukar posisi anda dengan posisi sekertaris anda." Alfred bersalaman dengan pria yang berdiri disamping Krisan.
"Saya tidak menyangka sekartaris Krisan dapat mengenal saya begitu cepat, padahal rencana ini belum selesai," ungkap Akio, mengangkat bahunya.
"Maafkan saya, tetapi demi kelancaran negosiasi. Saya harus melaksanakan tugas saya." Krisan membungkuk meminta maaf.
"Bagaimana kamu mengetahui rencanaku?" selidik Akio, Krisan tersenyum tipis menutup bibirnya rapat-rapat.
Akio menghela napas kecewa, melirik Alfred dan Haruki berdiri di sebelah Alfred. Walaupun rencananya gagal ditengah jalan, Akio cukup senang dengan respon yang diberikan Lynn padanya tadi.
"Yah, mau bagaimana lagi ... Aku menerima kesepakatan yang kamu ajukan, Alfred." Akio tiba-tiba mengubah cara bicaranya menjadi informal.
"Iya, aku juga menantikan perkembangan kesepatakan kita, Akio!" Alfred menjawab tangan Akio, senyuman tersungging dibibir Akio dan Alfred.
"Senang bekerja sama denganmu, Alfred."
Krisan dan Haruki bertukar, mengambil kembali posisi masing-masing. Akio dan Alfred berpisah berjalan menuju dua arah berlawanan, Akio mencoba mengingat, wajah Lynn familiar dengan wajah seseorang dan Akio lupa dimana dirinya bertemu orang itu.
"Bagaimana kamu bisa tau kalau Akio sedang menyamar?" tanya Alfred memasukkan salah satu tangannya kedalam saku celana sambil melongarkan dasi ketat dari lehernya.
"Sebelum menuju kamarmu tadi malam, aku mendengar dari petugas kebersihan, mereka tengah bergosip, dan aku mencoba mengorek sedikit mengenai ciri-ciri pemilik hotel mewah ini," jelas Krisan merapikan dokumen bertanda tangan.
"Baguslah, itu berkatmu jadi semuanya berjalan lancar."
Krisan menganggukkan kepalanya menerima pujian Alfred, Alfred tiba-tiba berhenti berjalan, dahinya mengerut bingung. Alfred melupakan sesuatu, tetapi barang apa yang tertinggal dan dilupakannya.
"Kenapa dari tadi, aku tidak melihat Lynn?" Alfred baru sadar saat melihat kebelakang, tidak ada Lynn disamping Krisan.
"Aku tadi menyuruhnya menunggu diluar,"
"Apa?!"
"Aku tadi menyuruh sekertaris Lynn menunggu diluar sebentar karena ada yang mau saya bicarakan dengan-"
__ADS_1
"Berhenti! Kamu menyuruhnya keluar?!" tegas Alfred menyentuh pelipisnya.
Krisan menganggukan kepalanya, Alfred tersenyum sinis. Sekarang Alfred bisa gila, bagaimana caranya dia mencari Lynn di luar sana sementara Lynn saja tidak kenal jalanan yang bakal dilaluinya.
"Kenapa kamu meninggalkan sendirian? Dimana kita harus mencarinya?? Arghh!" gertak Alfred, merogoh ponselnya menelepon ponsel Lynn.
"Aku tidak peduli, kamu mau menggunakan cara apa, cari tau dimana posisi Lynn sekarang!" titah Alfred berlari menuju pintu lift.
"Dimana kamu?" gumam Alfred, menatap angka turun dengan lambat menganti setiap nomor.
"S*alan, kenapa tidak diangkat?" maki Alfred, terus menelepon ponsel Lynn.
Alfred menoleh, bayangan dirinya terpantul di kaca lift, kemejanya berkeluaran, kancing jas tidak terkancing bahkan rambut Alfred acak-acakan. Alfred tersenyum sinis, dirinya sangat berantakan dan cemas.
"S*alan, kalau begini aku tidak akan meninggalkan dengan Krisan." Alfred berlari dilobi hotel, memandangi sekelilingnya.
Alfred berjalan tergesah-gesah melihat kekiri dan kanan, mencari bayangan Lynn. Alfred bingung dengan dirinya, keringat dingin dan jantung berdetak tidak karuan.
Alfred berhenti berjalan, menoleh kesamping, ponsel berwarna coklat bergetar diatas kursi panjang, Alfred memutuskan panggilan lalu ponsel itu berhenti berdering.
Alfred mengambil ponsel coklat itu, mengamati setiap sisi ponsel. Firasatnya mengatakan itu ponsel Lynn, Alfred menelepon lagi dan ponsel itu berbunyi lagi.
Tuan es tertera di layar ponsel, Alfred menolak panggilan dan panggilan terputus. Alfred tersenyum dingin, mengepalkan tangannya.
"Kenapa ponselnya ada disini? Lalu dimana pemiliknya?" gumam Alfred memandang ponsel Lynn.
Alfred melihat seorang pemuda duduk tidak jauh dari tempat dia berdiri, berjalan setapak mendekati pemuda yang duduk disana.
"Permisi, apa kamu melihat wanita yang duduk disana tadi?" tanya Alfred, pemuda itu memandangi Alfred dari atas kebawah.
"Iya, aku melihatnya tetapi aku tidak mau memberitaukannya padamu," jawab pemuda itu cuek.
"Kamu harus memberitaukannya sekarang juga!" tegas Alfred menatap pemuda itu dingin.
__ADS_1
"Apa keuntungan yang aku dapatkan dengan membantumu?" Pemuda itu tersenyum licik, berdiri sejajar dengan Alfred.
"Apa yang kamu mau?"
"Aku mau ... Kenapa kamu mau memberikannya padaku? Apa yang kau inginkan dari wanita itu?" Pemuda itu berdecak pinggang mengerutkan keningnya kesal.
"Apa begitu sulit untuk menunjukkan arah kemana dia pergi?!" Alfred tersenyum dingin, batas kesabarannya hampir habis.
"Apa hubunganmu dengan wanita itu?" Pemuda itu memiringkan kepalanya.
"Aku adalah su- ... Kenapa aku harus menjelaskannya padamu?!" Alfred mengertakan gigi.
"Karena kamu terlihat berbahaya," ungkap pemuda itu berjalan melewati Alfred.
"Apa kamu sedang mempermainkanku?!" Alfred tersenyum sinis,
Dering ponsel menghentikan tangan Alfred menarik kerah baju pemuda itu.
"Apa?" Alfred melampiaskan amarahnya pada Krisan yang meneleponnya.
"Aku sudah menemukan dimana lokasi sekertaris Lynn, dia berada dijalan persimpangan empat arah menuju kearah tower."
Alfred memandangi tower menjulang tinggi didepannya, belum memutuskan panggilan teleponnya, mengambil langkah lebar.
Alfred berhenti di empat persimpangan jalan, disekeliling dipenuhi lautan orang, Alfred mengatur napasnya sambil mengangkat ponselnya, berbicara dengan Krisan.
"Disebelah mana?" tanya Alfred sambil memperhatikan sekelilingnya.
"Aku tidak terlalu tau tapi, itu berada dibawah pohon sakura, itu pohon sakura,kan?" tanya Krisan balik.
Tatapan Alfred berhenti dipohon sakura, terpaku pada satu titik, dibawah rindangnya pohon ada Lynn, bersandar pada pohon. Alfred memutuskan panggilannya berjalan melambat menyeberangi jalanan. Alfred memperlebar langkahnya mendekati Lynn, rasanya jantungnya bakal melompat keluar dari tempatnya.
Mata Lynn mele...
__ADS_1