
"Alfred." Cicit Lynn pelan, Alfred mengalihkan wajahnya ketempat lain, Lynn dengan cepat mengelap wajahnya lagi.
"Aku tidak menangis." Kata Lynn galak, Alfred berdecak pinggang menatap Lynn dari atas.
"Aku tidak bilang kamu menangis, dan aku tidak melihat apa pun." Bantah Alfred ikut berjongkok di hadapan Lynn.
"Jadi kalau mau menangis, menangislah sepuasmu dan marah sepuasmu." Tambah Alfred menghapus pipi Lynn yang masih basah.
"K-kau ba-" Gagap Lynn, mengalihkan wajahnya yang memerah malu sendiri, tetapi hatinya sedikit terhibur dengan perkataan Alfred.
Lynn yang selalu berharap kalau kata-kata itu keluar dari bibir orang yang paling di nantinya tapi yang dirinya dapat hanya kata-kata kasar dan luka.
" Kurasa dia adalah pria yang baik." Puji Lynn dalam hatinya yang menghangat.
"Apa kita bisa pindah tempat sekarang? Aku tidak mau masuk angin atau demam." Kata Alfred berdiri, kepala nya celinggukkan mencari sesuatu.
"Aku tarik kembali ucapanku tadi, orang ini tidak baik sama sekali, ini adalah orang terjahat sedunia." Gumam Lynn, memasang wajah kesal, berdiri menjaga jarak dari Alfred.
"Apa yang kau lakukan?" Alfred mengerutkan keningnya, mendekati Lynn agar tubuh Lynn tidak terkena hujan.
__ADS_1
"Kau bilang kau tidak mau terkena demam dan pakaianku basah, jadi aku menjaga jarak agar pakaianmu tidak ikut basah juga." Jelas Lynn menjauhi Alfred lagi.
"Apa kamu tidak mengerti maksudku? Besok hari pernikahan dan jika kau sakit maka semua orang akan kesulitan." Alfred menunjuk Lynn, berjalan pergi membiarkan Lynn kehujanan.
Lynn yang bengong menatap Alfred yang berjalan pergi tanpa meninggalkan payung untuknya.
"Dasar tidak gentlemen." Teriak Lynn, menghentakkan kakinya kesal, Alfred sama sekali tidak mengubrish Lynn, dia tetap fokus berjalan ke arah mobilnya.
Alfred berhenti berjalan, membalikkan punggungnya memperhatikan Lynn yang masih berdiri didekat pohon beringin.
"Hei." Panggil Alfred, "Kau tau disana ada penunggunya." Tambah Alfred berbalik pergi tanpa mengucapkan apa-apa lagi.
"D-dasar manusia jahat." Bentak Lynn menunjuk Alfred yang memasang wajah datar, Lynn tidak sadar kalau ada senyuman yang sangat tipis yang menungging dibibir Alfred.
Alfred masuk kedalam mobil diikuti Lynn, sebuah handuk kecil disodorkan kearah Lynn. Lynn mengangkat kepalanya melihat Krisan yang tatapan matanya tertuju ke tempat lain.
Lynn mengambil handuk itu, menatap Krisan dengan tatapan selidik, melihat ke arah pakaian tidak ada yang aneh dengan pakaiannya karena dia memakai kaos warna hitam jadi tidak mungkin kaosnya akan menerawang. Lynn mencoba mengabaikan perasaannya, menggunakan handuk menyelimuti tubuhnya.
"Kita bakal pergi kemana?" Tanya Lynn melihat keluar begitu mobil berjalan.
__ADS_1
"Krisan nyalain penghangatnya." Alfred menatap keluar jendela, menggunakan tangannya sebagai penyangga wajahnya.
"Astaga." Lynn yang tadinya tersenyum, kini memukul kepalanya pelan. Dia melupakan Yasmin dan Mina yang masih menunggunya didepan toko.
Alfred yang duduk disamping Lynn menatap Lynn dengan tatapan aneh, Lynn merogoh saku celananya tapi tidak ada ponselnya disana. Lynn menghela napas berat, dia lupa kalau dia menitipkannya pada Mina sebelum mereka berangkat ke kafe Leo.
Lynn mengerucutkan bibirnya, memikirkan bagaimana cara dirinya bisa memberitahukan kepada Yasmin dan Mina agar pulang lebih dulu dan jangan menunggu dirinya.
Lynn menyangga wajahnya, melihat kedepan. Sebuah ide melintas dikepala Lynn begitu dia melihat ponsel Krisan yang tertempel disana.
"Krisan, aku boleh pinjam ponselmu? Bentar aja, cuma 5 menit kok buat kirim pesan buat seorang." Mohon Lynn, Krisan melirik ke kaca depan mobil.
Krisan memberikan ponselnya pada Lynn, Lynn tertawa senang dan tidak lupa mengucapkan terima kasih. Lynn membuka ponsel Krisan yang tidak terkunci, jari tangan Lynn mengetik dengan lincah diatas ponsel Krisan.
"Seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan permen." Kata Alfred dalam hati, bersandar pada tempat duduk.
Lynn mengembalikan ponsel Krisan setelah dia selesai menulis pesan dan mengirimkan nya. Lynn bersenandung senang, menatap keluar jendela.
"Loh... Kenapa kita ke rumah Mama Hana?" Tanya Lynn yang baru sadar, mobil berbelok dan berhenti ditempat parkiran.
__ADS_1