
Suasana dalam mobil seketika menjadi hening dan dingin, Lynn yang tidak betah mencoba mencairkan suasana.
"Tuan Alfred, tidak apa-apakan kalau aku memanggilmu dengan sebutan Kakak?" Tanya Lynn tersenyum canggung.
Alfred melirik Lynn sebentar lalu memfokuskan pandangannya ke jalanan.
"Terserah, aku tidak peduli." Jawab Alfred singkat.
"Kalau gitu, Kakak Alfred k-"
"Aku bukan kakakmu." Bantah Alfred dingin dan datar.
"Lah... Tadi kan Kakak Alfred sendiri yang bilang kalau terserah aku mau manggil gimana." Lynn meniru gaya bicara Alfred.
"Kapan aku bilang begitu."
"Tadi." Jawab Lynn cepat.
Alfred menggunakan tangan kirinya menyangga wajahnya diam tidak menjawab Lynn. Lynn tersenyum senang, menyandarkan tubuhnya pada kursi, menatap keluar jendela.
"Tadi Kakak Alfred kok bisa ada ditempat tadi?"
"Memangnya kenapa? Apa aku harus memberitahukan semua kegiatanku padamu? Apa hakmu bertanya? " Alfred mengerutkan keningnya kesal.
"Aku? Aku bukan siapa-siapa hanya orang asing." Lirih Lynn, memilih menatap pohon-pohon yang berlari melewatinya dengan cepat.
Alfred mengambil nafas, akhirnya dirinya bisa merasakan ketenangan.
"Ngomong Kakak Alfred kita mau ke-"
__ADS_1
"Bisa diam gak? Turun dari mobilku sekarang! kamu itu terlalu berisik." Bentak Alfred, mengertakan giginya.
Lynn yang dibentak mengigit bibir bawahnya, Alfred menginjak pegal rem begitu lampu merah menyala, Lynn yang merasakan mobil berhenti keluar dari mobil Alfred.
"Terimakasih atas tumpangannya dan semoga kita tidak bertemu lagi." Kata Lynn dengan suara lebih tinggi, menutup pintu mobil keras-keras dan berjalan pergi tanpa membalikkan punggungnya sama sekali.
Alfred berdecak kesal, melajukan mobilnya begitu lampu berubah menjadi hijau.
"Ini mata kenapa? kok ngeluarin air?" Gerutu Lynn mengusap dengan kasar.
Lynn berhenti berjalan, melirik kebelakang dan mobil Alfred sudah tidak ada disana lagi, Lynn mengigit bibir bawahnya lagi.
"Eve, kamu tidak boleh lupa. Jangan pernah berharap karena harapan itu menyakitkan." Lirih Lynn menekankan kata-kata itu dalam hatinya.
Lynn mengangkat kepala, menatap langit yang mendung, satu tetes air jatuh dari atas langit mengenai wajah Lynn.
"Yah... Benar, aku bukan siapa-siapa." Lirih Lynn memegang dadanya yang sesak.
"Tidak, Evelynn Cornelius kamu harus kuat, ini bukan apa. Bukannya kamu sudah menghadapi sesuatu yang lebih dari ini? Jadi Aku baik-baik saja." Lynn menggeleng kepalanya, menepuk kedua pipinya menyadarkan dirinya.
Lynn mengambil langkah lebar, berlari pulang ke arah apartemennya. Mulut Yasmin terbuka lebar melihat kedatangan Lynn dengan pakaian basah kuyup.
"Eve, kamu kenapa disini? Bukan dirumah suami-mu? Kamu kehujanan? Diluar hujan? Bentar aku ambil handuk dulu." Yasmin menghujam Lynn dengan berbagai pertanyaan.
Yasmin berlari kedalam kamar dan keluar dari kamar dengan membawa handuk, Yasmin berjalan menghampiri Lynn, membalut tubuh Lynn menggunakan handuk.
"Seharusnya aku yang bertanya begitu padamu, kenapa kamu ada di apartement ku?" Lynn tersenyum tipis.
"Hehe... Aku pikir kamu tidak akan pulang kesini, jadi... Yah begitulah." Kekeh Yasmin, mengaruk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
"Eve, kamu harus pergi mandi sekarang juga sebelum kamu masuk angin, besok kan kamu baru pertama kali masuk, masa mau cuti." Celoteh Yasmin seperti Ibu yang memarahi anaknya yang bandel.
Yasmin membawa Lynn sampai ke pintu depan kamar mandi, Lynn menganggukkan kepalanya berjalan masuk kedalam kamar mandi.
"Sementara Eve mandi, aku akan membuatkan susu jahe dan coklat panas kesukaan Eve." Gumam Yasmin bersenandung senang.
Yasmin sudah selesai membuat minuman kini menunggu makanan yang dia beli tadi di supermaket siap dalam oven, oven mengeluarkan suara yang bertanda makanannya sudah siap.
Yasmin mengeluarkan makanan dan menghirup aroma harum masakan yang baru matang, Lynn keluar dari kamar, duduk dikursi yang meja breakfast bar menyatu dengan meja panjang lain.
"Eve, ini aku buatkan coklat panas untukmu." Yasmin menyodorkan minuman coklat yang diatasnya diberi marshmellow.
"Wah... Ini pasti enak."
Lynn mengangkat gelasnya dan menariknya sedikit, Yasmin tersenyum senang. Menaruh pasta keju yang baru saja dia keluarkan dari oven dihadapan Lynn.
"Yas, ini beneran kamu yang masak? Gak dikasih racun kan?" Lynn menatap Yasmin dengan tatapan tidak percaya.
"Bukan. Tenang aja racunnya gak berbahaya kok masih aman untuk dikonsumsi." Yasmin cemberut, mengambil satu suap pasta pedas dan memasukkan kedalam mulutnya.
Ha ha ha...
Lynn tertawa menanggapi Yasmin, mengambil pasta keju dan mengunyahnya, Yasmin yang duduk dihadapan Lynn menatap Lynn dengan tatapan intensis.
"Eve, tadi kamu belum jawab loh... Soal pertanyaan tadi, kenapa kamu bukan dirumah suamimu tapi malah pulang kesini?"
Hukk...
Lynn tersedak, terbatuk-batuk mengambil air putih yang diberikan Yasmin dan meminumnya sampai habis, mengelap bibirnya.
__ADS_1