Aku Menikahi Tuan Es?!

Aku Menikahi Tuan Es?!
Chapter 31


__ADS_3

Lynn menggosok matanya, meregangkan tubuhnya kaku. Lynn tersenyum siap menghadapi hari, Lynn melirik ke samping menemukan Alfred yang sedang tertidur nyenyak.


Lynn menutup mulutnya dengan kedua tangan hampir saja dirinya berteriak, pelan-pelan turun dari kasur dan mundur beberapa langkah kebelakang. Lynn bernafas lega, mengelus dadanya berkali-kali.


"Bagaimana aku bisa tidur disana?" Gumam Lynn melirik kekasur dimana Alfred berbaring, melihat kearah sofa.


"Jarak nya tidak terlalu jauh tapi..." Bibir Lynn terdiam, dia sudah mengingat apa yang dirinya lakukan semalam.


Lynn terbangun saat tengah malam karena kedinginan, dirinya linglung bertanya-tanya kenapa dia tidur di sofa sementara ada kasur. Lynn langsung pindah ke kasur dan tertidur lelap tanpa sadar kalau ada orang disana juga.


Lynn menjerit dalam diam, dia sangat bersyukur dirinya bangun lebih dulu dari pada Alfred, Lynn memukul pipinya pelan.


"Ini semua karena selimut itu." Lynn menunjuk selimut, berbalik pergi ke kamar mandi.


Lynn sudah selesai mandi, berjalan keluar dari kamar mandi menggunakan jubah mandi. Lynn memukul keningnya, dia lupa kalau sekarang dia tidak punya pakaian sama sekali untuk dipakai.


"Bagaimana ini? Masa aku pakai ini?" Tanya Lynn memandang jubah mandi yang dikenakannya sekarang.


Ting-tong


Lynn melirik kearah pintu begitu mendengar suara bel berbunyi, mengintip dibalik kaca yang terletak ditengah-tengah.


"Krisan?" Gumam Lynn, membuka pintunya.

__ADS_1


Krisan mengedipkan matanya bingung, mengangkat paper bag yang ada ditangannya menutupi wajahnya.


"T-tuan Alfred menyuruhku membawakan ini untukmu." Krisan tergagap-gagap, memberikan paper bag dan kabur dengan cepat.


Lynn memiringkan kepalanya bingung dengan sikap Krisan, menutup pintu dan mengintip apa isi paper bag yang diberikan Krisan tadi.


Senyuman mekar dibibir Lynn, membawa paper bag itu kedalam kamar mandi. Lynn menatap. penampilannya pada cermin panjang yang ada dilemari.


"Sangat pas. Tapi bagaimana dia bisa tau ukuran bajuku?" Lynn menatap Alfred horor, tatapan itu langsung hilang begitu Alfred terbangun dari tidurnya.


Alfred berjalan melewati Lynn yang duduk dikursi, mengambil bajunya dan masuk kedalam kamar mandi.


Beberapa menit kemudian Alfred keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah, Alfred melirik Lynn yang kini berpindah kearah jendela melihat keluar.


Alfred menyisir rambutnya kebelakang, pergi keluar meninggalkan Lynn. Lynn memasang wajah cemberut, bibirnya bergerak komat-kamit mengikuti gaya bicara Alfred.


"Pagi pagi udah bikin orang kesal." Lynn mengemas pakaian yang ada dalam lemari, selesai berkemas Lynn menarik koper mau pergi.


Tatapan Lynn terhenti dikursi, dimana dia menggantungkan kemeja putih yang dipakainya tadi malam. Lynn mengambil kemeja putih itu, melirik ke kiri dan ke kanan, dengan cepat memasukkan kemeja itu kedalam koper.


"Lebih baik buat aku yang pakai." Lynn tersenyum senang, berjalan menelusuri koridor hotel, Lynn melihat Alfred tengah menunggu dirinya di dekat pintu keluar.


Lynn mempercepat langkahnya menghampiri Alfred, Alfred berjalan pergi sebelum Lynn mendekatinya, Lynn memperlambat langkah kakinya malas.

__ADS_1


"Cepatlah atau aku tinggalkan disini." Ancam Alfred, Lynn mendengus kesal memasukkan koper ke bagasi mobil.


Menutup pintu bagasi kuat-kuat hingga menimbulkan suara yang nyaring, dan duduk dikursi belakang, melipat tangannya.


"Hei, apa kamu tidak bisa duduk dikursi depan? Aku bukan supir taksi disini." Alfred menatap tajam Lynn melalui pantulan cermin depan.


Lynn pindah ke samping Alfred, menggunakan tangan kanannya menopang wajahnya memilih melihat keluar jendela. Alfred menyalakan mobilnya melaju dalam kecepatan tinggi.


"Kya.... Bisa pelan-pelan gak bawanya? Aku belum mau mati." Teriak Lynn kaget, kedua tangannya memegang ganggang mobil.


Alfred mengabaikan perkataan Lynn, makin menambah kecepatan mobil. Alfred menyetir dengan satu tangan dan tangan yang satunya menyangah wajah, tidak sadar kalau ada senyuman yang sangat tipis terukir dibibirnya.


Lynn tidak biasa dengan kecepatan ini berteriak ketakutan, menutup matanya rapat-rapat begitu Alfred mencoba menyalip dari satu mobil ke mobil yang satunya.


"Dasar Tuan Es." Teriak Lynn dalam hatinya.


Mobil Alfred berhenti didepan rumah, Lynn keluar dari mobil, duduk di rumput, kakinya lemas tidak bisa berdiri, Alfred melirik Lynn yang terduduk di rumput, berjalan masuk tanpa membantu Lynn.


"Jahat banget, aku gak bakal naik mobil ini lagi." Geram Lynn bangkit pelan-pelan, Lynn mengeluarkan ponselnya yang bergetar.


Senyuman terbit dibibir Lynn, seolah melupakan rasa takutnya Lynn berdiri dan melompat kegirangan, Alfred yang berdiri tidak jauh disana menonton semua tindakan Lynn.


"Ehem..." Berdehem pelan, menyadarkan Lynn kalau sekarang dirinya tidak sendirian, Lynn berbatuk pelan mencoba menghilangkan rasa malu, berlari masuk kedalam rumah, Alfred menatap punggung Lynn dengan wajah datar, matanya menangkap telinga Lynn merona merah.

__ADS_1


__ADS_2