Aku Menikahi Tuan Es?!

Aku Menikahi Tuan Es?!
Chapter 43


__ADS_3

Alfred yang memasukkan tangan kedalam saku celananya, menatap Lynn dan Krisan tajam.


"Krisan, kita ada rapat." Alfred berjalan, Krisan mengambil map dan tabloid milik nya dan mengikuti Alfred.


Alfred menghentikan langkah kakinya, melirik Lynn yang berdiri kaku tidak tau harus melakukan apa.


"Hei... Kau ikut." Alfred menunjuk Lynn, dan berjalan pergi.


Lynn mengedipkan matanya bingung, mengambil buku jurnal yang ada didalam tasnya dan menaruh tas itu di meja. Lynn mengambil langkah lebar mengejar Alfred dan Krisan yang sudah berjalan jauh.


"Kak Krisan, apa yang harus aku kerjakan?" Bisik Lynn, memegang buku jurnalnya erat-erat.


"Kam-"


"Didalam perusahan ini ada peraturan yang mengatakan kalau, karyawan dilarang membawa privasinya kedalam perusahan." Tegas Alfred memotong perkataan Krisan.


"Tapi kita tidak memiliki peraturan seperti itu, Direk-"


"Mulai hari ini peraturan ini akan berlaku, dan seterusnya akan terus bertambah." Alfred mempercepat langkahnya.


"Baik Direktur." Jawab Krisan, mengikuti kecepatan Alfred, Lynn yang memiliki kaki pendek mencoba mengikuti langkah kaki irama mereka berdua.


Krett...

__ADS_1


Suara dorongan pintu, Alfred melangkah masuk dan semua orang yang duduk dikursi bangkit dari tempat duduknya.


Alfred duduk dikursinya lalu diikuti semua orang untuk duduk kembali ketempatnya, Lynn yang tidak tau dimana posisinya berdiri disamping Krisan.


Semua orang mulai berbisik satu sama lain, Lynn menundukkan kepalanya malu. Sekali Alfred berdehem semua orang menjadi diam dan ruangan seketika menjadi hening.


"Apa kita bisa mulai rapatnya?"


Seorang wanita maju kedepan, dan membagikan beberapa lembar kertas mengenai persentasi nya hari ini.


Proyektor hidup menampilkan data penjualan, wanita yang berdiri didepan sana mulai menjelaskan.


"Dari survei hasil penjualan produk terbaru kita, sudah banyak pemakainya..."


Alfred menggunakan tangan kanannya menyanggah wajahnya dan tangan kanannya terletak diatas meja, jari-jarinya bergerak menimbulkan suara.


"Baiklah rapat sampai disini, apa masih ada yang perlu dibicarakan?" Alfred memperhatikan sisi kiri dan sisi kanannya.


Tidak ada satu pun yang berbicara, Alfred bangun dari berjalan pergi meninggalkan ruangan rapat.


***


"Haaa..." Lynn membaringkan kepalanya diatas meja dan menghela nafas panjang. Bibirnya berubah menjadi monyong saat melihat kearah ruangan Alfred.

__ADS_1


Setelah kembali dari ruang rapat, Alfred terus menyuruhnya melakukan berbagai macam pekerjaan.


Ting...


Lynn mengangkat kepalanya, mengangkat telepon yang masuk.


"Hei... Buatkan aku satu cangkir kopi hitam." Pesan Alfred, lalu menutup teleponnya begitu saja. Lynn tersenyum lembut, dan berjalan pergi dari mejanya.


Lynn menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia tidak hafal dan tidak tau dimana letak dapur berada. Sekarang dia tidak bisa meminta tolong pada Krisan karena Krisan disuruh pergi untuk mengurus sesuatu.


Lynn berputar 2 atau 3 kali dikoridor yang sama, Lynn menyandarkan tubuhnya pada dinding capek karena terus berputar kesana kesini.


"Lynn? Kenapa kamu berada di lantai ini?"


Lynn mengangkat kepalanya, memperhatikan orang yang berdiri di depannya sambil menatap dirinya dari atas.


"Tuan Pieter?" Cicit Lynn langsung berdiri.


"Kenapa kamu berada disini?"


"Ah... Aku disuruh buat kopi. Apa kamu tau dimana tempatnya?" Lynn mengambil kesempatan.


"Kamu tinggal berjalan kearah sini dan akan ada sebuah pintu, ada tulisan papan bergantung bertuliskan dapur." Pieter menunjuk koridor yang ada disebelah tangan kirinya.

__ADS_1


"Terima kasih." Kata Lynn girang, berlari ketempat dimana pieter menunjuk. Pieter yang melihat tingkah Lynn tertawa pelan lalu berjalan ke ruangan Alfred.


__ADS_2