
Arga meraih kerah baju Alfred, rahang wajah Arga sudah mengeras. Dia sudah cukup sabar untuk meladeni Alfred, padahal dirinya paling tidak suka mencari keributan.
"Kenapa? Kamu kesal? Tapi itu faktanya." Alfred tersenyum sinis, menepis tangan Arga.
"Tuan Alfred, aku sudah selesai mengurus bagian administrasinya." Krisan berjalan mendekati Alfred.
Membawa dokumen administrasi ditangan kanannya, mendengar ucapan Krisan, Alfred tersenyum dingin sambil membetulkan kerah bajunya.
"Kalau begitu selamat tinggal."
Alfred berjalan melewati Arga, Arga mengepalkan tangannya kesal. Sekarang dia paham apa tujuan Alfred memprovokasinya tadi, Alfred pasti sadar kalau dirinya akan berubah jika menyanggkut Lynn.
Krisan tidak tau apa yang terjadi, mengikuti Alfred. Melirik kebelakang dimana Arga masih berdiri tidak pindah dari posisinya.
"Pria yang malang." Gumam Krisan dalam hatinya.
Alfred berjalan menuju ruangan inap pasien, berjalan memutari beberapa tempat yang ditempati pasien. Langkah kaki Alfred berhenti dibarisan ke empat, disana ada Lynn yang duduk dikursi sambil menggenggam tangan Ayahnya.
Tap... Tap... Tap...
Suara sepatu yang bertemu dengan lantai marmer, Lynn melirik kesamping. Mata Lynn terbuka lebar menatap Alfred yang berjalan menghampirinya.
__ADS_1
"Ba-bagaimana kamu bisa ada disini?" Tanya Lynn, bangun dari bangkunya.
Alfred tidak menjawab Lynn, dia hanya terus mengambil langkah maju mendekat tempat tidur ayah Lynn. Krisan melambaikan tangannya pada Lynn, Lynn mengedipkan matanya berkali-kali.
Tadi pagi dia tidak salah mendengar kalau Krisan tidak akan masuk, lantas kenapa sekarang Krisan berdiri didepannya.
"Sekertaris Krisan, bukannya anda absen?" Tanya Lynn spontan.
Krisan mengangaruk kepalanya yang tidak gatal, dia tidak mungkin menceritakan misinya pada orang lain walaupun Lynn bukanlah orang lain.
Sekarang Krisan mengalami pusing tujuh keliling, dia harus memutar otaknya dengan keras mencari alasan yang cocok dan masuk akal untuk diberikan kepada Lynn.
"Aku per-"
Bunyi ponsel Krisan memotong pembicaraannya sendiri, Krisan mengeluarkan ponsel yang ada disaku celananya. Benar-benar Waktu yang bagus, Krisan mengangkat panggilan ponsel.
Menggunakan tangannya menutup ponselnya, menatap Lynn lalu memberikan Lynn kode kalau dirinya ada urusan dan berjalan keluar dari ruangan pasien.
Lynn ingin sekali menghentikan Krisan tapi dirinya merasa tidak enak, nanti dia hanya akan membuat pekerjaan Krisan menumpuk nantinya.
Lynn menghela napas menatap Alfred yang menatap dirinya.
__ADS_1
"Ke-kenapa kamu menatapku?" Tanya Lynn mengalihkan wajahnya.
"Kenapa kamu tidak mengangkat panggilanku?" Tanya Alfred balik, memasukkan tangannya kedalam saku celana.
"Aku?" Lynn menunjuk dirinya sendiri.
Lynn mengeluarkan ponsel dari tasnya, retakkan bertambah diponselnya. Tangan Lynn memencet tombol power, tetapi ponselnya tidak juga hidup.
Lynn menekan tombol power sampai layarnya hidup lagi. Lynn tertawa canggung, melirik Alfred yang lebih tinggi dari dirinya.
"Hehe... Sepertinya ponsel-ku mati karena terhantuk jalanan." Lynn tersenyum tipis.
Alfred menatap Lynn bentar lalu menoleh kearah lain, ada Arga yang berjalan mendekati mereka bertiga. Arga berhenti diantara Lynn dan Alfred, memisahkan mereka berdua.
"Eve, kenapa kamu terus berdiri? Kakimu terluka bahkan belum sempat aku obati tadi." Arga menyuruh Lynn duduk dikursi lagi.
"Aku bisa menerapkan obatnya sendiri." Lynn mencoba mengambil kantong plastik dari tangan Arga.
Arga mengangkat kantong plastik di tangannya tinggi-tinggi agar Lynn tidak bisa merebutnya dari tangannya. Lynn melompat-lompat mencoba meraih kantong plastik itu.
"Akh...!" Rintih Lynn berjongkok memegang kakinya.
__ADS_1
"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Arga dan Alfred secara bersamaan.