Aku Menikahi Tuan Es?!

Aku Menikahi Tuan Es?!
Chapter 14


__ADS_3

"Cici." Bentak Aila, Cici tersentak kaget membalikan pandangannya, dia baru sadar kalau Ray menatapnya dengan tatapan mau memakannya hidup-hidup.


"Aila." Panggil Ray, wajah Aila langsung berubah pucat. Cici memukul bibirnya, dia melupakan peringatan yang selalu Aila katakan padanya setiap hari.


"Jangan pernah membicarakan atau mengungkit masalah yang berkaitan dengan Lynn dirumah ini, apalagi kalau ada ayahmu di rumah. Ingat itu Cici."


Perkataan Aila melintas di pikiran Cici, Cici melihat wajah Aila pucat. Melihat kearah Ray, wajah ayahnya terlihat sangat marah dan penuh kerutan.


"Ti-tidak Ray, apa yang di katakan Cici itu tidak benar. Saat ini Lynn tengah menginap dirumah temannya karena tugas... Iya tugas." Alasan Aila, Aila mengambil napas dalam-dalam.


Jawaban yang diberikan Aila tidak membuat Ray puas sama sekali, Ray mengeluarkan ponselnya dan mencari nama seseorang dikontak ponselnya.


"Cito, aku ingin kamu datang kerumah ku sekarang juga." Perintah Ray, mematikan teleponannya secara sepihak.


"Cici, putriku katakan semuanya pada ayah." Ray melembutkan suara, Aila merinding mendengarnya.


Aila sadar Cici pasti akan menjawabnya jujur, selama ini Ray tidak pernah memanggil Cici dengan lemah lembut apalagi menyebut Cici putrinya.

__ADS_1


"Lynn pergi dari rumah kemarin, sampai hari ini dia juga belum pulang-pulang, pekerjaan rumah jadi banyak. Cat kuku Cici pun jadi jelek karena harus beres-beres dan mencuci." Keluh Cici, Aila menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


"Aila, apa yang kamu lakukan? Kamu menyuruh putri kecilku melakukan pekerjaan rumah sementara sudah ada ART disini." Bentak Ray berdiri dari tempat duduknya melempar gelas yang ada ditangannya.


Cici gemetar ketakutan ini pertama kalinya dia melihat Ray semarah ini pada Aila, Aila berlinang air mata mengangkat kepalanya menatap Ray tajam.


"Dia bukan anak kecil, dia sudah berumur 20 tahun, Ray." Teriak Aila tidak mau kalah.


"Lynn akan selamanya menjadi putri kecilku. Kamu harus ingat posisimu di rumah ini." Ray tidak menurun suaranya sama sekali, mengacak rambutnya frustasi.


"Lalu kenapa kamu tidak menyayanginya? Jadi jangan salahkan aku berbuat jahat." Kata Aila tertawa senang.


"Aku menikah denganmu bukan karena urusan pribadiku Tapi aku hanya berharap kalau putri kecilku bisa mendapatkan kasih sayang seorang ibu." Ray melepaskan cengkeraman, berdecak kesal.


"Tuan." Panggil seorang pria, dia adalah Cito. Ray mengambil napas dalam-dalam, duduk disofa mendengar laporan.


"Katakan semuanya padaku." Ray mengeluarkan rokok dari sakunya, tiba-tiba dia teringat Lynn batuk karena asap rokok, membuang rokok itu kesembarang arah.

__ADS_1


"Baik.. Nona Lynn dikeluarkan dari sekolah dengan alasan melakukan pembulian dan tidak bisa membayar biaya kuliah dan kejadian itu sudah 2 bulan lalu, sekarang Nona Lynn bekerja di kafe mawar dan setau saya uang yang didapatkan dari bekerja kafe diambil Nona Aila. Hanya itu yang bisa saya laporkan." Kata Cito membungkuk hormat.


"Kerja? Ha Ha Ha.. Ayahnya adalah seorang pemilik sebuah perusahan dan putriku harus bekerja di sebuah kafe?" Ray tertawa kecewa, memukul meja.


"Cito, cari tau dimana Lynn berada sekarang juga." Perintah Ray, Cito mengangguk paham, kakinya yang panjang berjalan pergi.


"Kamu sudah keterlaluan Aila, aku pura-pura tidak tau saat kamu menjual putra kedua ke bar karena aku tau dia pasti bisa mengatasi sendiri tapi kali ini Lynn? Aku rasa kamu harus keluar dari rumah dan kita akan cerai sekarang juga." Tutur Ray berjalan menaiki tangga.


"Lebih baik kita cerai, aku juga sangat muak denganmu Rayhan Cornelius." Teriak Aila berjalan menuju kamarnya, Ray sama sekali tidak mengubrish Aila, kakinya terus melangkah menuju kamar putrinya.


"Maafkan ayah Lynn, aku ayah yang tidak berguna." Kata Ray duduk bersandar pada pintu kamar Lynn.


Ditempat Lynn


"Hachu.." Lynn mengosok hidungnya, Mina duduk disamping Lynn memberikan Lynn tisu yang dia bawa.


"Aku rasa kamu Flu, Eve. Kita pulang ajah yuk." Bujuk Mina menggoyangkan tangan Lynn.

__ADS_1


"Gak, hari ini kita bakal melamar pekerjaan di perusahaan ini." Tekad Lynn memperhatikan gedung pencakar langit  di hadapannya ini.


__ADS_2