Aku Menikahi Tuan Es?!

Aku Menikahi Tuan Es?!
Chapter 107


__ADS_3

Mata Lynn melebar terkejut, sebuah tangan melintang dipinggangnya. Alfred memeluk Lynn dari belakang, menyembunyikan wajahnya dibawah leher Lynn.


"Kemana saja kamu?" gumam Alfred pelan.


"Tuan Alfred?" Lynn menoleh kesamping, wajah Alfred tidak terlihat cuma terlihat rambut hitam Alfred.


Lynn bergerak melepaskan pelukkan Alfred, bukannya terlepas, pelukkan Alfred malah bertambah erat. Lynn tidak tau harus berbuat apa sementara setiap orang yang berjalan lewat melirik kearah dirinya dan Alfred bahkan ada yang berbisik satu sama lain.


Lynn tidak tau mengerti apa bisikan mereka, merasa wajahnya memanas karena malu. Lynn mendadak salah tingkah, menundukkan kepalanya berbisik pelan pada Alfred.


"Tuan Alfred, kenapa kamu memelukku ditengah jalanan umum? Sekarang kita menjadi pusat perhatian!"


Alfred tidak menjawab, memperdalam pelukkannya. Lynn makin malu, dia bisa merasakan dan mendengar napas Alfred, Lynn menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya.


"Tuan Alfred, apa anda tidak merasa malu?" sindir Lynn, membuka cela di jarinya melihat orang-orang.


Alfred melongarkan pelukkannya, Lynn melompat keluar dari pelukkan Alfred, menjauhi Alfred lima langkah kebelakang. Lynn menyipitkan matanya, memperhatikan penampilan Alfred, berantakan tidak seperti Alfred biasanya yang selalu rapi dan berwibawa.


"Kenapa rambut anda berantakan? Habis curi ayam tetangga, yah?" Lynn menunjuk pakaian Alfred dari atas hingga kebawah.


Alfred menatap Lynn dengan tatapan intens, Lynn yang ditatap seperti menjadi salah tingkah. Lynn mengelengkan kepalanya, tidak mau masuk kedalam jerat maut Alfred.


"Berapa ekor yang kamu tangkap?" ledek Lynn, merapikan poni Alfred kesamping.


Alfred menangkap tangan Lynn menatap pemilik tangan lalu berangsur-angsur naik melihat Lynn. Lynn menarik tangannya, bukannya terlepas malah dirinya ditarik Alfred mendekat.


"Apa kamu punya hobi membuat orang bimbang?"


"Haah??" Lynn mengerutkan keningnya, bingung.


Alfred melepaskan tangan Lynn, menyentuh alis Lynn meluruskan alis Lynn yang berkerut. Lynn mengedipkan matanya beberapa kali, menyentuh kening Alfred dan keningnya.


"Tidak panas?" gumam Lynn.

__ADS_1


Lynn menatap Alfred penasaran, dia tidak tau apa tujuan Alfred melakukan ini padanya. Kepala Lynn rasa berputar tujuh kali keliling saking herannya.


"Apa kamu salah makanan obat tadi pagi?"


"Tidak, ayo pergi dari sini." Alfred mengengam tangan Lynn berjalan pergi.


Lynn mengaruk kepalanya, mengikuti kemana Alfred membawa dirinya pergi. Alfred berhenti berjalan sebuah tempat, Lynn tidak tau betul disetiap sudut Jepang. Tetapi di hadapannya sekarang terdapat berbagai macam kios terbuka, Lynn berjalan pelan tidak sadar kalau gengaman tangan sudah terpisah.


"Ini unik banget!" gumam Lynn penuh kekaguman.


Bermacam-macam hal dan keunikkan tersendiri dimiliki kios, ada kios yang menjual souvenir, makanan, mainan, kios pesulap, dan kios ramalan cinta.


"Tuan Alfred, kita dimana?" tanya Lynn mencoba menyembunyikan kesenangannya.


"Aku tidak tau." Alfred menoleh peduli.


"Aku tidak tau," beo Lynn pelan, mengikuti gaya bicara Alfred.


Lynn melipat tangannya, Alfred membawanya kesini tetapi orang yang membawanya tidak tau tempat apa.


Orang-orang mengikat kertas di dahan bambu, lalu menutup mata mereka berdoa. Lynn berhenti didepan pohon bambu, memperhatikan tulisan Jepang di tengah kertas. Lynn mengulurkan tanganya mau menyentuh kertas kuning yang bergantung di pohon bambu, Lynn dikejutkan Alfred, mengenggam tangannya tiba-tiba.


"Kenapa kamu suka sekali menghilang?!" Alfred mengerutkan keningnya kesal.


"Aku cuma mau melihat ini," jawab Lynn menunjuk ke arah pohon bambu.


"Wah, wah ... apa kalian adalah sepasang kekasih? Kenapa kalian tidak mencoba membuat permintaan." tawar seorang pria botak.


"Maafkan aku, aku tidak bisa bahasa Jepang," ungkap Lynn.


"Tidak kami bukan sepasang kekasih." Alfred menarik tangan Lynn.


"Lalu kenapa kamu memegang tangan wanita itu, jangan berbohong aku tau kamu hanya malu mengakuinya." Pria itu tertawa pelan, memberikan dua kertas berwarna merah pada Lynn dan Alfred.

__ADS_1


"Tulis saja permintaanmu, aku sudah tua jadi tidak perlu kertas ini lagi. Semoga kalian selalu bersama," tutur pria botak itu berjalan pergi.


Lynn memperhatikan kertas merah ditangan dan pria botak yang berjalan pergi, menoleh Alfred meminta penjelasan.


"Haa ... pria itu bilang kalau kamu bisa menulis permintaanmu di atas kertas dan mengantungnya di sana." Alfred menghela napas panjang.


Mulut bibir Lynn berbentuk huruf o, menatap kertas ditangan Alfred dan kertasnya.


"Apa kamu mau kertas ini?" tanya Lynn menunjuk kertas Alfred.


Alfred tidak menjawab Lynn, berjalan menuju meja tulis. Lynn tidak mau mengalah mendekati Alfred, tersenyum senang melihat tulisannya. Lynn melirik Alfred masih menulis, mau mengintip tulisan Alfred.


"Jangan mengintip, selesaikan saja tulisanmu," tegur Alfred, Lynn mengerucutkan bibirnya kesal.


"Aku tidak mengintip tau," balas Lynn.


Lynn mengikat di dahan bambu, tersenyum cerah, menutup matanya mulai berdoa dalam diam.


"Apa yang kamu doa,kan?" bisik Alfred.


"Orang sedang berdoa jangan di ganggu!" bisik Lynn balik.


"Kenapa kamu berdoa?"


"Jangan ganggu! Nanti doaku tidak tulus."


"Pftt, siapa yang menyuruhmu menjawab." Alfred terkekeh lucu.


Lynn membuka matanya melotot, Alfred tertawa nakal. Lynn mengepalkan tangannya, membuang muka berjalan pergi.


Alfred melirik kertasnya berdampingan dengan kertas Lynn, Alfred bergumam pelan, mengejar Lynn. Angin sepoi menerbangkan kertas, kertas merah melilit satu sama lain, dalam putaran angin.


...[Aku mau bertemu kedua kakak kembarku!] ~ Lynn....

__ADS_1


...[Bersama cahayamu disampingku.]~ ...


...Alfred....


__ADS_2