
"Apa kamu sudah gila?" Teriak Lynn.
Srak... Srak...
Sinta sama sekali tidak memperdulikan teriakan Lynn, tangannya malah mempercepat gesekan pisau.
"Aku hanya berharap satu hal, yaitu kamu menghilang dari duniaku." Kekuh Sinta.
Akar kayu mulai bergoyang tidak seimbang, Lynn tidak berani menatap keatas karena serpihan kayu berjatuhan akan mengenai matanya.
"Dasar..." Lirih Lynn mengigit bibirnya.
Akar pohon semakin menipis, Sinta menyeringai berhenti mengikis akar dan membuang pisau lipatnya kebawah.
"Akh!"
Pisau lipat itu meninggalkan goresan kecil di pipi kanan Lynn, darah merah mengalir keluar dari goresan kecil.
"Ups! Aku sengaja melakukannya. Sampai jumpa sekertaris Lynn!" Sinta tersenyum melengkung sambil melambaikan tangannya pada Lynn.
Clak...
"Apa yang kamu lakukan?"
Nada rendah dan dingin memasuki pendengaran Sinta, Sinta menelan salivanya. Dia bisa secara kasar menebak siapa yang berdiri dibelakangnya sekarang.
"Tu-tuan Alfred." Sinta tergagap-gagap.
__ADS_1
Sudut mata Alfred berkerut, dan dia tidak menyukai tindakan Sinta dimana tanganya sedang gemetaran sementara orangnya bertindak dia tidak melakukan apa pun.
"Kenapa tanganmu gemetaran begitu?"
Pertanyaan Alfred sontak membuat Sinta menyembunyikan tanganya kebelakang, bibir Sinta gemetaran tidak bisa memberikan Alfred jawaban.
"Apa yang harus aku lakukan? Aku belum mau mati. Apalagi mati seperti ini."
Hidung Lynn berkerut, menghela napas panjang berusaha menahan bola bening mengalir dikelopak matanya.
"Apa pertanyaanku itu sulit dijawab?" Gertak Alfred membuat Sinta terpojok.
"Aku hanya mer-"
"Hiks... Hiks..."
Alfred memutar bola matanya, mendengarkan dengan seksama dari mana asal suara tangisan itu, berjalan mendekati pohon besar, bola mata Alfred berputar mengamati sekeliling.
"Lalu bagaimana dengan Papa? Aku bahkan belum minta maaf... Hiks... Kak Dev, Kak Leo, Mina, Yasmin, bantu aku..."
Alfred melihat kebawah dimana Lynn tengah bergantung pada sebuah akar pohon yang hampir mau putus, Lynn yang mencoba bertahan dibawah sana sambil meratapi hidupnya terlihat menyedihkan dimatanya.
"Apa kamu perlu bantuan?" Tanya Alfred berjongkok, tersenyum simpul.
"Hikss... Sekarang aku bahkan mendengar suara Tuan Alfred.. Apa hidupku sudah tidak panjang lagi?" Lynn menangis tersedu-sedu.
Lynn menoleh keatas, Alfred tengah tersenyum sambil melambaikan tangan pada dirinya.
__ADS_1
"Tuan Alfred..." Panggil Lynn dengan nada lirih, hidung Lynn basah akan ingus.
Alfred tertawa tanpa sadar, dia tidak pernah melihat wajah Lynn seperti itu. Disaat yang bersamaan akar pohon terputus begitu saja, tubuh Lynn ikut terjatuh.
Lynn merapatkan matanya erat-erat, bersiap menahan rasa sakit yang menusuk dirinya nanti. Bukannya rasa sakit Lynn merasakan kehangatan memeluk tubuh kecilnya, mata Lynn melebar.
Alfred memeluk dirinya sangat erat, hidung Lynn terasa panas lagi dia tidak mau melibatkan Alfred.
Krak... Srak..
Tubuh Alfred mematahkan setiap ranting pohon yang tipis, dan dahan pohon mengenai salah satu kaki Alfred, daun-daun ikut berjatuhan. Goresan luka tanpa henti menghiasi tubuh Alfred dan Lynn.
"Ugh!"
Tubuh Alfred terjatuh terlebih dahulu, dan daun-daun menutupi tubuh Lynn dan Alfred.
Lynn terbaring diatas tubuh Alfred, dia bisa merasakan hentakan begitu tubuh Alfred menyentuh tanah.
Lynn bangun turun dari tubuh Alfred, menyentuh luka ditangannya. Lynn mengangkat kepalanya menatap keatas, hanya ada dedaunan memancarkan celah-celah cahaya matahari.
Lynn menoleh sekelilingnya hanya ada pohon dan dia tidak tau sekarang dimana dirinya berada, Lynn menundukkan kepalanya melirik Alfred yang terbaring.
"Tuan Alfred?" Panggil Lynn tapi tidak ada sautan dari Alfred.
Lynn membuang daun disekitar wajah Alfred, kecemasan tanpa alasan mulai menyelimuti hati Lynn, tangan Lynn mulai gemetaran menyentuh luka di pipi Alfred.
"Kamu terluka." Ucap Lynn.
__ADS_1
Deg... Deg... Deg...
Jantung Lynn memacu dengan kecepatan laju seperti dirinya baru saja selesai berlari maraton. Wajah Lynn memucat, kenangan lama mengenai kematian ibunya menyerang pikiran Lynn. Lynn menurunkan kepalanya membiarkan telinganya menyentuh dada Alfred.