Aku Menikahi Tuan Es?!

Aku Menikahi Tuan Es?!
Chapter 112


__ADS_3

"Apa, dia salah makan?" tanya Lynn, menjauhkan ponsel dari bibirnya agar suaranya tidak tersampaikan pada Cici


"Halo! Kakak, ayo bertemu, aku akan mengirimkan alamat dimana kita bertemu," jelas Cici memutuskan panggilannya sebelum Lynn memberikan jawaban.


"Tidak, bagaimana kalau aku tidak da-." Lynn menghela napas, dia tidak bisa membiarkan Cici menunggu tetapi dilain sisi dia juga tidak mau bertemu dengan Cici.


...Kafe OneeDay, aku menunggumu sekarang!!...


Pesan singkat dari Cici, Lynn mengerucutkan bibirnya, turun dari kasur empuk, bersiap-siap keluar menemui Cici.


...🍒🍒🍒...


Lynn berdiri di depan kafe, memandangi plat nama kafe, mengingatkan Lynn tentang kenangan masalalunya bersama Arga disini. Lynn dan Arga selalu menghabiskan waktu berdua disini, berbagi cerita dan mengerjakan tugas bersama.


Lynn menepuk pipinya, menyadarkan dirinya sendiri agar jangan terlarut dalam masalalu yang tidak bisa diputar kembali, tempat ini adalah tempat yang paling Lynn hindari namun itu dulu tidak untuk Lynn yang sekarang.


Lynn menengok ke kiri dan ke kanan, mencari sosok Cici. Cici melambaikan tangan memberikan kode pada Lynn, Lynn mencoba tersenyum tipis, dia tidak tau cara mengendalikan senyuman dibibirnya.


Lynn menghabiskan masa kecilnya bersama Cici, walau terkadang selalu ada perbedaan kasih sayang antara dirinya dan Cici. Lynn tidak membenci Cici, dia cukup menyayangi Cici sebagai adik.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Cici tersenyum lembut.


Lynn tidak bisa menjawab, rasanya emosi kesal dan benci akan mencair keluar dari mulutnya. Lynn duduk di depan Cici, menatap tajam Cici yang tersenyum bukan apa-apa.


"Apa kamu tidak makan selama ini?" Lynn berbicara sesinis mungkin, menaikan salah satu alis matanya.


Lynn mengikuti gaya bicara Alfred, wajah Cici mengalami perubahan singkat, mulai menunduk kebawah. Lynn tidak terbiasa melakukan kekerasan membeku ditempat, Lynn panik tidak tau berbuat apa.


"Aa, aku tidak menyakiti perasaanmu, kan, Cici?" Lynn menyentuh tangan Cici.


Lynn mengigit bibir bawahnya, hati nurani Lynn sakit melihat tubuh Cici gemetaran tidak berdaya.


"Pfttt."


Cici mengangkat wajahnya, air mata terbentuk di matanya, bukan suara menangis tapi tertawa terbahak-bahak. Lynn menatap Cici tidak percaya, tidak ada yang lucu, lalu kenapa Cici tertawa?

__ADS_1


"Maaf, kakak sama sekali tidak cocok menjadi orang jahat," ujar Cici, menghapus bekas air mata.


Lynn menarik tangannya dari tangan Cici, berdehem pelan memperbaiki tingkah kacaunya.


Cici mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tas sampingnya dan membukanya.


Didalam kotak ada cincin berukir nama, Lynn tertegun sejenak menatapi cincin itu. Lynn merasa pernah melihat cincin ini di sebuah tempat, tidak mengingat dengan jelas dimana tempat itu.


"Kakak, aku akan sedikit jujur padamu ... bukan sedikit melainkan jujur padamu mengenai kejadian tentang Arga." Cici tersenyum, mengeluarkan cincin dari kotak.


"Kau tau, pemilik cincin ini siapa?" ucap Cici.


"Dia adalah kakakku, Evelynn Cornelius." tambah Cici menarik tangan Lynn dan menaruhnya ditelapak tangan Lynn.


Nama Evelynn Cornelius memang terukir dibawah cincin bahkan ada dua hati dimasing-masing ujung tulisan, Lynn menatap Cici bingung.


"Dan pengiriman adalah Arga."


Pupil mata Lynn bergetar, mencari kebohongan didalam mata Cici. Tatapan mata Cici terlalu jelas dan tulus tidak ada maksud niat lain dari perkataannya, tetapi apa gunanya dia mengungkapkan segalanya sekarang?


"Kau tau? Arga meninggalkannya padaku sebelum pergi keluar negeri untuk pengobatannya, dia bilang kalau cincin itu adalah bukti dan tanda kalau dia akan bertahan, kembali mencari pasangan cincinnya."


Cici mulai menceritakan awal bagaimana cincin itu bisa berada ditangannya, dan kenapa cincin itu tidak pernah sampai pada pemiliknya. Lynn cuma diam mendengarkan tanpa mengeluarkan suara untuk menghentikan Cici berbicara.


"Aku sangat iri padamu, kamu mendapatkan semua yang terbaik. Jadi aku berpikir, kalau aku mengambil cincin ini maka tidak akan ada masalah besar. Ini hanya cincin, dan kakakku punya cukup uang untuk membelinya sendiri."


Lynn mengenggam tangan Cici, Cici tidak mau berhenti berbicara. Ini adalah kesempatannya mengungkapkan semua kejahatannya, dia tidak mau membawanya sampai akhir hidupnya. Cici juga tidak tega pada cinta pertamanya, hubungan pria baik itu berakhir menyedihkan karena perbuatannya.


"Maaf, kakak. Aku sudah tidak sanggup membawa rasa bersalah ... hidupku terlalu singkat untuk beban ini."


Lynn mengulurkan tangannya, dia tidak tega melihat mata Cici berlumuran. Hatinya sakit melihat dia yang selalu tertawa berakhir seperti ini.


"Cici," panggil Lynn mengenggam erat tangan Cici.


"Aku tidak menyalahkan ... tidak ini salahmu! Ini salahmu karena baru memberitaukannya padaku sekarang!!" tukas Lynn, Cici mengangguk lemah menyetujui perkataan Lynn.

__ADS_1


"Tapi, apa kamu sadar kalau semua itu tidak akan mengubah apa pun. Arga tetap masalalu bagiku, jadi terima kasih banyak sudah menceritakan semuanya padaku." Lynn tersenyum cerah membuat Cici yang nangis sengukkan bertambah nangis.


"Ughh ... Maaf!"


Lynn pindah dari tempat duduknya kesamping Cici, memeluk dan memberikan beberapa tepukkan ringan dipundak Cici. Lynn menatap cincin di telapak tangannya, sekarang dia harus membuat keputusan besar.


"Apa kamu sudah merasa baikan?" Lynn memberikan Cici beberapa lembar tisu, Cici menanguk dengan mata sembab.


"Nah, sekarang jelaskan padaku, bagaimana tubuhmu bisa berubah sebanyak ini?" tutur Lynn memeriksa pergelangan tangan Cici.


Tangan Cici terlalu kurus dan tidak berdaging, dan wajah Cici cukup lesu. Lynn tidak tau kondisi tubuh Cici, tubuh Cici dibalut dalam larutan switer jumbo.


Sementara kedua bersaudari sibuk berbincang satu sama lain, Lynn tidak menyadari kalau ada seorang pria disebelah meja yang terhalang papan penghalang sudah mendengarkan percapakan mereka dari awal hingga akhir.


Arga meletakkan gelas, meninggalkan mejanya. Pergi tanpa menoleh kearah dimana suara Lynn dan Cici berasal.


Jalan sibuk, suara klakson berbunyi, pedagang melayani pembeli, dan orang tua bermain bersama anak-anaknya. Setiap orang mempunyai kesibukkannya dan dunia terlalu sibuk untuk pria yang baru saja patah hati seperti Arga.


Arga berjalan lesu, menelusuri jalan raya. Dia tidak punya tujuan dan arah sekarang, hanya bisa berjalan lurus kedepan. Arga berhenti berjalan, sekarang didepannya terdapat lautan terbentang luas.


Matahari sudah turun setengah dan langit berwarna orange, Arga tidak sadar kakinya menuntun ke pantai dan berjalan jauh. Hantaman ombak memasuki pendengaran Arga, layaknya sirene yang memanggilnya mendekat.


Arga duduk diatas pasir, membiarkan buih ombak menyapa kaki telanjangnya. Membawa pergi sisa rasa dihatinya, Arga menoleh ke atas saat bayangan hitam membayangi dirinya dari samping.


Alfred membawa sekantong penuh alkohol, Arga tersenyum mengejek mengabaikan Alfred yang ikut duduk disebelahnya.


"Mau minum?" tawar Alfred, memberikan sekaleng minuman pada Arga.


Arga menatap minuman kaleng dan wajah Alfred secara bergantian, mengambil minuman itu dan meneguknya.


"Apa kamu tidak takut, kalau aku mungkin meracuni minumanmu?"


Arga menyemburkan minuman, membuang minuman kaleng itu kesamping. Menatap Alfred dengan tatapan kesal, dia memang patah hati namun Arga cukup menghargai nyawa sendiri.


"Bercanda." Alfred melanjutkan minumannya, dan memberikan Arga sekantong penuh minuman beralkohol.

__ADS_1


__ADS_2