Aku Menikahi Tuan Es?!

Aku Menikahi Tuan Es?!
Chapter 7


__ADS_3

"Ma, aku rasa kamu harus pulang sekarang. Ada yang perlu aku dan Lynn bicarakan. Dan itu cukup hanya kami berdua." Alfred menggunakan tangannya menghadang Hana agar tidak mendekati Lynn.


Hana menghela napas, menggelengkan kepalanya memperhatikan sikap putranya selalu suka memerintah dan bersikap arogan pada siapa saja. Hana selalu heran kenapa masih ada orang yang mau bekerja untuk putranya sementara sifatnya seperti itu.


"Baiklah, Mama akan pulang sekarang." Hana berjalan keluar, melambaikan tangannya pada Lynn yang berdiri dibelakang Alfred.


Alfred membalikkan badannya menghadap kearah Lynn yang melambaikan tangannya pada Hana, Alfred memegang keningnya pusing. Keputusannya kali ini sangat salah, cukup membawa Lynn ke Vila akan menimbulkan orang lain salah paham akan dirinya.


"Sebenarnya apa yang mau Om bicarakan?." Tanya Lynn jengkel akan keheningan berlanjut ini.


"Apa kamu tidak bisa menghilang kata 'Om' itu. Sudah saya bilang kalau saya bukan Om kamu dan juga disini saya mau kamu membatalkan pernikahan ini langsung dengan Mama saya." Tegas Alfred, duduk disofa menyilangkan kakinya.


"Lah? Kenapa harus aku? Aku tidak perduli sama sekali dengan pernikahan ini, jadi permisi aku mau pulang." Lynn membalikkan badannya mau berjalan pergi, tapi langkah kakinya tertahan begitu mendengar Alfred membuka mulutnya.


"Kamu tidak akan bisa kabur jika Mama Hana sudah membuat keputusan, Nona Lynn." Alfred melambaikan tangannya memberikan kode pada pelayan yang berdiri dibelakang sofa.


"Apa maksudmu?" Cicit Lynn pelan mencoba mendengarankan, Lynn mengigit daging dalam bibirnya memikirkan bagaimana cara dirinya bisa terbebas dari situasi ini.

__ADS_1


"Ayo, berpikirlah wahai otak." Teriak Lynn dalam hati kecilnya, tetapi wajah Lynn datar seolah tidak terjadi apa-apa.


Lynn memainkan kedua jarinya, Lynn ingin sekali mengutuk Alfred yang duduk manis disofa menikmati kopi hitam yang baru disajikan sementara dirinya berdiri dihadapan Alfred tanpa diberikan tempat duduk seperti seorang pendosa yang melakukan kejatahan saja.


"Kalau begitu kita buat ini sebagai pernikahan kontrak." Lynn mengebrek meja membuat Alfred yang menyeruput kopinya tersedak.


Kaki Lynn mengalami nyeri otot, Lynn masih tidak dipersilahkan duduk oleh Tuan rumah tanpa basa-basi lagi mengambi tempat duduk disofa yang kosong, sibuk membongkar tas punggungnya.


Alfred melotot tidak senang, menggunakan sapu tangan mengelap bibirnya. Mata Alfred hitam pekat mengamati tangan Lynn sibuk menulis di atas selembar kertas putih yang dia keluarkan dari tas ounggungnya.


Alfred mengalihkan tatapannya ketempat lain begitu Lynn mengangkat kepalanya, Lynn tersenyum senang melihat keseriusannya dalam belajar kini dapat dimanfaatkan.


"Hei.." Jerit Lynn, Alfred menatap Lynn tajam seketika nyali Lynn yang terkumpul menciut hilang entah kemana.


"Apa? Aku tidak terima, di perjanjian ini aku mengalami banyak kerugian. Dan aku akan selalu menjadi pihak pertama nya." Jawab Alfred enteng seolah-olah itu bukan masalah besar.


"Apanya yang kerugian? Disini kita sama-sama mendapatkan keuntung, lagi pula kalau anda tidak menyukai kata-katanya anda tinggal mengubahnya, tidak perlu sampai mengoyak nya kan?" Lynn menggerutu sebal.

__ADS_1


Alfred tidak menanggapi apa yang Lynn katakan, ini sudah menjadi kebiasaannya dalam bekerja untuk merobek kertas yang diserahkan padanya walaupun cuma salah dalam satu huru saja, Alfred tidak mentoleransi kecerobohan, dia tidak akan segan-segan merobeknya langsung didepan orang tersebut. Krisan yang baru datang berlari tergopoh gopoh menghampiri Alfred.


"Krisan buatkan aku sebuah surat kontrak yang syaratnya tertulis dikertas itu, kamu hanya perlu mengubah atau menambahnya kalau ada yang kurang, selesaikan secepat mungkin." Alfred melipat kedua tangan menyanga wajahnya, memperhatikan kertas yang ia robek tadi.


Krisan menangis dalam hati kecilnya, Bos-nya benar-benar tidak bisa membiarkan dirinya istirahat sama sekali. Krisan mengambil kertas yang terbagi menjadi beberapa bagian, berjalan menjauh. Mengeluarkan laptop dan mulai mengetik.


"Aku akan membantumu." Tawar Lynn, kabur dari hadapan Alfred. Lynn merasa tidak nyaman duduk di depannya. Lynn merasa dirinya bakal ditelangelamankan dalam kegelapan yang dalam jika menatap mata hitam Alfred.


Alfred melirik Krisan dan Lynn yang saling berdiskusi satu sama lain, Alfred menarik dasi biru yang mencekik lehernya dan melemparkan kesembarang arah, melepaskan satu kancing kemeja putihnya memperlihatkan sedikit dadanya.


Membawa lengannya menutupi matanya, mata kirinya terbuka mengintip Lynn dan Krisan yang tertawa disela-sela percakapan mereka. Alfred berdecak kesal, suara mereka berdua sangat menganggu dan merusak pemandangan dimatanya.


"Krisan, jangan buang-buang waktu." Kata Alfred dingin, Krisan yang tau apa arti perkataan Alfred mengetik dengan kecepatan laju.


Lynn mengedipkan kedua mata bingung, tidak percaya kecepatan Krisan berkerja sangat efisien dan cepat belum sampai 5 menit kini Lynn sudah duduk kembali di sofa menatap surat yang tertata rapi ada diatas meja.


Lynn dan Alfred membaca seksama dan teliti surat perjanjian ini, Alfred tidak mau mengalami kerugian sedikit di masa depan dimana hal itu harus membuat dirinya bertanggung jawab nantinya.

__ADS_1


                                                                ***Isi surat***



__ADS_2