Aku Menikahi Tuan Es?!

Aku Menikahi Tuan Es?!
Chapter 58


__ADS_3

"He he he... Saya tidak tahu Sekretaris Lynn, saat saya mengambil buketnya dan berbalik sebentar. Baru ingat untuk bertanya namanya tapi orang itu sudah ke buru berjalan pergi!". Pak Satpam tertawa tidak bersalah sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Baiklah kalau begitu, Makasih pak." Lynn memandang buket itu dan tersenyum tipis.


Pak satpam tersenyum dan pamit kembali ke tempatnya. Lynn memperhatikan sisi kiri dan kanan mejanya, penuh akan tumpukan kertas.


Lynn mengambil nafas dalam melihat pekerjaannya menumpuk, Lynn memandang buket bunga kesukaannya. Bunga lavender, ada sepucuk surat terselip disela-sela bunga.


Lynn mengeluarkan surat itu, melirik coklat dan boneka kelinci. Di plastik luar boneka kelinci sudah bergantung surat, menaruh surat buket diatas meja. Lynn menariknya dan membacanya langsung.


......*Selamat Ulang tahun kelinci kecil-ku......


...yang ke-20♡. Maaf kali ini aku gak bisa pulang untuk merayakannya bersama denganmu. Tapi, Jangan risau, Kakak tampan-mu ini akan segera pulang ke rumah jadi nantikan saja^^....


...Jangan lupa jaga kesehatannya!...


^^^^^^Devlan Cornelius*~^^^^^^


"Tebakkan ku tidak pernah salah." Gumam Lynn tertawa ringan, mengangkat surat itu tinggi-tinggi.


Srak...


Dua lembar tiket dan satu kertas kecil jatuh ke lantai, Lynn berjongkok memungutinya. Mata Lynn melebar tidak percaya melihat dua lembar tiket yang ada di tangannya.


"Wow tiket pameran blackstar."

__ADS_1


Suara berat datang dari belakang punggung Lynn, Lynn mendongakkan kepalanya melihat siapa pemilik suara itu.


Pieter mundur menjauh, tersenyum-senyum memperhatikan Lynn. Lynn masih dalam keadaan berjongkok seketika berdiri.


"Tuan Pieter apa anda mencari Tuan Alfred, beliau ada di ruangannya sekarang." Kata Lynn menyembunyikan tiket pameran dibelakangnya.


"Pftt..."


Lynn memiringkan kepalanya bingung akan Pieter, Pieter mencoba menahan tawanya.


Tapi tidak bisa, Pieter tertawa lepas tanpa sadar kalau ada sepasang mata sudah memperhatikan tingkah Lynn dari tadi sampai kedatangan Pieter di ruangannya.


"Apa kamu begitu menyukainya? Tenang saja aku tidak akan mengambilnya." Pieter memasukkan tangannya ke dalam saku celana.


"Kalau begitu aku akan mengambil kotak coklat ini saja." Pieter mengambil coklat yang ada di atas meja dan berjalan ke ruangan Alfred.


Lynn tidak bisa menghentikan Pieter, hanya bisa merelakan coklatnya dibawa pergi. Lynn membaca surat buket.


Ekspresi wajah Lynn berubah kaku, Lynn melipat surat itu lagi, menatap bunga kesukaannya. Menghela nafas lelah, Lynn sadar dia tidak bisa melarikan diri selamanya.


"Yah... Melarikan diri tidak akan menyelesaikan masalah." Gumam Lynn menyisipkan surat itu kedalam buket bunga.


...🍒🍒🍒...


Lynn meregangkan tubuhnya, dia sudah menatap layar komputer selama berjam-jam untuk menyelesaikan tumpukkan diatas meja.

__ADS_1


Lynn tersenyum lebar, tumpukkan yang ada dimejanya sudah hilang separuh walau pun belum semua nya.


Lynn celinguk ke kiri dan ke kanan, suasana sudah sepi tidak seperti biasanya, melirik jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam.


"Pantesan sepi, udah lewat dari jam pulang kerja." Gumam Lynn membereskan barang-barangnya, tidak lupa memasukkan boneka kelincinya kedalam tas.


Lynn membawa buket bunga dan berjalan menelusuri koridor, pintu lift mulai tertutup. Lynn berdiri terlalu jauh dari lift berteriak minta tolong.


"Tolong tahan lift-nya." Teriak Lynn berlari mendekati lift.


Sebuah tangan terulur menghalangi agar pintu lift agar tidak tertutup, pintu lift otomatis kembali terbuka secara perlahan-lahan memperlihatkan orang yang ada didalamnya.


Lynn tersenyum canggung, ingin sekali dia berputar balik dari pada berhadapan dengan Alfred yang berdiri didepannya.


Alfred menatap Lynn tajam, tangannya berada dalam saku celana sehingga menciptakan suasana mencengkram.


Lynn melangkah masuk, berdiri di belakang Alfred. Lynn memeluk buket bunganya erat-erat, mengambil nafas pelan-pelan agar tidak menggangu Alfred.


"Tau begini aku tidak akan masuk!" Teriak Lynn dalam sudut hati terdalamnya.


Didalam lift sangat canggung tidak ada yang berbicara antara Alfred mau pun Lynn. Lynn bersandar di sudut meratapi harinya yang berat.


"Hei... Anak kecil kenapa kamu mengikutiku?"


Pertanyaa Alfred sontak membuat Lynn kebingungan, Lynn menatap Alfred yang lebih tinggi dari dirinya.

__ADS_1


__ADS_2