
Alfred mengawasi punggung didepannya, Lynn berhenti berjalan, Alfred mengikuti kemana tatapan mata Lynn tertuju.
"Kios barang?" gumam Alfred, Lynn sudah tidak berdiri didepannya lagi.
Alfred menghela napas, mendekati kios. Lynn memandangi barang-barang tersusun rapi diatas meja berkarpet merah, beberapa barang aneh yang belum pernah dilihat Lynn.
"Wow ... gelang ini sangat cantik!" Lynn mengangkat tinggi gelang berwarna biru laut, gelang memancarkan cahaya saat bertemu sinar matahari.
"Oleh-oleh apa yang cocok untuk Mina dan Yasmin?" tanya Lynn pada dirinya sendiri, mengamati setiap barang.
Alfred menatap Lynn, silauan kecil mengenai mata Alfred saat dia hendak mengambil patung berbentuk kucing, benda kecil di rak kecil menarik perhatian Alfred.
"Oh, apa anda tau ini apa? Ini adalah furin atau lonceng angin," jelas penjual itu.
Alfred mengambil lonceng angin yang disebutkan penjual, memperhatikan bentuknya. Melihat rasa penasaran dimata Alfred, penjual itu tersenyum sesaat.
"Biar aku jelaskan padamu lonceng angin adalah jimat yang bagus untuk mengusir hawa negatif," jelas penjual itu.
Alfred melirik penjual dan lonceng ditangannya secara bergantian, penjual itu mengeluarkan lonceng angin bergambar lautan, dan ikan emas.
"Lonceng ini akan berbunyi begitu terkena angin, dan suaranya sangat enak didengar. Karena anda seorang pria, saya menyarankan anda model ini."
Alfred menatap lonceng ditangan penjual, lonceng ditangannya berwarna pink dan bermotif bunga sakura.
"Tidak, aku akan membeli yang ini. Tolong di bungkus," titah Alfred memberikan lonceng angin yang ada ditangannya.
Mata penjual itu berbinar senang, buru-buru mengemas lonceng, Alfred melirik ke arah Lynn.
"Sepertinya anda bukanlah orang daerah sini, yah?" tanya penjual itu, memasukkan satu lagi lonceng kedalam tas.
"Karena anda sudah membeli ini dan sebentar lagi musim panas, saya berikan satu lagi untuk anda." Penjual itu tersenyum senang, memberikan tas bungkusan pada Alfred.
__ADS_1
Alfred mengeluarkan beberapa lembar uang dari sakunya, penjual itu mengerutkan keningnya bingung. Wajah Alfred terlalu tegang dan tatapan matanya tertuju ke tempat lain.
"Terima kasih banyak," ucap penjual itu, melambaikan tangannya pada Alfred.
"Ohh, uangmu terlalu banyak untuk satu lonceng!" teriak penjual itu, melihat uang ditangannya.
Alfred tidak menghiraukan penjual itu, berjalan lurus kedepan, Alfred mengepalkan tangannya kesal, melihat sekelilingnya. Cuma beberapa menit Alfred mengalihkan pandanganya dan masih Lynn berdiri disamping Alfred, namun setelah itu Lynn menghilang bahkan Alfred tidak menyadari kalau Lynn pergi.
"S*****, apa dia anak kecil? Kenapa aku selalu kehilangan dia?" maki Alfred mengusap rambutnya keatas.
Alfred mengertakkan giginya, dia tidak akan bisa menemukan Lynn ditengah lautan orang dengan mudah. Lynn tidak terlalu pendek untuk terseret kedalam arus, lalu kenapa dia tiba-tiba menghilang tanpa memberitaukan kemana dirinya pergi, apa sangat sulit untuk menjelaskan kemana dirinya akan pergi?
"Arghh, setidaknya berita tahu, aku tidak perlu memikirkan kemungkinan terburuk!!" teriak Alfred.
"Tidak, seharusnya aku tidak mengajaknya kemari." Alfred menarik dasinya, rasanya dia bakal terbakar amarah.
Alfred menatap langit cerah, sama sekali tidak ada awan di langit. Mungkin musim panas yang dibicarakan penjual tadi hampir tiba, Alfred menutup matanya sebentar, membayangkan betapa menyenangkannya menikmati angin laut sambil berbaring santai tanpa memikirkan apa pun.
"Eii?!"
Alfred menatap anak remaja yang tingginya tidak seberapa dengan tinggi badannya, tangan remaja itu berada didalam tas lonceng Alfred. Remaja itu menarik keluar tangannya, lonceng angin di genggaman tangannya.
"Ah, itu ufo!!" remaja itu menunjuk langit dan berlari kabur.
"Haa, hari ini benar-benar sangat menyebabkan!" geram Alfred, ada kerutan di dahinya.
Remaja itu tersenyum senang, menatap lonceng ditangan kanannya. Membayangkan uang yang didapatkan dari menjual lonceng ini, lalu membeli makanan enak membuat air liurnya mengalir keluar.
"Yosh, tunggu aku makanan enak!" teriak remaja itu, menggosok mulutnya tidak sabar.
"Hei, anak kecil kembalikan barangku!"
__ADS_1
Remaja itu menoleh kebelakang, Alfred tengah mengejar dirinya, remaja itu tersenyum licik. Menjulurkan lidahnya pada Alfred, berbelok dan mempercepat langkahnya.
"Kamu tidak akan bisa menangkapku paman," ejek remaja itu.
Berbelok kedalam gang, mengatur napasnya yang ngos-ngosan. Remaja itu tertawa nakal, tidak ada bayangan Alfred mengejarnya. Mengoyangkan bokongnya kearah dimana dua datang dan tertawa keras.
"Hahaha ... jangan remehkan aku paman!" Remaja itu melompat-melompat suka.
"Beli daging sapi, dan sisanya uangnya untuk beli ayam goreng milik paman Motoke. Aai ... sakit,"
Remaja itu terduduk di lantai, Alfred berjongkok mengambil lonceng miliknya.
"Orang dewasa mana yang berhasil kamu tipu?" Alfred tertawa sarkas, mengoyangkan lonceng.
"Cih, aku akan memaafkanmu kali ini." Remaja itu melipat tangannya membuang muka.
Alfred menaikan salah satu alisnya, remaja itu menepuk bokongnya beberapa kali.
"Selamat tinggal paman!" Remaja itu pergi dengan santai.
Alfred tertawa sinis, baru pertama kalinya dia bertemu anak aneh, bahkan tidak mengakui kesalahan yang di perbuat. Alfred menyimpan lonceng kedalam tas, berjalan keluar dari gang.
"A-aku tidak percaya!"
Alfred menoleh, dia kenal pemilik suara ini, apalagi logat bahasa yang dipakai untuk negeri Jepang sangatlah tidak cocok untuk berkomunikasi dengan masyarakat, apalagi cuma sepuluh persen orang mengerti bahasa ini.
"Lynn?"
Alfred berbalik mendekati gerobak dibelakang, disana ada Lynn tengah berdiri tegak. Alfred tersenyum senang, berjalan santai mau memanggil nama Lynn.
"Hei, ke-"
__ADS_1
Suara Alfred terhenti, ...