
Sraahh...
Suara air yang mengalir turun membasahi tangan Lynn, Lynn menggosokkan tangannya dengan sabun agar noda hitam itu menghilang dari tangannya.
Lynn mengeringkan tangannya dengan tisu, di balik pintu dia bisa mendengarkan ada beberapa suara bisikan kecil disana.
"Aku rasa dia sudah selesai mencuci tangannya, kita hanya perlu menunggu sebentar, lalu bush... Dia akan basah kuyup!"
Lynn tidak tau siapa pemilik dari suara itu, dia hanya bisa menebak kalau itu suara wanita. Lynn berjalan mundur dua langkah lalu berjongkok, di sela pintu dia bisa melihat ada beberapa bayangan.
"Satu, dua, tiga..." Lynn mulai menghitung bayangan.
Lynn memperkirakan ada empat atau lima orang tengah berjaga di depan pintu keluar toilet, Lynn melirik ke kiri dan ke kanan mencari barang yang bisa digunakan sebagai senjata atau pun alat pertahanan diri.
"Aah..." Seru Lynn, berdiri dan mengambil langkah lebar menuju ke ruangan penyimpanan alat kebersihan.
"Kenapa dia masih belum keluar?"
"Mungkin dia tidak berani keluar!"
"Ha ha ha... Pengecut!"
Ceklek...
"Ayo siap-siap! Kamera, ok?"
"Siap."
__ADS_1
Melihat pintu yang terbuka secara perlahan-lahan wanita mencipratkan air pel dari ember merah yang ada ditangannya.
"Kyaaa...!! Apa apaan ini?!" Jerit Mereka tidak percaya kalau air pel yang mereka lempar malah menciprat diri sendiri.
Lynn sama sekali tidak basah, menurunkan kardus yang dipasangkan dengan tongkat pel, menatap keempat wanita yang basah dan satunya lagi sedang merekam video.
"Apa itu enak?" Tanya Lynn tersenyum senang.
"Dasar wanita ja**ng! Beraninya kamu!" Maki Ana tidak terima.
"Huh? Kok marah sih? Kan kamu yang mencipratkan air, bukan aku!" Lirih Lynn menatap Ana dan teman-temannya basah.
"Kamu!!" Ana menunjuk Lynn menggunakan jari telunjuk, mengertakkan giginya kesal.
Sinta mengepalkan tangannya, dia pikir hari ini dirinya akan mempermalukan Lynn dengan menyebarkan video dirinya yang terkena tumpahan air pel.
"Dasar wanita ja****ng!! Mati sana!" Teriak Sinta saking kesalnya, dia berlari menuju Lynn mau menjambak rambut Lynn.
Sinta lupa kalau lantainya lincin akibat air pel, dan sekarang dirinya malah tergelincir jatuh. Sinta berbaring telengkup dengan pantat yang terangkat tinggi, bibirnya mencium lantai yang kotor.
"Kyaa!! Sinta kamu baik-baik ajah?" Teriak Ana menarik tangan Sinta membantu Sinta untuk duduk.
Wajah Sinta yang sudah memerah karena menabrak lantai kini tambah merah karena malu.
"Astaga!! Make upmu luntur!!" Teriak Pina tanpa sadar.
Sinta menyentuh wajahnya, ada noda hitam dan bulu mata palsu ditangannya. Mascara yang dipakainya luntur, Sinta mengangkat wajahnya, ada kamera yang tengah menyoroti dirinya.
__ADS_1
Rasa malu semakin menyelimuti Sinta, dia menundukkan kepalanya bibirnya komat-kamit mengatakan sesuatu. Ana tidak mengerti apa yang dikatakan Sinta mencoba mendekati Sinta.
"Ini semua salah kalian!! Kenapa kalian gak becus? Pahal cuma urus satu wanita ja****ng! Apa susahnya coba!!" Teriak Sinta menjambak rambut Ana yang ada didekatnya.
"Kyaaaa..." Teriak Ana kesakitan, Pina dan Lita mendekat memisahkan Ana dari Sinta.
Begitu Ana lepas dari cengkraman Sinta giliran Lita pula yang ditambah Sinta.
"Kyaaa!! Apa kau sudah gila?!" Bentak Lita, menjambak balik rambut Sinta.
"Argh.. Aku tidan gila tapi kalian yang gila. Dasar budak!!" Maki Sinta menambah kekuatan pada tangannya.
"Aaahh!! Sakit!" Teriak Lita.
Lynn menelan salivanya dengan kasar, baru pertama kali ini dia melihat sesama wanita saling berkelahi satu sama lain.
Ana menangis segukkan dibelakang, Pina mencoba melepaskan Lita, tapi tangan Sinta mencoba mengapai rambut Pina.
Plak...
Pina menampar pipi Sinta, Sinta bengong sebentar menatap Pina dengan tatapan tidak percaya, Pina melihat ada kesempatan menarik Lita menjauh dari Sinta.
"Ternyata begini wajah aslimu! Aku kira kita itu sahabat ternyata kamu menganggap kami sebagai budak? Ha! Sinta asal kamu tau yah, kamu itu selalu bersikap baik didepan tapi nyatanya kamu itu busuk didalam! Lebih baik kamu menjauh dari kita! Anak baru tapi malah sok-sok-an!"
Pina menarik tangan Ana dan Lita meninggalkan Sinta yang jatuh terduduk di lantai, melihat Pina pergi wanita yang merekam video juga ikut pergi.
Sekarang hanya tinggal Lynn dan Sinta, Lynn menutup mulutnya berjalan pergi tanpa meninggalkan suara apa pun.
__ADS_1
"Ini semua salahnya! Kalau dia gak ada semuanya pasti berjalan lancar!! Tuan Alfred mencintaiku, dia pasti akan melamarku dan tidak akan menikah dengannya. Kenapa kamu sangat iri denganku?" Gumam Sinta komat-kamit.