
"Ray, tenangkan amarahmu. Kita bisa bicarakan ini diruangan lain." Robert menepuk pundak Rayhan menyadarkan Rayhan akan tatapan orang lain.
Rayhan mengambil nafas dalam-dalam, dia menahan diri karena dia harus memikirkan apa perkataan orang lain tentang putrinya.
"Aku tau semua ini pasti perbuatanmu." Bisik Rayhan, berjalan melewati Hana. Rayhan pergi mengambil minuman, Alfred melepas tangan Lynn dan berbalik dengan dingin tanpa mengatakan apa pun.
Lynn menatap tangan yang baru saja dilepaskan Alfred, rasa hangat yang dia dapatkan tiba-tiba menghilang secara perlahan.
Mina yang baru kembali dari toilet, menatap Yasmin dan Lynn secara bergantian, dia tidak tau apa yang terjadi saat dia pergi ke kamar mandi. Mina mengaruk kepalanya yang tidak gatal bingung dengan suasana yang aneh ini.
Di luar
Wendy menghirup nafas sebanyak mungkin dan mengeluarkannya secara perlahan-lahan, kakinya yang panjang terus melangkah pergi.
Disaat yang sama Wendy mendengar ada keributan di dekat gerbang pintu masuk, Wendy mencoba mengabaikannya, duduk bersandar pada bangku.
"Hei... Kenapa kamu ada disini?"
__ADS_1
Suara yang familiar membuat Wendy membuka matanya yang tertutup rapat, memastikan apa yang dia pikirkan sama dengan kenyataannya.
Wendy tanpa sadar tertawa sedih, dia mengira hanya dirinya yang menyedihkan ternyata ada orang lain yang buruk dari pada dirinya.
"Wendy, aku bertanya padamu, aku memerlukan jawaban bukan senyuman ramahmu itu." Keluh Arga tidak suka.
Arga menatap pakaian Wendy dari atas hingga bawah, otaknya mulai memproses pikiran negatif melihat Wendy yang berbalut dalam tuxedo hitam yang rapi.
"Wendy, bukan kamu yang menikah dengan Lynn, kan?" Tanya Arga, wajahnya penuh ketegangan. Wendy menundukkan kepalanya, tersenyum kecewa.
"Bukan a-" Wendy mengangkat kepalanya, menyipitkan mata tidak mengerti kenapa dirinya harus menjawab pertanyaan yang dilontarkan Arga.
"Kemana kamu disaat Lynn membutuhkan dirimu? Kenapa kamu baru muncul sekarang." Bentak Wendy menarik kerah baju Arga, mata Wendy memancarkan penuh kebencian.
"Lalu apa hakmu untuk mendapatkan jawaban dariku?" Arga tersenyum sinis, menepis tangan Wendy.
"Tentu saja hak aku tidak punya hak karena aku bukan siapa bagi Lynn tapi aku berhak mendapatkan jawabannya karena aku mengharapkan kebahagian Lynn bukan seperti dirimu." Mendorong bahu Arga menggunakan jari telunjuknya, matanya memancarkan siluet cahaya.
__ADS_1
Wajah Arga langsung berubah menjadi gelap, tidak terima perkataan Wendy. Wendy melepaskan jas hitamnya hingga menyisakan kemeja putih.
"Apa maksudmu?" Arga menggertak kesal, mengusap wajahnya kasar.
"Kamu tau kan aku tidak akan menjawab sebelum kamu menjawab." Tegas Wendy, meregangkan tubuhnya yang kaku.
"Ckck... Aku pergi ke Australia selama ini, dan aku baru pulang kemarin dan sekarang kamu bisa menjawab sekarang." Arga mengacak rambutnya gusar.
"Dia menikah dengan Kakakku Alfred." Wendy menarik dasi yang dipakainya dan melepaskan kancing atas yang mencekik.
"Apa maksudmu? Jadi Lynn menikah dengan Alfred? Gak.. Aku harus menghentikan semua ini." Arga tertawa pelan sambil memiring kepalanya tidak percaya, berbalik mau pergi kearah gerbang.
"Udah telat, mereka udah nikah. Lagian kalau kamu punya niat buat hentiin seharusnya datang lebih awal." Wendy duduk di kursi panjang menatap Arga dengan tatapan bosan dan lelah.
"Aku gak bisa masuk karena ada penjaga yang menghalangi aku masuk dengan alasan tidak memiliki surat undangan, kalau saja penjaga itu gak ada." Arga menghela nafas berat, ikut duduk disamping Wendy.
Wendy berpikir sejenak, kali ini dirinya benar-benar harus membuang perasan ini, dia tidak akan mungkin bisa menghadapi atau bertemu Lynn untuk sementara waktu, melirik Arga yang terlihat murung.
__ADS_1
"Semoga beruntung, kawan." Wendy menepuk pundak Arga dan berjalan pergi meninggal Arga yang melipat tangannya menatap kebawah.