Aku Menikahi Tuan Es?!

Aku Menikahi Tuan Es?!
Chapter 92


__ADS_3

Ciit... Ciit


Sepasang burung pipit bertengger di dahan pohon, berkicau membisikkan cinta satu sama lain. Daun yang tidak sanggup menahan beratnya embun air membiarkan embun air mengalir jatuh meninggalkan gelombang pada genangan air.


Di balik jendela memperlihatkan dua insan tertidur diatas meja saling menghadap satu sama lain, sinar matahari menyinari, membangunkan salah satu insan yang tertidur nyenyak.


Lynn mengangkat kelopak matanya, bayangan buram memasuki indra penglihatannya. Lynn menggosok matanya pelan tapi tangan yang lebih besar menghentikan tangannya menggosok matanya. Suara serak memasuki


pendengaran Lynn, Lynn menyingkirkan tangannya menatapi pemilik suara.


"Jangan berisik." Kata Alfred dengan suara serak khas orang tidur, tetapi Alfred masih mata tertutup.


Alfred ada didepannya, dan jaraknya juga tidak terlalu jauh dari wajah Lynn. Lynn mengedipkan matanya berkali-kali, berteriak.


"Waahh ...!"


Buk!


Kaki Lynn membentur meja, Lynn terjatuh duduk kembali ke tempatnya, menarik keluar kakinya dari bawah meja.


"Aa-aduh ... " Ringis Lynn mengelus lututnya yang nyeri  kesemutan.

__ADS_1


Alfred menghela napas, memegang kaki Lynn dan memeriksa dimana luka itu berada.


"Apa kamu anak kecil? Selalu saja membuat kesalahan," Kata Alfred.


Wajah Lynn merona merah, dia bingung sebenarnya apa yang menggelitik hatinya. Apa itu perkataan pedas Alfred atau tindakannya. Lynn menarik kakinya dari tangan Alfred dan berdiri mundur tiga langkah menjauhi Alfred.


Kening Alfred berkerut bingung dengan kelakuan Lynn, melipat tangannya menatap Lynn tajam.


"Aa-apa, aku tidak melakukan kesalahan ... tidak, Kenapa kamu tidur di sampingku?" Tanya Lynn melototkan matanya pada Alfred, menutupi tubuhnya dengan kedua tangan.


"Apa? Kamu pikir aku melakukan sesuatu?" Tanya Alfred balik.


"Jangan bertanya, cukup jawab pertanyaan-ku saja!" Tegas Lynn, waspada pada setiap gerakkan Alfred.


"Coba pikirkan sendiri, apa yang bakal aku lakukan?" Alfred menyangga wajah tampanya sambil tersenyum jahil.


"Tidak! Pasti gak ada yang terjadi. Kamu cuma merasa bersalah jadi ikut tidur dibawah... Yah! Itu jawabanya." Sanggah Lynn tersenyum puas akan jawabannya sendiri.


"Benarkah?" Alfred tertawa pelan mencoba menghancurkan imajinasi Lynn.


"Tidak... iya! Jawabanku yang paling tepat." Tegas Lynn tidak mau mengalah.

__ADS_1


Alfred berdiri berjalan mendekati Lynn, setiap Alfred mengambil satu langkah Lynn akan mundur dua langkah. Dinding menghentikan Lynn untuk mundur kebelakang lagi, Lynn mencoba keluar tapi sisi kirinya dihadang tangan Alfred, Lynn berputar ke kanan dan tangan Alfred juga disana.


Lynn menoleh kearah Alfred dengan bibirnya mengerucut kesal, Alfred tersenyum membuat udara disekitar menjadi dingin, Lynn merinding tanpa alasan menatap tetap ke mata gelap Alfred.


Tangan Alfred terulur menyentuh ujung rambut Lynn, Lynn menjadi salah tingkah tidak tau harus bagaimana sementara Alfred semakin dekat dan mencium rambut Lynn menatap Lynn dengan tatapan binatang buas.


"Aa-apa yang kamu lakukan? Ak-aku akan mengadukan-mu pada Mama!" Lynn gelagapan melakukan tingkah konyol.


"Pftt'


Alfred tertawa, makin mendekatkan wajahnya kearah Lynn.


"Kurasa Mama juga tidak akan berkata apapun.' Alfred menyeringai menakuti Lynn.


Lynn menutup matanya erat-erat begitu jarak wajahnya dengan wajah Alfred semakin menipis, Lynn menutupi bibirnya dengan kedua tangannya.


"Tuan Alfred!"


Lynn membuka matanya, Lynn dan Alfred saling menatap, mencoba memastikan.


"Sekertaris Lynn! Tuan Alfred! Kalian dimana?"

__ADS_1


Lynn mendorong tubuh Alfred dan berlari keluar.


__ADS_2