
Lynn melirik kejauhan dimana Mina sudah ditarik pergi oleh seorang wanita berambut pendek yang belum pernah dirinya temui.
"Hei-Hei, kamu lihat kemana kita ada didepanmu tau!" Ana melambaikan tangannya diatas pandangan Lynn.
"Kenapa?" Tanya Lynn melepaskan senyuman lelah dari wajahnya.
"Alah... Malah pakai tanya lagi, tentu saja kamu akan menggantikan Pina untuk ikut lomba voli. Tangan Pina terluka jadi kamu harus main!" Kata Ana tanpa memandang Lynn.
"Lagian kamu juga tidak punya pekerjaan, untuk apa menolak?" Cibir Ana memainkan rambutnya menatap Lynn dari bawah sampai keatas.
"Bukannya masih banyak orang yang bisa menggantikan Pina?" Tanya Lynn sambil memiringkan kepalanya menatap tangan Pina yang dibalut kain kasa.
"Apa susahnya sih buat gantiin Pina? Kan tinggal main, menang atau kalah itu urusan belakangan!" Bentak Ana.
Lynn mengepalkan tangannya erat-erat, kemarin dia masih ingat saat dirinya bertemu Pina dan rombongannya diruangan istirahat tangan Pina baik-baik saja.
"Ayo, apa susahnya sih? Lagian kalau menang kamu juga untung!" Gerutu Ana menarik tangan Lynn mengikuti dirinya.
Lynn menarik tangannya dari genggaman tangan Ana, menyentuh pergelangan tangannya menatap Ana dengan tatapan dingin.
"Aku bisa jalan sendiri!" Kata Lynn melirik kesamping dimana Pina sedang berdiri.
"Huh..." Ana mengerutu kesal berbalik berjalan lebih dulu.
__ADS_1
Lynn memperhatikan tangan Pina yang mengantung tidak seperti tangan orang yang kesakitan.
"Hai! Kalian kan kekurangan satu orangkan? Ini sekertaris Lynn bilang kalau dia bersedia untuk ikut serta mengisi posisi satu orang itu." Ana tersenyum penuh kemenangan melirik Lynn dengan tatapan kasihan.
"Benarkah sekertaris Lynn?!"
Lynn langsung dikerumuni, Ana tertawa terbahak-bahak berjalan pergi diikuti Pina disampingnya.
"Huu... Baiklah Aku akan menemani permainan kalian." Lynn menghela napas tersenyum.
Kelima wanita yang mengerumuni Lynn berseru senang satu sama lain.
🍒🍒🍒
Lynn duduk dikursi penonton menonton permainan sepak bola, permainan sangat sengit dan menengangkan. Tiap tim saling mengejar poin satu sama lain, tidak ada yang mau mengalah.
"Kyaa... Aku tidak tau harus mendukung yang mana!!" Teriak wanita yang duduk disebelah kanan Lynn heboh.
"Aku juga!!" Sahut wanita yang duduk diatas.
"Aku akan mendukung tim yang menang saja!" Tambah wanita yang duduk disebelah kiri Lynn.
Lynn menyandarkan wajahnya, memperhatikan pemain yang ribut merebutkan bola, tim lawan tidak sengaja menendang bola kearah Alfred.
__ADS_1
Alfred menyeringai senang berlari mengumpan bola ke arah gawang, waktu tinggal 1 menit lagi untuk mencetak poin.
"Semangat Tuan Alfred!!" Teriak para wanita menyemangati.
Alfred menendang bola masuk kedalam gawang, semua orang langsung berteriak senang dan heboh disaat yang bersamaan waktu juga sudah habis tidak ada kesempatan untuk lawan mencetak poin lagi.
"Kyaaa...! Tuan Alfred!"
Lynn menutup telinga dengan kuat, telinganya sangat sakit mendengar teriakan yang datang dari berbagai penjuru arah.
Teriakan makin nyaring, Lynn mengangkat kepalanya melihat kearah dimana penyebab suara itu berasal, Alfred mengelap keringatnya menggunakan ujung baju, hal itu menyebabkan perut Alfred yang berkotak-kotak terlihat.
Lynn membeku ditempat begitu tatapan matanya secara tidak sengaja bertemu dengan tatapan mata Alfred yang tajam, Lynn memalingkan wajahnya kesamping, dirinya mendadak jadi salah tingkah.
"Aaah... Apa kamu lihat itu? Tadi aku melakukan kontak mata dengan Tuan Alfred!" Teriak Wanita yang duduk disebelah kanan Lynn mengoyangkaan tangan Lynn penuh kehebohan.
Lynn menatap wanita yang memegang tangannya, wanita itu melirik Lynn.
"Aah.. Maaf aku kira-kira itu temanku." Kata wanita itu malu, bangkit dari tempat duduknya dan kabur.
Lynn memiringkan kepalanya tidak paham kenapa wanita itu malah pergi, sedangkan pertandingan selanjutnya masih belum dimulai.
"Apa ini?" Gumum Lynn memeriksa pergelangan tangannya, ada bekas noda hitam ditangannya.
__ADS_1
Lynn menatap kearah dimana wanita itu pergi, seharusnya tidak ada apa pun ditangannya, Lynn berdiri dari tempat duduknya berjalan pergi.
"Target sudah bergerak." Gumam Sinta menyeringai jahat.