
Lynn baru turun dari sepeda motor, berlari secepat mungkin kedalam perusahaan. Setiap orang sibuk berjalan kesana kesini, ada yang membawa kopi, ada yang sibuk dengan berbagai macam dokumen.
Lynn celingguk ke kiri dan ke kanan mencari sesuatu, dia tidak tau dibagian mana dirinya dipekerjakan.
"Hei... Apa kamu karyawan baru disini?" Seorang wanita menatap Lynn dari atas kepala hingga ke ujung kaki.
"Karyawan baru disuruh untuk kumpul lebih dulu diruangan sana." Kata Wanita itu menunjuk ke ruangan dimana banyak sekali orang yang berkerumunan.
Lynn mengikuti arah tunjukan jari wanita itu, tersenyum senang. Lynn melihat ke samping mau mengucapkan terima kasih tapi wanita tadi sudah berjalan pergi.
"Terima-" Lynn berjalan mendekati ruangan, mendorong pintu dan menyelinap secara perlahan-lahan.
Hanya ada 20 orang didalam ruangan itu bahkan tidak dihitung dengan Lynn sendiri, dan ada 5 orang berdiri diatas panggung.
Lynn menghembuskan nafas lega, tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya membuat dirinya terkejut setengah mati. Lynn melirik kebelakang memastikan siapa orang itu, Lynn bernafas lega saat tatapan matanya bertemu dengan tatapan Mina.
"Eve, kamu kok baru datang?" Bisik Mina, memperhatikan sekelilingnya.
"Min, kayaknya kamu ketularan penyakit Yasmin, suka ngejutin orang." Bisik Lynn, seketika wajah Mina berubah menjadi tidak suka.
"Jang-"
"Baiklah semuanya, disini ada beberapa asisten yang akan mengantarkan kalian ke tempat dimana departement kalian." Seorang pria dengan kacamata tebal menunjuk sisi kirinya, dimana ada empat asisten baik wanita mau pun pria dengan masing-masing departmentnya.
Orang yang berdiri didepan mulai memanggil nama dari setiap orang yang ada disana menuju ke departement mereka masing-masing.
__ADS_1
Mina melambaikan tangannya, dia harus pergi dari ruangan itu karena sekarang mereka harus pindah ketempat kerja. Setiap satu asisten yang maju semakin berkurang orang yang ada didalam ruangan.
Sekarang semua orang sudah pergi hanya menyisakan Lynn seorang diri, Lynn yang ditinggal sendirian tidak tau harus berbuat menatap pria yang berkacamata tebal itu.
"Oh... Ternyata semua orang sudah pergi." Pria itu bangkit dari tempat duduknya berjalan keluar.
"Apa aku tidak terlihat?" Gumam Lynn mengedipkan kedua matanya bingung.
Pria berkacamata itu masuk kedalam ruangan lagi, mengambil dokumen yang terletak diatas meja lalu melakukan kontak mata dengan Lynn.
"Oh... Ternyata masih ada orang." Gumam Pria itu, membetulkan kacamata tebalnya.
"Nona Cornelius, tolong ikuti saya." Kata Pria itu setelah membolak-balik beberapa lembar kertas
Lynn mengikuti pria itu, mata Lynn terus berputar melihat ke kiri dan ke kanan, mereka berdua berhenti didepan pintu lift yang masih tertutup.
"Kenapa hanya ada satu tombol disini?" Gumam Lynn dalam hatinya.
Pintu lift terbuka, Lynn mengikuti pria itu sampai masuk kedalam satu ruangan dimana semua orang sibuk dengan layar komputer yang ada dihadapan mereka.
Pria kacamata berhenti didepan pintu, mengetuk sebentar, Lynn merasa sangat tegang.
Tok... tok...
"Masuk."
__ADS_1
Lynn bisa mendengar suara bariton datang dari balik pintu memenuhi gendang telingannya, suara itu penuh dengan kharisma dan wibawa.
"Ayo masuk." Pria kacamata memberikan kode pada Lynn yang berhenti didepan pintu, tidak berani melangkah masuk.
Lynn mengambil langkah pelan masuk, memperhatikan sekeliling ruangan yang penuh dengan penghargaan dan di depannya ada kaca yang memperlihatkan bangunan tinggi lainnya.
"Direktur, saya disini mengantarkan sekertaris baru anda." Kata Pria berkacamata itu.
Mata Lynn membelak tidak percaya, menatap pria berkacamata yang membungkuk hormat. Kursi putar itu masih menghadap ke arah jendela.
"Aku tidak pernah mendaftar dibagian sekertaris!." Teriak Lynn dalam hatinya, tapi wajahnya masih tersenyum seperti biasanya.
Tidak ada jawaban sama sekali dari orang yang duduk dikursi putar itu, Lynn memiringkan kepalanya mau mengintip sedikit.
"Hei..." Pria itu menarik ujung kemeja Lynn, Lynn ikut menunduk hormat.
Kursi itu memutar, seorang pria dengan style formal memperhatikan Lynn dan membungkuk hormat, pria itu menaruh kaki kanannya diatas kaki kirinya.
"Apa kamu tidak akan memperkenalkan dirimu?"
"Kok, suaranya kayak kenal. Tapi suara siapa?" Tanya Lynn dalam hatinya, bingung.
"Perkenalkan nama saya Evelynn Cornelius!." Tegas Lynn mengangkat kepalanya dan tersenyum ramah.
Wajah Lynn dan pria itu berubah menjadi aneh setelah mereka berdua melakukan kontak mata.
__ADS_1
"Loh, Kakak Alfred?" Lynn menaikan salah satu alisnya, tangannya menunjuk Alfred.