Aku Menikahi Tuan Es?!

Aku Menikahi Tuan Es?!
Chapter 55


__ADS_3

Kening Lynn berkerut bingung karena wajah terseyum Lita, Lynn berbalik melihat apa penyebab Lita marah langsung berubah menjadi 180 derajat dan tersenyum manis. Alfred berdiri dihadapan mereka dengan satu tangannya berada disaku celana.


"Apa selama ini kalian hanya makan gaji buta?." Bentak Alfred membuat para karyawan terkejut.


Karyawan tidak mau telinga mereka mengalami rasa sakit, bergegas bubar tanpa mendengar omelan dan ocehan  panjang dan juga menusuk hati mereka dari bibir Alfred.


Melihat karyawan bubar kini tatapan tajam Alfred berpindah ke Lynn, lalu bergerak melihat tiga wanita yang berdiri dibelakang Lynn.


"Apa kalian membuat keributan di perusahaan? Lebih baik kalian berhenti bekerja saja dari pada menambah polutan di sini." Alfred memasang wajah jijiknya.


"Bersiap-siaplah Evelynn kali ini pasti namamu akan disebut." Gumam Lynn dalam hatinya. Belum sampai lima detik Lynn sudah mendengar Alfred memanggil namnya.


"Sekertaris Lynn." Alfred menatap Lynn tajam,  perbedaan tinggi badan antara alfred dan Lynn membuat Lynn harus mengangkat kepalanya.


"Tuh... Firasatku selalu benar." Kata Lynn dalam hatinya lagi.


"Bukankah aku menyuruhmu membawakan aku dokumen, kenapa kamu masih disini?." Tanya Alfred, ekspresi wajahnya mulai berubah.


"Saya-"

__ADS_1


"*Yah... *Aku tidak mau mendengarkan alasannya, ambil dokumen itu dan bawa ke ruangan rapat." Kata Alfred berjalan pergi.


Lynn mengangkat kepalan tangannya, disaat yang sama Alfred membalikkan punggungnya menatap Lynn. Lynn ketahuan melongarkan kepalan tangannya dan mengosok matanya.


"Bawa dalam 5 menit, dan kamu akan dipecat kalau kamu berani mengangkat tanganmu padaku lagi!." Ancam Alfred, Lynn tersenyum paham.


Melihat Alfred berjalan jauh, Sinta, Lita dan Ana bernafas lega. Mereka bertiga mengambil nafas sangat pelan agar tidak di marahi. Lynn menatap mereka bertiga yang sibuk memperhatikan Alfred.


"Aku sudah menemukan kalian." Bisik Lynn, membuat ketiganya merinding dan melangkah mundur satu langkah.


"A-apa maksudmu?." Teriak Lita tidak mau kalah.


"*Ha ha ha... *Maksudku adalah, kali ini aku akan membiarkan kalian, jadi aku harap kalian tidak bertindak ceroboh lagi dimasa depan." Lynn membersihkan baju Lita, dan tersenyum.


Sekujar tubuh Lita merinding, Lynn menepuk tangannya agar bersih dari debu. Lynn berjalan pergi tidak memperdulikan Sinta yang mwnatapnya penuh berapi-api.


"Sombong sekali, mentang-mentang cuma sekertaris." Cibir Ana, Sinta tidak mau menerima kekalahan mengigit kuku jarinya.


"D-dia pikir aku akan takut akan ancamannya itu, Dasar ******." Maki Lita, menepuk bahunya dimana Lynn baru menyentuhnya.

__ADS_1


Lynn mengambil nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Lynn sudah mengambil dokumen atas permintaan Alfred, Lynn melirik jam tangannya dan senyuman lembut mengalir dibibirnya.


"Dokumen udah ambil jadi tinggal pergi ke ruang rapat." Gumam Lynn bersenandung senang.


Brak...


Lynn melompat kaget, memeluk dokumennya erat-erat. Mendekati pintu rapat, Lynn mengintip melalui sela-sela kaca memperhatikan dua orang tengah berbicara disana.


"Apa kamu bodo, bagaimana jika kita ketahuan?." Teriak Pria gendut berkepala botak.


"T-tenang saja pak, saya jamin sembilan puluh sembilan persen tidak akan ada yang sadar." Bujuk Pria disamping pria gendut itu.


"Aku akan membunuh-mu kalau sampai masalah ini bocor, aku tidak mau mati untuk informasi rahasia ini." Cibir Pria botok itu, menunjuk-nunjuk pria yang ada disamping.


"Gila, Lynn apa yang kamu lakukan? Sekarang kamu harus kabur sebelum mereka tau." Kata Lynn dalam hatinya memegang dadanya.


Lynn melangkah mundur, Lynn tidak lagi melihat kebelakang pikiran hanya berpikir untuk keluar dari situasi ini, tanpa sengaja siku tangan Lynn menyenggol vas bunga disampingnya.


Prang

__ADS_1


__ADS_2