
"Itu sama sekali tidak lucu, jadi berhentilah." Alfred melemparkan tatapan tajam.
"Baiklah aku akan membawa dokter itu kemari." Krisan berdehem pelan, berjalan menuju pintu keluar.
Alfred berdecak kesal, mengalihkan matanya menuju dokumen yang ada diatas meja.
"Alfred," panggil Krisan menyelipkan kepalanya dibalik pintu.
Alfred menghela napas kesal, mengatap Krisan dengan senyuman khas dinginnya.
"Aku lupa bilang kalau sekertaris Lynn mengambil cuti selama 3 hari, jadi pekerjaan yang biasanya dikerjakannya akan aku urus dulu untuk sementara." Jelas Krisan, lalu menutup pintu begitu perkataannya selesai.
Alfred memasang wajah datar, menyangga wajahnya menggunakan kedua telapak tangan yang terlipat.
"Kenapa dia tidak meminta izin dariku? Aku bahkan tidak mengizinkan dia untuk mengambil cuti," gumam Alfred.
Tok tok
"masuk."
Alfred merapikan dokumen, menjadi satu tumpukan berbicara tanpa melihat siapa orang yang Krisan bawa padanya.
"Tuan Alfred aku sudah membawa dokternya kemari, pas sekali tadi aku bertemu dengannya di koridor."
Tangan Alfred berhenti bergerak, melirik orang yang dibawa Krisan. Alfred tersenyum dingin, kembali duduk dikursi kebanggaannya.
"Aku memintamu membawa dokter, bukan dokter gadungan." Alfred menatap Pieter dingin.
"Hahaha... Aku tidak tau kalau penyakit kronis dapat menyerang manusia seperti Alfred rupanya mereka tidak mempunyai ketakutan yah," canda Pieter.
Pieter menyelipkan tangannya kedalam saku celana, memutari meja tamu. Pieter menyilangkan kakinya duduk dengan nyaman disofa menatap Alfred.
"Sebenarnya kamu belum pernahkan melihat dokter gadungan yang tampan seperti aku." Kata Pieter memuji dirinya sendiri.
Alfred tidak mengubrish Pieter, mengambil pulpen mencoret-coret kertas yang harus di isinya.
__ADS_1
"Krisan bawa keluar pria gila itu dari sini."
Tidak ada tanggapan atas perintahnya, kening Alfred berkerut kesal, mengangkat kepalanya menatap kedepan.
"Krisan, apa kamu su-"
"Krisan sudah keluar dari tadi. Jadi biarkan kakak tampan ini membantu menyembuhkan penyakitmu," Pieter memotong perkataan Alfred.
"Pergilah dari sini!"
"Bagaimana gejalamu? Apa kamu mengalami muntah-muntah atau sakit kepala?"
Pieter mengabaikan perkataan Alfred, berjalan mendekati Alfred. Alfred merasa risih, ingin sekali dia sendiri yang menendang Pieter keluar dari ruangannya.
Pieter memutar kursi Alfred menghadap kearahnya, menahan kedua sisi kursi.
"Pergi dasar ****** gila, apa kamu sudah bosan hidup?" Alfred mendorong Pieter menjauhi dirinya.
"Wowww... santai teman, santai." Pieter menepuk-nepuk celananya.
Pieter berbalik pergi, baru lima langkah. Pieter menoleh melirik Alfred yang menatapnya seolah sedang mengantarkan orang pergi ke neraka.
"Biar aku tebak, jantung berdebar-debar, kamu merasakan gugup tanpa alasan?" Cetus Pieter dengan suara nyaring.
Pieter memperlambat langkah, saat kakinya hampir mendekati pintu keluar.
"Tunggu!"
Senyuman kemenangan terbit diwajah Pieter, berbalik berjalan dengan kecepatan paling cepat mendekati meja Alfred.
"Katakan padaku, siapa wanita hebat itu? Apa aku mengenalnya? Bagaimana dia bisa mengetarkan hati manusia es ini?" tanya Pieter dengan mengebu-ngebu.
"Haha... aku lupa kalau manusia ini seperti es, wajahnya selalu saja datar! Kapan wajahmu itu akan berubah? kamu tidak bosan melihatnya seperti itu?" keluh Pieter tidak senang.
"Wajahku akan seperti ini dan seterusnya akan seperti ini." Alfred melipat tangannya diatas dada.
__ADS_1
"Arghh... aku sangat kasian dengan wanita itu!" teriak Pieter.
"Kenapa kamu terus menyebutkan wanita?"
"Karena kamu sedang masa jatuh cinta ****." Teriak Pieter frustasi dengan kepekaan Alfred yang lamat jika berhubungan tentang cinta.
"Pfftt... seharusnya aku tidak mendengarkanmu, pergilah sebelum aku benar-benar marah." Usir Alfred melemparkan kertas dimeja.
"Haah! Kamu tidak percaya! Biar aku kasih tau, waktumu akan terasa sangat cepat bersamanya dan jantungmu akan berdetak tidak normal seolah kamu akan mati! Kamu akan merasakan sesak saat melihat dia bersama pria lain!" Gertak Pieter meluapkan semua kekesalannya.
Selesai meluapkan emosinya, Pieter berbalik keluar dari ruangan Alfred. Alfred menatap pintu yang tertutup rapat kembali, memikirkan apa yang di lantaran Pieter padanya tadi.
"Itu hanya perasaan empati." Alfred tersenyum sinis memberikan jawaban untuk pertanyaannya sendiri.
Alfred bangun dari kursinya berjalan keluar, didepannya ada Krisan yang sibuk memilah dokumen. Alfred berjalan melewati Krisan begitu saja, Krisan mendongak melihat bossnya.
"Anda mau kemana? akan ada pertemuan makan siang nanti?" tanya Krisan.
"Ganti jadwal itu menjadi besok, aku ada urusan lain sekarang.".
Alfred terus melangkah pergi menuju lift, sementara itu Krisan bingung tidak tau urusan apa yang membuat Alfred rela meninggalkan pertemuan makan siangnya.
...🍒🍒🍒...
Mobil Alfred berhenti, didepannya terdapat sebuah bangunan. Alfred turun dari mobilnya, diseberang jalan dia mendapatkan wajah yang sangat familiar.
Ting tong
"Eve, ada yang membunyikan bel. Apa kamu bisa jagakan pudingku agar tidak hangus sementara aku membukakan pintu?" Tanya Yasmin meletakkan sendok gayung.
"Tentu!"
Yasmin tersenyum cerah, berjalan memutari meja, melepaskan celemek yang dipakainya.
Ceklek
__ADS_1
Yasmin tersenyum cerah tetapi senyuman itu luntur setelah beberapa detik.