
Yasmin tersenyum, mengalihkan tatapan matanya menuju tempat lain. Lynn menghela napas, sekarang dia tau bagaimana Krisan bisa mendapatkan kopernya.
"Eve!!" teriak Mina, merangkul Yasmin dari belakang, Mina tersenyum lebar.
"Astaga! Berhentilah berteriak, telingaku bakal rusak!" kekuh Yasmin mendorong wajah Mina menjauh.
"Bagaimana mabukmu? Udah mendingan Min?" tanya Lynn, mengambil posisi duduk bersila.
"Aku? Tentu saja sudah, berkat sup yang kamu buat."
"Kamu hanya bertanya pada Mina? Bagaimana
denganku yang sudah mewujudkan impianmu ini?" Yasmin memasang wajah sedih.
"Jangan dulikan dia, karena dialah kamu disana!" Mina merebut ponsel dari tangan Yasmin.
"Hei! Kenapa kamu mengambil ponselku? Kembalikan!" Yasmin berteriak merebut ponselnya kembali.
Lynn terkekeh melihat perpindahan ruangan di layar ponselnya berubah begitu cepat.
"Eve, kau tau kalau Yasmin lebih memilih seorang pria dari pada diri- mmhh,"
"Sudah diam. Eve Kak Devan mengirim surat untukmu," jelas Yasmin mengangkat amplop putih dengan prangko bergambar kapal perang zaman dulu.
"Beneran? Simpan surat itu sampai aku kembali, awas kalau ada dari antara kalian berdua membukanya." Lynn mengacungkan jari telunjuknya mengancam kedua sabahatnya.
"Hehe ... tenang saja, semua bakal aman bersama dengan Yasmin,"
"Begitu pula, Mina," sahut Mina, rambut Mina acak-acakkan.
"Eehh, Eve kamu sendirian disana? tunjukkan bentuk kamarnya, aku sama Yasmin sedikit penasaran,"
__ADS_1
"Aku sendirian kok." Lynn memutar ponselnya, menunjukkan kamar hotel.
Di kiri ada sebuah pintu putih menuju balkon, gorden berwarna cream menghiasi sisi pintu, didepannya terdapat televisi layar lebar dan pendingin ruangan diatasnya. Meja disudut ruangan, dan kaca lebar berada tidak jauh dari meja.
"Wow, Eve, apa kamu mau bertukar tempat denganku?" tanya Yasmin, mengerucutkan bibirnya iri.
"Untuk kali ini, tidak!" Lynn beranjak turun dari kasur menuju pintu balkon.
"Akhh, kamu tidak adil!" teriak Yasmin.
Wuss
Sejuknya angin malam menerbangkan rambut tipis, Lynn bersandar pada batas pagar tangga. Menikmati pemandangan mewah didepan, didalam kegelapan terdapat bangunan tinggi dengan titik terang cahaya kuning disetiap sudutnya.
Tower berada dititik tengah pusat kota memancarkan cahaya terangnya tersendiri membawa kehidupan berputar disekitar tower. Langit malam meninggalkan kesan mendalam, dunia seakan berhenti bergerak, semuanya tampak sangat indah dan tidak nyata dimata Lynn.
"Aku pengen menyusul," keluh Yasmin, dia hanya bisa menatap pemandangan indah itu dari layar ponsel.
"Maafkan aku, lain waktu aku akan membawamu kesini, aku janji!"
"Tidak Lydia, besok aku harus melakukan negosiasi dan lusanya aku bakal pulang, secepatnya aku bakal pulang, Ok?"
Lynn tidak menoleh sama sekali, dia tau siapa yang sedang berteleponan dengan Alfred karena Alfred udah menyebutkan namanya tanpa perlu Lynn tebak-tebak lagi.
"Eve, kamu masih dikamarkan?"
"Iya, aku dikamar kok, kenapa?"
"Kamu bohong yah? Katanya sendiri kok, ada suara pria disana?" selidik Yasmin.
Lynn tersentak kaget, buru-buru mengelengkan kepalanya. Lynn membantah pertanyaan Yasmin, "A-aku emang sendiri, kamu ngawur, ngantuk kali, pergi tidur sana ... bye." Lynn melambaikan tangannya memutuskan telepon.
__ADS_1
Lynn menyalakan mode pesawat agar Yasmin tidak berhasil meneleponnya, Lynn menghela napas. Dia belum mau masuk kedalam, tetapi udara malam terlalu sejuk dan pakaian Lynn terbilang tidak tebal untuk menikmati udara.
Lynn menutup pintu balkon, menatap punggung Alfred membelakangi dirinya.
"Iya sayang, aku janji kita bakal ke negara apa pun yang kamu mau, mau spanyol, perancis, jerman, aku akan bersamamu disana." Alfred memutar tubuhnya.
Mata Alfred dan Lynn terhubung, Lynn menoleh ke kiri mengakhir tautan mata mereka.
"Iya, Good night sweetie." Alfred menutup teleponnya, menaruh ponselnya di atas meja.
Alfred mengosok lehernya, dia merasa canggung dan tidak nyaman disudut hatinya. Kesunyian menyelimuti ruangan dalam sekejap, Alfred baru mau membuka mulutnya tetapi tertutup rapat lagi.
"Aku akan tidur disofa," tutur Lynn, mengambil bantal dari ranjang dan menaruhnya disofa.
Alfred ingin menghentikan Lynn, namun egonya lebih tinggi dari pada rasa empati dihatinya. Alfred berbalik, pergi ke kamar mandi mengabaikan Lynn.
"Apaan sih, itu orang? Kenapa nyuruh satu kamar kalau aku-nya yang tidur disofa?" Lynn memukul bantal melampiaskan kekesalannya.
Lynn membaringkan tubuhnya, mengambil posisi yang nyaman sambil menutup matanya rapat-rapat.
Alfred keluar dari kamar mandi, mengosok rambutnya yang basah. Menatap Lynn tertidur membelakangi dirinya, tubuh Lynn meringkuk dalam kedinginan.
Alfred mengambil selimut, menyelimuti Lynn. Alfred berbalik, berhenti beberapa langkah, alis Alfred berkerut bingung, dia tidak tau kenapa dirinya rela memberikan selimutnya untuk Lynn.
Alfred mengulurkan tangannya mau menarik kembali selimut yang diberikannya, tiba-tiba Lynn berputar, wajah Lynn menghadap kearah Alfred.
Alfred berdehem, dia tidak tau kapan Lynn akan membuka matanya. Dia tidak mau kalau Lynn mengira dia sedang mengawasi Lynn yang sedang tertidur.
Merasa tidak ada pergerakan, Alfred mau menarik selimut tetapi wajah Lynn tertidur lelap dan nyenyak menusuk hati nurani Alfred.
"Haissh ... aku berikan selimut jelek itu karena aku itu baik." Alfred berbalik, berbaring terlentang diatas ranjang.
__ADS_1
"Tunggu, untuk apa aku bersikap baik padanya?" batin Alfred.