
"Krisan bawa dia keluar dari ruangan ini dan berikan dia jawaban dari pertanyaannya." Perintah Alfred tersenyum tapi tidak ada lipatan dimatanya.
Sinta yang ingin meminta penjelasan secara langsung ditarik keluar begitu saja dari ruangan Alfred.
Krisan membawa Sinta keluar dari ruangan Alfred menuju ruangan yang berada disebelah ruangan Alfred.
"Lepaskan!" Bentak Sinta menangkis tangan Krisan dari tangannya.
Krisan mengambil tiga langkah menjauhi Sinta, dia menyemprotkan Hand sanitizer diseluruh telapak tangannya lalu menggosok dengan kuat.
"Apa kamu ingin tau alasan kamu dipecat?" Tanya Krisan dengan suara rendah.
"Tentu saja! Aku sudah bekerja dengan sangat baik selama ini!" Cetus Sinta tidak terima.
Krisan membetulkan letak kacamatanya, Sinta yang merasa terintimidasi, melipat tangannya diatas dada tidak takut.
"Kamu sudah menghianati perusahan dengan menjual data tentang perusahan dan juga membahayakan nyawa sesama karyawan." Jelas Krisan menatap Sinta tajam.
"Ap-apa? Si-siapa? Ak-aku tidak melakukan apa pun! Tidak, aku tidak pernah menjual data perusahaan," Sinta tergagap-gagap.
"Kamu tidak perlu berpura-pura lagi, Sinta. Oh... Dan juga, kamu berhasil masuk ke perusahaan berkat surat rekomendasi dari Andrew, padahal dia adalah musuh Tuan Alfred selama ini."
"Itu hanya surat rekomendasi! Apa aku bisa dipecat cuma gara-gara itu?"
"Jangan lupa kamu hampir membunuh sekertaris Lynn."
"Itu hanya hampir! Lagian dia juga tidak mati!" Jerit Sinta tidak terima.
Krisan melepaskan kacamatanya, berjalan mendekati Sinta, melihat Krisan yang semakin dekat Sinta secara otomatis mengambil langkah untuk mundur.
"Hik!" Sinta menahan napas saat punggungnya bertemu dengan dinding.
__ADS_1
Krisan mengeluarkan amplop dari saku jasnya, mengambil tangan kanan Sinta dan menaruh amplop itu diatas tangan Sinta.
"Pegang itu erat-erat karena itu adalah penyelamat hidupmu." Jelas Krisan tersenyum dingin, berbalik pergi.
Krisan berhenti didepan pintu, menoleh kebelakang sebentar, Sinta memeluk amplop itu dengan mata berkaca-kaca.
"Bereskan barangmu sekarang juga, aku tidak mau melihat dirimu berkeliaran disini." Krisan kembali berjalan keluar.
Bum
Pintu tertutup begitu saja, menyisakan kegelapan didalam hidup Sinta.
...🍒🍒🍒...
"Apa kamu sudah mengurus semuanya Krisan?" Tanya Alfred setelah Krisan berjalan masuk kedalam ruangannya.
"Iya! Dan aku juga sudah mengumpulkan infomasi tentang lokasi kemarin." Kata Krisan menaruh map hitam keatas meja Alfred.
"Bukan sebuah kebetulan kalau ada gubuk ditengah hutan bahkan dengan perlengkapan barang yang lengkap disana," Jelas Krisan.
Alfred menaruh map hitam diatas meja, mengeluarkan pistol berwarna silver dari saku jasnya. Alfred memutar kursinya membelakangi Krisan.
"Revolver?" Gumam Krisan pelan memperhatikan pistol ditangan Alfred.
Alfred memutar kursinya, membidik vas bunga yang tertata bunga lilac, Alfred menarik pelatuk.
Dor
Krisan mengerutkan keningnya bingung, vas bunga masih sama seperti sedia kala. Vas bunganya tidak pecah sama sekali, Alfred menarik ujung bibirnya tersenyum sinis.
Krisan menutup bibirnya rapat-rapat memikirkan apa arti dari pistol tidak berpeluru itu, Alfred melempar pistol itu kebawah, di pegangan pistol terdapat ukiran nama berwarna emas.
__ADS_1
"Andrew, Andrew... akanku pastikan ekormu tertangkap," Tekad Alfred.
Alfred menaikan rambutnya keatas, sekarang dirinya sangat emosional sedikit saja yang menganggunya amarahnya langsung naik. Ini bukanlah dirinya yang biasa, Alfred selalu bisa mempertahankan poker face.
Alfred menyentuh dadanya berdegup kencang, bayangan wajah Lynn yang tersenyum manis selalu terbayang dipikirnya.
"Apa kamu sakit Alfred?"
Alfred tidak menjawab, dia terus menatap Krisan tanpa menjauhkan tangannya dari dadanya.
"Tidak mungkin sebuah penyakit mau mendekati Alfred, mereka akan membeku jika bertatapan mata denganmu." Goda Krisan.
"Kenapa kamu menyentuh dadamu sambil menatapku? Aku tidak yakin kalau rumor kau itu gay itu benar," Protes Krisan tidak suka, menutupi tubuhnya dengan kedua tangan.
"Apa kamu sudah gila? Bawakan aku seorang dokter sekarang," Perintah Alfred menutupi wajahnya.
Krisan berdiri tegak, mendengar suara Alfred.
"Apa kamu benar-benar sakit?" Tanya Krisan khawatir.
"Yah... akhir-akhir ini jantungku berdetak cukup cepat dan aku selalu merasa gugup tanpa alasan dan itu membuatku frustasi."
Krisan menatap Alfred, dia tidak percaya kalau Alfred, tuannya bakal bercerita tentang masalah pribadinya.
"Tunggu! Apa tadi kamu bilang jantungmu berdetak kencang?" Ulang Krisan.
"Iya... jadi cepat bawakan aku seorang dokter sebelum aku divonis mengidap penyakit kronis."
Krisan menatap Alfred dengan senyuman manis dibibirnya, Alfred memamasang wajah jijik. Entah apa yang menyebabkan perubahan Krisan yang mendadak.
"Kamu tidak perlu mencari dokter."
__ADS_1
Krisan menepuk dadanya dengan bangga. Alfred menghela napas.