
Lynn menutup mulutnya melirik serpihan vas bunga yang berserakan dimana-mana, Lynn mendengar suara langkah kaki kian mendekat.
"Gawat." Lynn menutup mulut, memutar otaknya tetapi otaknya berubah menjadi kertas putih kosong, dia tidak bisa memikirkan apa pun.
Kedua pria itu saling memandang, berjalan mendekati pintu. Jantung Lynn berdetak makin kencang mendengar suara sepatu semakin mendekat kearahnya.
Tak... tak... tak...
"Tidak ada siapa-siapa disini?." Kata pria gendut berkepala botak, memandang serpihan vas.
"Lalu kenapa vas bunga ini bisa pecah? Angin tidak akan bisa masuk kedalam bangunan dan memecahkannya." Jawab Pria disamping pria gendut itu.
"Aku rasa ada tikus menyenggolnya." Sarkah pria itu lagi.
"Apa kamu pikir tikus bisa ada di perusahaan besar ini?" Pria gendut itu tertawa sinis.
"Lalu bagaimana vas ini bisa pecah." Pria itu mengelengkan kepalanya bingung, kedua pria itu saling bertatapan.
Pria gendut berkepala botak itu tertawa nyaring lalu menepuk pundak pria yang ada disampingnya.
__ADS_1
"Ha ha ha... Kerja bagus. Sekarang kita harus pergi dari sini dan dimana dokumen rahasianya?"
"Saya tidak memegang nya."
Mereka berdua mengalihkan tatapan mereka kedalam ruangan, dokumen terletak di atas meja. Pria gendut itu tersenyum licik menatap dokumen yang sekarang berada di tangannya.
Dia bisa menjual rahasia ini dengan harga fantastik, dia tidak perlu bekerja selama bertahun-tahun jika dia menjualnya sedikit demi sedikit.
"Aku sangat heran kenapa para tikus selalu berkeliaran dimana-mana." Suara bariton datang dari belakang.
Tubuh kedua pria itu langsung berubah menjadi kaku, mereka berdua kenal siapa pemilik suara ini. Dokumen terjatuh ke lantai dan berserakkan karena geteran tangan pria gendut itu.
"Di-Direktur Alfred, Kenapa anda ada diruangan tidak terpakai ini?." Tanya Pria gendut itu, mengangkat kepalanya. menyembunyikan kecemasan miliknya.
Pria berkacamata berdiri disisi kanan Alfred bergerak maju kedepan dan memungut satu lembar kertas yang ada di lantai dan memberikannya pada Alfred.
Wajah Pria gendut itu langsung berubah menjadi putih, Alfred mengambil dokumen itu. Membaca sekilas, tatapan mata Alfred berubah sangat dingin.
Alfred merobek kertas itu menjadi empat bagian dan membuangnya ke atas. Kertas melayang-layang di udara, perlahan-lahan jatuh ke lantai.
__ADS_1
Alfred menginjak kertas itu, senyuman sinis terukir di wajah tampan Alfred.
"Nasibmu akan sama seperti kertas ini." Kata Alfred memutar kakinya, tangan kanannya terangkat.
Alfred menjentikkan jarinya, senyuman diwajah Alfred berubah menjadi sadis dengan wajah datarnya.
"Kalian berdua dipecat, urus mereka berdua Kanta. Aku tidak mau 'melihat' wajah mereka lagi." Alfred melirik pria yang ada disisi kanannya.
Pria itu tersenyum senang, menganggukkan kepalanya paham apa maksud dari perkataan Alfred. Kedua pria itu bergetar ketakutan.
"Di-Direktur, aku tidak ada hubungannya dengan saya. ******** ini yang melakukannya." Teriak pria gendut itu, mendorong pria disampingnya.
Pria itu berlutut karena dorongan dari belakang, menatap pria itu berapi-api menatap atasannya.
"Anda bebas melakukan apa pun pada karena dia pelakunya." Kata pria gendut itu meludahkan semua keinginannya.
"Alfred menatap pria itu sebentar, berbalik pergi tanpa membalikkan badannya. Inilah yang selalu terjadi jika keberadaan mata-mata diketahui maka dia akan melakukan berbagi macam trik agar bisa lolos.
Sementata itu Lynn
__ADS_1
Lynn menelan salivanya dengan kasar, sebuah tangan besar menutupi bibirnya, dan dia tidak tau siapa orang yang menutup bibirnya dan apa tujuannya melakukan ini.
Merasakan kelonggaran dari tangan itu, Lynn melepaskan dirinya dari pelukan, tangan Lynn terangkat bersiap untuk menampar.